Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Memetik Hikmah Dari Motivator Yang Bertumbangan

9 Desember 2022   20:13 Diperbarui: 9 Desember 2022   20:36 395
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumentasi pribadi 

Pentingnya Belajar Dari Kegagalan Orang Lain

" Jangan hanya belajar dari kesuksesan seseorang,tapi belajarlah  juga dari kegagalan orang lain,agar jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama" Kalimat yang mengingatkan kita semuanya ,agar jangan sampai terlena oleh silaunya kesuksesan yang diraih seseorang,sehingga lupa bahwa belajar dari kegagalan. Belajar dari kegagalan ,sama pentingnya  dengan belajar dari kesuksesan seseorang.

Membicarakan kejatuhan seseorang ,apalagi sampai menjadikannya semacam olok olokan,tentu bukanlah suatu perbuatan yang sangat naive. Karena kegagalan yang terjadi atas diri orang lain,siapapun  adanya,bukan tidak mungkin suatu waktu akan terjadi atas diri kita pribadi.

img20221209212441-3-639337a308a8b5734a47bef2.jpg
img20221209212441-3-639337a308a8b5734a47bef2.jpg
Dokumentasi pribadi 

Karena itu,tidaklah perlu kita menyebut nama seseorang,walaupun sesungguhnya kita semua sudah tahu,siapa siapa Motivator yang bertumbangan. Foto dan kata kata bijak yang diucapkannya ,dulu sempat mendominasi dekorasi dinding kantor,bahkan hingga ke kamar Direktur perusahaan,belakangan semuanya diturunkan dan dibuang kedalam tong sampah. Kita yang menyaksikannya,merasakan betapa menyedihkan,bila foto fofo diri kita yang dulunya disanjung sanjung,kini berakhir di tempat sampah dan berbaur dengan sobekan kertas lainnya.

 Tapi ini adalah fakta. Tidak jarang fakta itu teramat menyakitkan. Tapi karena memang sudah terjadi seperti itu,mau apa lagi kita,kalau bukannya memetik hikmah dari kejadian tersebut ?

img20221209205901-2-639332bf08a8b5266b30db22.jpg
img20221209205901-2-639332bf08a8b5266b30db22.jpg
Dokumentasi pribadi 

Kesalahan Yang Terus Terjadi Berulang Kali

Kesalahan mendasar yang sejak dulu terjadi ,ternyata terus terulang lagi dan lagi,yakni :"Pintar banget memotivasi orang lain,tentang bagaimana menata diri. Tentang family  is the first .Tentang kasih dan pengampunan dan tentang merawat kesehatan diri"

Tetapi saking terpana oleh puja puji dan standing applaus dari yang hadir,banyak motivator yang menjadi mabuk  sanjungan,sehingga lupa mengaplikasikan,apa yang diajarkan kepada orang banyak,tapi tidak diterapkan dalam kehidupan pribadi dan keluarga

"Saudara saudara.sehat itu memang bukanlah segala galanya dalam hidup ini,tapi bilamana kita sudah kehilangan kesehatan,maka apapun yang dimiiki,tidak dapat lagi dinikmati ,benar nggak saudara saudara sekalian?!" Dan bagaikan paduan suara,para hadirin menjawab:'Benaaaar!" Tapi ternyata dibelakang hari,Sang Motivator dalam usia belum mencapai angka 60 tahun,sudah tidak mampu lagi berdiri dan berbicara tertatih tatih.

Contoh lain:

Selamat malam saudara saudara ! Kalau kita mengasihi seseorang,maka kasih itu hendaknya jangan pura pura .Benar nggak Saudara saudaraku semuanya!?" Benaaar pak!" Tetapi ternyata Sang Motivator tidak mampu membuktikan kasih yang tulus itu seperti apa,karena dalam kehidupan pribadinya,tidak tercerminkan akan hal tersebut 

Tetaplah Rendah Hati 

Saat kita berada di zaman keemasan, tetaplah rendah hati. Jangan overacting .Jangan lupa, bahwa semua orang tanpa kecuali,suatu waktu harus turun dari panggung .Karena itu,bilamana kita beruntung mampu meraih impian demi impian  hidup kita,maka  kita syukuri. Jangan sampai menyebabkan kita terlena,sehingga lupa mengaplikasikan dalam kehidupan pribadi kita . Dalam kata lain adalah menyamakan kata dengan perbuatan. Akibat merasa diri paling hebat.

Bila sudah merasa bahwa waktu untuk turun sudah datang,maka alangkah eloknya dengan berbesar hati kita melangkah turun dari panggung. Walaupun sebagai konsekuensi logisnya,tidak akan ada lagi tepuk tangan dan standing applaus bagi diri kita. Tidak akan ada lagi orang antrian,untuk minta tanda tangan kita. Daripada bersikukuh tidak mau turun,sehingga dipaksa orang lain untuk turun akan terasa sangat menyakitkan .Bila tiba waktunya,maka turunlah dari panggung kehidupan secara terhormat .Hal ini jauh lebih baik ketimbang dipaksa turun .

Dulu saya jadi narasumber dalam Acara Dialogue interactive di  berbagai stasiun televisi. Tapi setelah hampir duapluh tahun berkelana sekeliling Indonesia,saya merasa sudah waktunya turun panggung.

Sejak turun panggung,tidak ada lagi tepuk tangan untuk diri saya,tapi hingga kini orang tetap menerima kunjungan kami berdua,kemanapun kami pergi.Karena apa yang kami ajarkan kepada orang banyak,kami aplikasikan dalam kehidupan pribadi.

Hanya sebuah renungan jelang akhir pekan

Tjiptadinata Effendi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun