TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Konsultan

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengapa dalam Bahaya Maut Kita Merasa Dekat kepada Tuhan?

21 April 2019   05:36 Diperbarui: 21 April 2019   07:52 598 44 22
Mengapa dalam Bahaya Maut Kita Merasa Dekat kepada Tuhan?
ilustrasi:katoliksitas.com

Renungan Diri

Mohon maaf ,saya meminjam istilah :"kita" ,padahal yang  saya tulis disini adalah pengalaman pribadi .Karena sesungguhnya saya tidak tahu,apakah orang lain juga memiliki perasaan yang sama dengan diri saya,ketika menghadapi bahaya maut .

Akan tetapi ,kalau saya tuliskan :"pengalaman saya",mungkin orang tidak akan tertarik untuk membacanya,karena setiap orang memiliki pengalaman pribadi,bahkan mungkin jauh lebih spektakuler dibandingkan pengalaman hidup saya.

Agar Dikagumi ,Saya Berani Menantang Maut

Ini cerita diwaktu usia masih muda dan merasa diri paling hebat. Pada masa itu, saya masih duduk di SMA don Bosco di kota Padang. 

Setiap tantangan tidak pernah saya tolak, Mulai dari memanjat pohon kelapa yang paling tinggi ,mendaki puncak gunung . Semuanya saya lakukan hanya untuk membuktikan bahwa saya bisa melakukan,yang orang lain tidak berani melakukannya.

Tanpa saya sadari, saya sudah memupuk rasa kesombongan diri. Apalagi ketika saya digadang gadang sebagai :"Hercules " di sekolah,karena tampil di pentas dalam berbagai acara sebagai pemain Standen.Saya berdiri paling bawah,karena semua teman teman tahu,saya satu satunya siswa yang ikut pelatihan angkat berat di Apollon Barbell Club ,sejak masih SMP. 

Dengan berdiri memasang kuda kuda, seorang siswa berpijak di paha kanan dan satu lagi di paha kiri. Kemudian di atas bahu saya berdiri lagi seorang siswa,sambil membentangkan spanduk,yang menampilkan logo sekolah.Saya harus berdiri kokoh,karena bila sedikit saja goyah,maka teman saya yang berdiri dipundak saya akan terjatuh.

Mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para penonton,membuat saya semakin lupa diri. Pada waktu itu, tim "Standen" dari SMA don Bosco,diundang untuk mempertunjukan kebolehannya di kota Bukittinggi. dan tentu saja saya tetap menjadi bintangnya.

Bahaya Maut Merobohkan Keangkuhan Diri 

Salah satu hobi saya,selain dari olah raga adalah memancing, Suatu waktu ,bertepatan dengan liburan Paskah, maka saya janji untuk memancing ikan dilaut bersama teman saya.

Tetapi  setelah menunggu lebih dari satu jam,teman saya tidak tampak batang hidungnya. Sebagai orang yang  sudah terbiasa disiplin diri,maka timbul perasaan berang dalam hati saya dan memutuskan untuk berangkat seorang diri,dengan menggunakan "Sampan" ,yakni sebuah perahu kecil,yang tanpa pengamanan.

Saya ingin membuktikan,bahwa tanpa teman,bisa melakukannya sendirian

Karena ia tidak datang pada waktu yang dijanjikan,malahan setelah saya tunggu hampir satu jam,tidak ada kabar beritanya.

Saya menjadi sangat marah. maka saya memutuskan untuk berangkat sendiri dengan sebuah perahu kecil,yang di kampung saya di sebut "sampan" Sampan ini hanya berkapasitas maksimal dua orang,

Ada 2 buah pendayung dan sama sekali tidak ada pelampung keselamatan.. Biasanya kami selalu mancing berdua ,sehingga bisa saling mengingatkan,bila ada hal hal yang dapat membahayakan. Tetapi kali ini saya ingin membuktikan pada teman saya, bahwa tanpa dia, saya sendiripun bisa.

Tiba Tiba Ombak Besar

Saya mendayung sampan dengan penuh  rasa percaya diri.Toh,bukan kali ini saya menantang bahaya. Tapi selang beberapa menit,cuaca yang tadinya cerah,tiba tiba saja berubah menjadi gelap ,

Angin bertiup dengan kencang dan gelombang mulai menghempaskan sampan yang saya kemudikan,bagaikan sepotong sabut yang terombang ambing,Saya tidak bisa menepi lagi,karena di lepas pantai,berbaris batu karang terjal ,yang bila saya merapat,pasti akan membelah sampan saya berkeping keping. Saya baru sadar bahwa diri saya dalam bahaya maut. Mau berteriak minta tolong? Apalah artinya suara saya dibandingkan gemuruhnya ombak ? Mencoba memutar arah sampan,untuk kembali ke arah Sungai Batang Arau .

Saya hanya mengandalkan feeling ,karena kabut sangat tebal. Ombak besar,menyebabkan air laut mulai menggenangi sampan dan membasahi kaki Saya coba meraup dengan tempurung kelapa yang tergeletak didalam sampan untuk membuang air yang tergenang,. Tetapi baru saja saya melepaskan genggaman saya dari pendayung, sampan mulai berputar putar.Tiba tiba saja perasaan takut membelenggu diri saya,walaupun sesungguhnya sudah berkali kali luput dari maut.Saya merasa seorang diri di laut lepas.Hati saya semakin kecut dan tubuh saya gemetaran. Disaat memahami,bahwa mustahil mengharapkan bantuan orang lain, tiba tiba saya ingat untuk berdoa."Ya Tuhan,selamatkanlah saya" Saya bukan berdoa dalam hati,tapi berteriak sekuat kuatnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2