TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

"Spirit" Olahraga Telah Berganti Arah

5 November 2017   19:56 Diperbarui: 5 November 2017   21:41 1770 5 1
"Spirit" Olahraga Telah Berganti Arah
Ilustrasi: Shutterstock

Telah Berlangsung Evolusi Spirit Olahraga

Walaupun secara pribadi saya tidak pernah menjuarai satupun dari cabang olah raga yang pernah ditekuni pada waktu masih muda,namun rasa kecintaan terhadap semangat olah raga pada masa dulu dan kini,sungguh sudah berubah total.

Dulu ,olah raga adalah hobi yang menyenangkan dan sekalgus menyehatkan. Setiap olah ragawan dibina dan dididik,agar mampu bersikap fair,yakni menang disyukuri,kalau kalah diterima dengan berlapang dada. Bertanding atau berkompetisi adalah momentum paling tepat untuk menunjukkan kebolehan diri.

Saya pernah menekuni cabang marathon dan olah raga angkat berat,namun hanya mampu menjadi juara 2 dalam kompetisi lokal.Walaupun hanya mendapatkan selembar kertas,yang namanya "Penghargaan", bagi saya pada waktu itu,adalah merupakan apresiasi dan kebanggaan luar biasa. Tidak ada uang dan tidak ada hadiah apapun,termasuk yang juara Pertama ,hanya mendapatkan Trophi yang terbuat dari tembaga campuran. Yang kalau dijual tidak cukup untuk membeli sepatu olah raga.Namun pada masa tersebut, penghargaan sudah merupakan hadiah tak ternilai.

Dulu Orang Bertanding Demi Kebanggaan

Seingat saya,baru belakangan ,pemerintah daerah sudah mulai memperhatikan nasib atlet yang telah mengharumkan nama daerah,dengan memberikan insentif, ala kadarnya. Salah seorang diantaranya adalah Nanda,asal pulau Nias,yang menjadi juara Dunia angkat berat,Dapat penghargaan dari Gubernur Sumbar pada waktu itu pak Azwar Anas,sejumlah Rp.150.000,-- Entah kemudian mendapatkan tabahan hadiah lagi,saya tidak mengikuti.

Kini Olah Raga Adalah  Profesi

Tapi belakangan ini,olah raga adalah salah satu jalan untuk mendapatkan sejumlah uang.Karena fungsi olah raga sudah berubah,Bukan lagi sekedar hobi ,yang menyenangkan ,serta menyehatkan,melainkan sebuah profesi untuk dapat bertahan hidup .Olah raga bukan lagi sebuah kenikmatan ,melainkan sebuah kewajiban dan beban moral. Olahraga sudah tidak lagi dapat diaplikasikan untuk menjadi bagian dari menekuni hobi,melainkan sudan menjadi sebuah keterpaksaan. Bahkan tidak sedikit para orang tua mendidik anak anak mereka dibidang olah raga.Bukan untuk menjadikan mereka olah ragawan sejati,melainkan mengodok mereka untuk keluar sebagai Pemenang. Karena pemenang berarti jaminan hidup.Aspek untuk menanamkan kejujuran ,sudah dilupakan dan satu satunya pesan adalah :" harus keluar sebagai Pemenang!"

Bahkan para supporter,dimana mana sudah kehilangan makna supporter sesungguhnya,karena bilamana timnya kalah,maka mereka tega melakukan apapun,termasuk merusak dan menciderai supporter lainnya. Pesan pesan moral tentang sportivitas,agaknya sudah tidak lagi ada gaungnya. Satu satunya dogma yang harus dipahami sungguh sungguh oleh olahragawan adalah :"Harus Menang!"

Tulisan ini bukan ditulis oleh seorang Pengamat Olah Raga yang berkompeten melainkan hanya merupakan sepotong ungkapan rasa hati,sebagai satu dari antara puluhan juta orang yang hobi berolah raga.

Tjiptadinata Effendi