Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menjaga Hubungan Baik hingga Sama-sama Menua

10 April 2021   16:08 Diperbarui: 10 April 2021   16:32 93 14 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menjaga Hubungan Baik hingga Sama-sama Menua
ket.foto: bersama keluarga besar di Padang/dokumentasi pribadi

Adakah Diri Kita Termasuk Dalam Kriteria Ini?

Bagi seorang suami yang sekaligus merupakan Kepala Keluarga tidak jarang berada dalam posisi dan kondisi yang bukan hanya tidak nyaman, tapi merisaukan hati. Suasana tempat bekerja yang sangat tidak enak, belum lagi Boss yang cuek bebek, serta teman teman sekantor yang bersikap sinis dan seterusnya, maka setiap melangkah ke tempat pekerjaan terasa bagaikan hari hari yang sangat menyiksa bagi dirinya. 

Tetapi dengan perasaan terpaksa karena masih belum menemukan pekerjaan yang gajinya dapat memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupan anak isteri. Bila hal ini terjadi pada diri kita,maka dalam saat saat seperti ini kita sungguh sungguh butuh seseorang yang dapat diajak komunikasi agar dapat menumpahkan unek unek hati. Sehingga beban hati terasa berkurang menghimpit. Dan orang yang paling tepat untuk diajak berkomunikasi dari hati ke hati adalah pasangan hidup kita. 

Tetapi yang menghadapi masalah hidup bukan hanya terjadi pada kaum pria dan para suami, karena wanita juga tidak akan luput dari berbagai kondisi yang tidak menyenangkan hatinya. Bahkan mungkin saja wanita menghadapi lebih banyak hal hal yang menyebabkan suasana hatinya menjadi galau dan tanpa sadar menjadikan dirinya sosok yang emosional dan gampang tersinggung.  Dan bila dua orang yang sama sama berada dalam kondisi emosional yang siap meledak,mulai berkomunikasi, maka bila masing masing tidak arif dalam menyikapinya, maka "perang badar" antara suami isteri tak dapat dielakkan lagi. 

Jangan Bersikap Egois

Karena itu, jalan terbaik adalah masing masing belajar menahan diri. Jangan hanya terpaku pada perasaan sendiri, pahamilah juga bahwa pasangan hidup kita juga menghadapi berbagai masalah hidup walaupun dalam hal yang berbeda. Bila kita mampu memahami, maka setidaknya dengan menjadi pendengar yang baik satu langkah maju dalam hidup berkeluarga telah ditempuh. 

Lupakanlah kalimat klise yang sudah tidak lagi relevan yakni "Sebagai suami aku sudah bekerja keras membanting tulang siang dan malam  dan seterusnya " Kaset" rusak ini sebaiknya dimuseumkan atau bahkan sekalian dimusnahkan. Karena intinya adalah merupakan intimidasi terselubung terhadap pasangan hidup kita. "Bahwa sebagai suami,saya sudah cukup kerja keras sejak dari matahari terbit hingga tenggelam. Karena itu cobalah memahami penderitaanku sebagai seorang suami!"

Jangan lupa bahwa mengurus anak dan rumah tangga walaupun tidak digaji, tetapi merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Tugas seorang isteri adalah 24 jam sehari dan 7 kali seminggu serta 365 hari dalam setahun. Bukan hanya mengurus rumah tangga dan anak, tapi juga mengurus kebutuhan suami dan urusan dapur.

Belajar Saling Memahami

Dengan belajar untuk saling memahami dan saling mengerti maka dalam kondisi seperti inilah pasangan suami isteri mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi orang tua dalam arti kata yang sesungguhnya, Bukan hanya sekedar menikah dan punya anak. Kalau pengertian orang tua hanyalah sebatas "menikah dan punya anak" siapapun bisa. Tapi menjadi orang tua yang sesungguhnya adalah menjadi sosok yang mampu mengayomi rumah tangga berserta anak anak yang terlahir dalam pernikahan dan semua orang yang tinggal bersama dengan kita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN