Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Sakit Itu Tidak Enak, tapi Jadi Pelajaran Berharga

20 Mei 2021   17:05 Diperbarui: 20 Mei 2021   18:34 169 33 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sakit Itu Tidak Enak, tapi Jadi Pelajaran Berharga
Dokumentasi pribadi

Yang Mengajarkan Kita Menghargai Kesehatan 

Seperti tertulis dalam the wisdom words :" Healthy is not everything in life, but without health everything is nothing " Agaknya tanpa perlu buka kamus setiap orang sudah memahami artinya bahwa "Kesehatan memang bukanlah segala-galanya dalam hidup ini, tapi bila kita kehilangan kesehatan, maka segala sesuatu menjadi tidak berarti."

Sayang sekali alaram ini, sering kali dianggap bukan untuk kita melainkan untuk orang lain.  Baru sadar saat kita sudah merasakan srcara pribadi, betapa menderitanya menjalani hidup dalam kesakitan.

Kesalahan  inilah yang saya pernah saya lakukan  beberapa waktu yang lalu,sehingga merasakan secara pribadi rasa sakit yang amat sangat.  Karena kelalaian sendiri. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, suatu waktu saya turun tangga pesawat dan bertepatan tangga basah,karena hujan . Sambil menenteng laptop dan satu tangan lagi menangkat hand bag.saya turun tangga pesawat. Tetiba tergelincir dan tulang rusuk membentur pegangan anak tangga cukup keras.  Syukur tidak sampai jatuh dan saya terus melangkah menuruni anak tangga pesawat dengan dipegang isteri .

Malamnya Demam Tinggi  . Putri kami memanggail dokter GP yang dalam waktu kurang dari 15 menit sudah tiba dirumah . Saya disarankan untuk segera ke rumah sakit. tapi karena sudah larut malam,baru esok harinya saya diantarkan puteri kami dan isteri ke rumah sakit, Hasil rontgen ,paru paru saya terinfeksi dan lebih dari 3/4 sudah memutih tampak di hasil rontgen  Langsung di larikan  ke IGD.

Saya tidak bisa makan dan tidak ila bernafas tanpa alat bantu. Selang infus dan selang anti biotic di tangan di kaki. Hampir sebulan terbaring di rumah sakit di ruang karantinaKarena kondisi saya cukup parah,maka putera kami dan cucu cucu  khusus datang untuk membezuk saya. Ada makanan enak enak yang dibeli dari restoran,tapi jangankan makan,mau menelan air saja sangat sulit.

Setiap kali batuk,keluar darah segar dari mulut dan hidung .Rasanya sangat ingin sekali bisa tertidur ,tapi sepanjang malam batuk terus. Karena saya di karantina,karena dikuatirkan tbc,saya tinggal dalam satu kamar sendirian,tidak boleh ditemani,termasuk isteri saya. Syukur para perawat disini sangat perhatian. Rasanya setiap menit yang berlalu terasa bagaikan sudah berjam jam... Setiap kali berkunjung,isteri saya menangis  menatap wajah saya,karena sudah bukan wajah saya lagi ,mata cekung dan wajah nggak karuan 

Syukur Tuhan Masih Memperpanjang Izin Tinggal

Syukur setelah sebulan dirawat di rumah sakit dan bobot tubuh saya merosot dari 75 kg. menjadi 58 kg..akhirnya saya dinyatakan bukan tbc dan diznkan pulang dengan catatan wajib berobat jalan pada dokter Morentos ,specialist pneumonia.

Saya bersyukur kepada Tuhan,karena masih mengizinkan  saya menetap di dunia ini.  Tentu saja belahan jiwa saya yang sangat menderita menyaksikan saya terbaring sakit ,ikut bersyukur ,Sejak saat itu,hal ini menjadi pelajaran berharga bagi saya ,untuk lebih menghargai kesehatan

Semoga dengan membaca pengalaman pribadi ini, orang lain menjadi termotivasi untuk merawat kesehatan diri,sehingga tidak perlu mengalami sendiri seperti saya.  Walaupun ada peribahasa :"Experience is the best teacher," tapi dalam hal ini,kalau boleh saya sarankan,nggak perlulah dicoba rasakan  sendiri. Karena amat sangat menyakitkan

Tjiptadinata Effendi

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x