Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Kisah di Balik "150 Kompasianer Menulis"

12 Maret 2021   19:00 Diperbarui: 13 Maret 2021   19:57 183 44 25 Mohon Tunggu...

Setiap Keputusan Selalu Mengandung Risiko

Pada hari pertama saya mengundang 150 Kompasianer untuk menulis bersama untuk dibukukan, setidaknya ada 3 pesan lewat japri yang masuk. 

Ketiganya menyampaikan dengan santun dan sangat hati hati mungkin khawatir saya akan tersinggung. Antara lain dari Melati (bukan nama sebenarnya) menyampaikan kekhawatirannya sebagai berikut:

"Selamat pagi Opa. Mohon maaf kalau saya lancang menyampaikan rasa kekhawatiran tentang undangan 150 Kompasianer menulis. Kalau boleh saya sarankan, mungkin sebaiknya Opa edit judulnya menjadi "50 Kompasianer Menulis" Karena tak terbayangkan akan ada 150 orang Kompasianer yang akan menulis karena bukan merupakan Kompetisi. Seandainya yang menulis hanya belasan orang, bukankah akan menjadi sesuatu yang tidak nyaman bagi Opa? Sekali lagi mohon maaf, saya khawatirkan Opa. Salam tadzim" (Melati)

Pesan hampir senada berasal dari mbak Anggrek. Isinya "Assalammualaikum Opa. Mohon maaf, kalau boleh saya sarankan, ajakan untuk 150 orang Kompasianer Menulis mungkin perlu direvisi Opa. Karena mengharapkan 150 orang akan menulis dalam waktu hanya seminggu agaknya terlalu fantastis. Ini hanya merupakan saranku saja Opa. Salam hormat, Anggrek".

Ketiga dari mbak Tulip "Selamat pagi Opa. Mungkin Opa salah ketik angka 150 Kompasianer Menulis? Karena saya sering ikut kompetisi, yang ikut paling banter 20-30 orang Kompasianer saja. Maaf ya Opa, saya bukan kepo tapi karena sudah anggap Opa sebagai kakek sendiri ya "

Terharu Mendapatkan Perhatian Begitu Besar

Membaca ketiga pesan singkat tersebut melalui WA sejujurnya saya sangat terharu Begitu besar kepedulian para sahabat Kompasianer sehingga khawatir saya kan mendapat malu bila yang menulis hanya beberapa orang saja.

Saya sangat memahami kegelisahan hati  Melati, Anggrek, dan Tulip. Dan tentunya saya mengucapkan terima kasih kepada ketika cucu-cucu kami di Kompasiana. 

Tapi entah kenapa tanpa bermaksud meremehkan pesan yang disampaikan oleh Melati, Anggrek, dan Tulip hati saya mantap untuk tetap melanjutkan rencana 150 Kompasianer Menulis. 

Bahkan saya langsung transfer DP kepada Pak Ikhwanul sehingga beliau kaget dan mengatakan "Om. belum perlu sekarang Om. kita belum mulai bergerak" .

Tapi saya jawab "Tidak masalah Pak Ikhwanul. Kini atau minggu depan kan tidak ada bedanya karena dana tersebut memang sudah dipersiapkan untuk penerbitan buku "

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x