TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Miskin itu Nasib ataukah Takdir?

30 Mei 2015   07:47 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:27 10757 0 2
Miskin itu Nasib ataukah Takdir?
1432953994691311869




[caption id="attachment_421362" align="aligncenter" width="600" caption="Ilustrasi Masyarakat Tidak Mampu (Priyambodo/Kompas)"][/caption]












Miskin Itu Nasib atau Takdir?


Udara yang cukup menggigit dimusim dingin membuat saya lebih senang menikmati secangkir capucinno hangat yang disediakan istri tercinta,dari pada keluyuran keluar rumah. Sambil mereguk hangatnya minuman nikmat ini, serta merasakan aromanya yang khas, saya membolak balik album perjalanan kami tahun lalu.


Tiba tiba pandangan mata saya tertuju pada potret kemiskinan di bantaran Sungai Mekhong.Walaupun sesungguhnya ,untuk memotret kemiskinan dan kemelaratan, tidak usahpergi keluar negeri. Datangi saja kali Ciliwung, disana akan ada potret kemiskinan dalam berbagai versi. Ada yang sedang menangguk sampah ,untuk mengais rejeki . Ada juga yang baru keluar dari tempat peraduannya di kolong jembatan. Namun untuk memberikan gambaran, bahwa ternyata kemiskinan itu tidak memilih suku bangsa,warna kulit dan latar belakang agama.




[caption id="attachment_386304" align="aligncenter" width="490" caption="potret kemiskinan/tjiptadinata effendi"]

14329453851439916956
14329453851439916956
[/caption]

Kemiskinan ada dimana mana.Maka saya termotivasi untuk mengabadikan potret kemiskinan ini, melalui sebuah tulisan reportase singkat. Sudah tidak ingat lagi ,apakah saya sudah pernah menuliskannya atau belum,menurut saya tidak menjadi masalah. Karena toh tidak mengutip tulisan orang lain.




[caption id="attachment_386306" align="aligncenter" width="490" caption="belajar dari kemiskinan orang lain/tjiptadinata effendi"]

1432945770205682210
1432945770205682210
[/caption]

Miskin itu Nasib atau Takdir?


Pertanyaan sangat sederhana, namun jujur saya tidak berani menjawabnya.Biarlah orang orang yang ahli dibidang agama,yang mungkin mengetahui rahasia dari sebuah takdir. Sedangkan saya tidak mungkin mengetahuinya, karena tidak mendalami ilmu agama.


Kata orang:” your destiny is in your hand”, nasib anda ada ditangananda.Karena itu tak seorangpun dapat mengubah nasib anda,kecuali diri sendiri. Kalau falsafah hidup ini benar, maka berarti orang miskin adalah karena kesalahannya ,tidak mau berupaya mengubah nasib? Tidak tega saya mengatakan demikian.




[caption id="attachment_386307" align="aligncenter" width="448" caption="istri saya Lina, sedang jeprat jepret di tongkang/tjiptadinata effendi"]

14329459131875070098
14329459131875070098
[/caption]

Kembali Ke Topik


Umumnya orang melakukan perjalanan jauh,untuk menikmati keindahan alam, maupun keindahan dari kota yang dikunjungi. Namun justru saya dan istri, dengan ikhlas melakukan perjalanan yang tidak nyaman, untuk memotret kemiskinan di negeri orang.


Pagi itu,kami memutuskan untuk menuju ke Mekhong Island. Didepan hotel, sudah menunggu Tuk Tuk langganan kami,selama seminggu di Cambodia. Tanpa basa basi, kami langsung naik ke Tuk Tuk (sejenis bajay), setelah mendapatkan sambutan ramah dari Racchun.




[caption id="attachment_386308" align="aligncenter" width="522" caption="kemiskinan tidak pandang suku bangsa/tjiptadinata effendi"]

14329460322011706456
14329460322011706456
[/caption]

Selama lebih kurang satu setengah jam lamanya, Racchun, Pengemudi Tuk Tuk, mendera mesin hondanya, meliuk liuk dijalanan berubang, dengan meninggalkan debu yang berterbangan dimana mana. Pengemudi Tuk Tuk ini seakan sudah menjadi sopir pribadi kami selama di Kerajaan Cambodia ini, karena orangnya sopan dan meminta ongkos yang sepantasnya, maka kami memutuskan untuk tidak mengunakan tuk tuk lainnya. Tentu saja Racchun senang, karena sudah ada penumpang tetapnya. Ketika saya katakan padanya ,bahwa nama “Racchun” bila dalam pronouciation di Indonesia, akan berbunyi ”racun” artinya ” Poison”, ia ketawa lebar.




[caption id="attachment_386309" align="aligncenter" width="470" caption="foto bersama teman saya Racchun,Pengemudi TukTuk/tjiptadinata effendi"]

14329461236906565
14329461236906565
[/caption]

Walau sudah mencoba memegang tiang penyangga atap tuk tuk dengan kuat, namun tak urung sesekali, kepala masih terbentur, karena disepanjang jalan tanpa aspal ini , diperkaya dengan lubang lubang disana sini . Deru motor Honda ,yang menggerakkan roda tuk tuk ini, masih di ramaikan dengan mengepulnya debu berwarna pink ke wajah dan pakaian kami. Namun kami sudah bertekad, bahwa hari ini kami harus menapakkan kaki kami di Mehkong Island,yang berjarak tempuh sekitar satu setengah jam.


Menyeberang Sungai Mekhong


Dihampir tiga perempat perjalanan, Racchun menghentikan kendaraannya dan mengatakan bahwa kami berdua, terpaksa harus turun dan jalan kaki, karena jalan untuk mencapai ke Tongkang yang akan menghantarkan kami keseberang sangat terjal dan berbahaya. Hanya berjalan kaki beberapa menit,kami sudah menginjakkan kaki dipelataran tongkang, yang sudah hampir penuh terisi penumpang, dengan segala macam barang bawaan mereka.


Tidak sampai 10 menit, tongkang sudah merapat keseberang dan kamipun turun, melalui jalanan berbatu dan menanjak. Ada lebih kurang 50 orang yang menumpang bersama kami di tongkang tersebut. Tidak tampak seorangpun turis lainnya pada waktu itu. Menurut Racchun, memang tidak banyak turis yang mau datang kesini, Karena disamping medan yang ditempuh tidak nyaman, juga di lokasi tidak terdapat tempat peristirahatan ataupun café yang memadai.


Ditempat yang sudah tidak terlalu menanjak, kami diminta untuk naik ke Tuk tuk kembali dan mesin Honda ini, kembali meraung, memecahkan kesunyian, disepanjang jalan yang dikiri kanan masih ditumbuhi semak belukar.




[caption id="attachment_386310" align="aligncenter" width="461" caption="bukan hanya pemiliknya yang kurus,tapi sapi nya juga/tjiptadinata effendi"]

14329462311853244691
14329462311853244691
[/caption]

Berada Perkampungan Miskin


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai ketempat tujuan, yakni perkampungan nelayan. Sudah tentu tidak ada café atau kedai untuk sekedar pelepas dahaga disini, karena lokasi ini, bukanlah lokasi tujuan wisata.Kata Racchun, bercanda ” Hanya turis sinting yang maucape cape berkunjung kesini” katanya sambil ketawa. Kami tidak tersinggung dikatakan turis sinting, karena kami pahami, maksudnya hanya ingin memberi tahu, bahwa sesungguhnya tempat yang kami kunjungi ini bukanlah tempat yang baik untuk pesiar.


Kami diminta untuk membayar kontribusi untuk masuk kedalam area ini, hanya 50 cent dollar perorang. Lalu kami berjalan kaki lambat lambat, menapaki jalanan kampung, menuju ke pinggiran Sungai Mehkong.




[caption id="attachment_386311" align="aligncenter" width="428" caption="menyaksikan kemiskinan ,melahirkan kepedulian mendalam/tjiptadinata effendi"]

14329465651207145156
14329465651207145156
[/caption]

Seperti Menyaksikan Kehidupan Kami 40 Tahun Lalu


Menyaksikan gubuk gubuk yang berserakan disana, menyebabkan pikiran saya kembali melayang kepada kehidupan pribadi kami, 40 tahun yang lalu . Tinggal di gubuk, yang sama sekali tidak pantas disebut rumah, terlihat wajah wajah kusut dan sayu, kendati mereka mencoba tersenyum ramah, namun kehampaaan hidup amat jelas terbaca diraut mukanya dan tatapan mata yang kosong dan redup.


Tanpa terasa, mata saya basah, mungkin kondisi mereka ini, bercampur aduk dengan kenangan hidup pahit getir yang pernah kami jalani selama bertahun-tahun. Terbayang dipelupuk mata saya, gubuk gubuk petani garam di tanah air kita. Mereka ini beda negara dan beda bangsa,tapi nasibnya sama, melarat dan menderita.


Disudut jalan, duduk seorang ibu yang kelihatan seakan sudah berusia 60 tahun, sedang menikmati sejemput nasi yang diaduk dengan jagung. Ia menyapa si Racchun, dalam bahasa yang saya tidak mengerti, rupanya karena sudah sering kesana, Racchun sudah dikenal dilingkungan ini.


Seperti bisa menerka akan apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran saya, Racchun mengatakan, bahwa wanita itu baru berusia 40 tahun. Suaminya baru meninggal bulan lalu, karena diare dan kini ia harus berjuang menghidupi 2 orang anaknya yang masih kecil.




[caption id="attachment_386313" align="aligncenter" width="534" caption="lagi ,sebuah potret kemiskinan/tjiptadinata effendi"]

1432946812117449956
1432946812117449956
[/caption]

Rumah Rumah yang Memilukan Hati


Disana berjejeran “rumah rumah” yang membuat hati menjadi pilu, karena sesungguhnya merupakan gubuk yang sama sekali tidak layak dihuni. Apakah ini salah mereka ? Ataukah takdir yang membuat hidup mereka begini? Saya hanya bisa menggelengkan kepala, tidak tega untuk menjawabnya.


Menyaksikan penderitaan orang lain, senantiasa menumbuh kembangkan rasa kepedulian kita terhadap sesama, siapapun dia.Sebagai orang yang pernah hidup bertahun tahun dalam kemiskinan dan kemelaratan, tak jarang, saya merasa bagaikan mimpi, dapat menikmati hidup layak bersama istri tercinta.


Wollongong, 30 Mei. 2015


Tjiptadinata Effendi