Mohon tunggu...
Togar Sianturi
Togar Sianturi Mohon Tunggu...

Jesus' Disciple|Frieda's Husband|Faithlene's and Gary's Daddy|GKDI Manado Pastor|Life Coach

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Apa yang Allah Tidak Bisa Lihat?

4 Maret 2018   05:35 Diperbarui: 4 Maret 2018   18:44 514 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apa yang Allah Tidak Bisa Lihat?
galaxy-2258215-1920-5a9bdbc1cf01b420bd6a2ae3.jpg

Seseorang pernah bertanya kepada saya, selayaknya menguji, "Apa yang Allah tidak bisa lihat?" Lha, bukannya Allah kita itu omniscience, Dia kan tahu segala sesuatu, begitu jawab saya serius. Yang bersangkutan melanjutkan dengan memberikan jawaban yang menggelitik, ia berkata bahwa Allah tidak bisa memandang bulu

sambil menunjukkan ayat 11 dari nas berikut: "Penderitaan medan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu. Roma 2:9-11." Kuis lucu itu mengandung kebenaran yang sangat serius.

Bagaimana Paulus terus menerus menyejajarkan "orang Yahudi" dan "orang Yunani" memberi kita kesan bahwa memang sedang terjadi krisis dalam hubungan antara kedua kelompok itu. Ketika gereja Kristus masih didominasi oleh orang Yahudi, pertanyaan yang mengemuka adalah, "Apakah orang non Yahudi mesti menjadi Yahudi, yakni melalui sunat, sebelum menjadi murid Yesus?" 

Tetapi ketika gereja semakin berkembang di antara bangsa-bangsa non Yahudi maka pertanyaan berikutnya adalah, "Apakah seorang Yahudi mesti menanggalkan keyahudiannya bila ingin menjadi murid Yesus?" Miniatur dari sejarah itu tumbuh di Roma pada masa Paulus menuliskan surat ini. Tetapi Allah tidak pilih kasih, Dia jelas adalah Allah yang adil. Apa dan siapa yang benar akan mendapat upah kebenarannya, sedangkan orang jahat, siapapun dia, tetap akan dihukumNya.

Jadi persoalan bagi hidup saya dan semua orang yang mengikut Yesus adalah persoalan sekarang, bukan perihal kemarin hari. Ini adalah perkara apa yang kita lakukan, bukan siapa kita atau jabatan apa atau dari bangsa mana kita berasal. Orang Yahudi cenderung membanggakan bagaimana Allah memilih mereka, padahal melalui perayaan paskah mereka selalu diingatkan bahwa mereka dulu adalah budak yang tak punya masa depan, Allah yang memberi mereka masa depan indah. 

Mereka seharusnya tetap rendah hati, tetapi demikian juga dengan kita. Jabatan pelayanan atau histori keluarga atau bahkan catatan pencapaian kita tidak ada artinya, itu tidak membuat kita di posisi aman atau menjadi kebal terhadap dosa dan upahnya.

1. ALLAH ADIL, TIDAK MEMANDANG BULU

Manusia bisa mengkompromikan kesalahan sesama atau diri sendiri setelah setumpuk kebaikan yang ia perjuangkan, tetapi Allah sama sekali tidak begitu. Allah adil sehingga tak bisa Dia memiliki perhitungan seperti itu. Apapun kesalahannya, siapapun yang melakukannya, tetap dihitungNya. Namun begitu juga dengan kemuliaan dan kebesaran tetap diperhitungkan Allah secara adil. Allah tidak bersifat sentimental dalam peniaianNya.

2. JANGAN PERNAH MERASA DIRI LEBIH BAIK DARI ORANG LAIN

Itu yang Tuhan Yesus paling tentang dari kelompok pemimpin rohani orang Yahudi di masa itu. Usaha yang dilakukan oleh ahli Taurat dan orang Farisi itu untuk memenuhi perintah-perintah Taurat sangatlah luar biasa, tetapi itu menjadi tak bernilai di hadapan Yesus ketika mereka menyombongkannya.

Salah satu penghalang terbesar kita menggapai kebenaran Allah adalah usaha mendirikan kebenaran kita sendiri. Jangan merasa diri kita baik dengan kebaikan yang kita lakukan, kita hanya bisa merasa baik dalam kasih karunia Tuhan saja. Jadi apakah yang saya dapat sombongkan dalam hidup ini? Dalam hal apakah saya berhak untuk merasa diri lebih baik dari orang lain? Sama sekali tidak ada!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN