TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Tebar Pesona Bermetamoforsis Menjadi Tebar Kebencian?

9 November 2018   18:21 Diperbarui: 9 November 2018   19:19 259 9 7
Tebar Pesona Bermetamoforsis Menjadi Tebar Kebencian?
ilustrasi : shutterstock

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Kalau dulu orang bangga mengenakan pakaian lengkap, yang pria dengan jas dan dasi serta kaum wanita mengenakan gaun panjang hingga terseret di lantai. Setelah itu masih dilengkapi dengan syal dalam beragam corak dan warna. Kalau menghadiri resepsi pernikahan maupun acara resmi, semakin hari semakin tampak perubahan yang mencolok.

Kini orang ke acara makan malam resmi, merasa cukup mengenakan kemeja batik dan kaum wanita mengenakan pakaian seminim-minimnya mengikuti mode mutakhir. Kalau dulu, ada robek sedikit saja baik pada pakaian maupun pada celana, maka orang akan sangat malu mengenakannya.

Biasanya yang memiliki cukup dana akan menjadikannya pakaian rumah dan membeli yang baru. Sedangkan yang ekonominya pas-pasan, akan membawa ke penjahit, untuk dirapikan kembali, sebelum digunakan.

Tapi kini, malah generasi muda, bangga mengenakan celana jin yang robek pada bagian lututnya, bahkan harganya jauh lebih mahal ketimbang celana jin yang utuh. Begitu juga dengan cara berpakaian sudah berubah secara total. Kalau dulu semakin tertutup semakin bangga, kini banyak generasi muda yang bangga mengenakan pakaian seminim mungkin. 

 Memasuki Era  Evolusi Terbalik?
Ada  rasa kekhawatiran yang menyelinap dalam benak, menengok semakin hari, orang menjadi semakin pemberang dan buas. Jangan-jangan kita sedang  dalam proses menjalani evolusi terbalik?

Dari manusia yang santun dan menyantuni sesamanya, kini berbalik arah, dari manusia peramah menjadi pemarah. Dari manusia yang penuh berbelas kasih, berubah menjadi manusia pemberang?

Menyaksikan kemarahan dan saling menghujat di depan mata sendiri, mendengarkan, membaca lewat mainstream maupun medsos dan  menyaksikan berbagai tayangan di televisi bahwa memang kita sudah  berubah menjadi bangsa yang pemarah. 

Kalau tempo dulu orang berdandan dan selalu tersenyum untuk menebarkan pesona diri, kini sudah berbalik arah menjadi tebar kebencian. Silakan menyaksikan lewat Youtube  atau video, betapa wajah-wajah beringas kini menjadi kebanggaan. Kata-kata sadis dan jauh dari santun, kini menjadi trending di mana-mana.

Tidak perlu berselancar di google, cukup membuka ponsel dan baca apa yang ada pada WAG? Isinya dapat dikatakan 80 persen adalah ujar kebencian terhadap kelompok yang dianggap berseberangan.

Suara-suara yang mengimbau untuk mencegah tercetusnya pertumpahan darah gara-gara tebar kebencian, seakan sebatang jarum yang jatuh ke samudra lepas. Sama sekali tidak mampu menghentikan perang "tebar kebencian" ini.

Sedikit Saja Gesekan Maka Api Kemarahan akan Menghanguskan Semuanya
Hal-hal kecil dapat menjadi pemicu keberangan berantai, bukan hanya satu atau sepuluh, tapi ribuan orang dalam hitungan detik langsung ikut marah, tanpa merasa  perlu menyimak apa yang sesungguhnya terjadi.

Satu orang yang berbuat  terus menyulut "rasa solidaritas" dan mulai mulai melakukan berbagai  tindakan anarkis dengan mengangkat slogan solidaritas bela ini dan itu, membela partai, membela kepentingan kelompok dan berakhir secara tragis.

Satu kata saja dapat membuat orang tidak bersalah kehilangan hidupnya, karena orang sudah dikuasai hawa nafsu kebencian. Cukup bila ada yang meneriakan "Orang ini menghina agama kita!", maka dalam hitungan detik, sosok orang yang mungkin sama sekali tidak tahu apa-apa, harus jadi tumbal dari kebencian yang membabi buta.

Kita menangis menyaksikan orang-orang yang ditokohkan ataupun menokohkan diri sendiri, melakukan tebar kebencian dengan dalil bela keyakinan. Kini tebar senyuman, sudah berubah wujud menjadi tebar kebengisan.

Tulisan ini hanya merupakan ungkapan rasa khawatir, karena merasakan hawa kebencian sudah merasuk hingga ke sumsum tulang. Bahkan kaum wanita yang secara kodrat adalah makluk yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, kini merasa bangga menampilkan kekerasan di depan umum.

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Satu-satunya cara adalah menahan diri untuk tidak ikut larut dan hanyut dalam suasana kebencian dan menjaga anggota keluarga kita, agar jangan sampai terkontaminasi dengan virus kebencian yang kini sedang melanda negeri kita. Walaupun hal ini tidak menjadikan kita pahlawan bangsa, tapi setidaknya kita sudah berbuat sesuatu untuk mencegah terjadinya saling bunuh antara kita.

Sepertinya Ramalan Kartini Benar Terjadi?
“Ya Tuhan, kadang-kadang saya berharap, alangkah baiknya, jika tidak pernah ada agama. Sebab, agama yang seharusnya justru mempersatukan semua manusia, sejak berabad-abad menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri.Orang-orang seibu-sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan yang Esa dan yang sama.Orang-orang yang berkasih-kasihan dengan cinta yang amat mesra, dengan sedihnya bercerai-berai. Perbedaan gereja, tempat menyeru kepada Tuhan yang sama, juga membuat dinding pembatas bagi dua hati yang berkasih-kasihan.

Betulkah agama itu berkah bagi umat manusia? Agama yang harus menjauhkan kita dari berbuat dosa, justru berapa banyaknya dosa yang diperbuat atas nama agama itu!
 (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 (dikutip dari blog forum lintas batas)

Tjiptadinata Effendi