TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Setiap Orang Berpotensi Terjerumus Post Power Syndrome

12 Agustus 2017   08:06 Diperbarui: 12 Agustus 2017   08:36 309 5 2
Setiap Orang Berpotensi Terjerumus Post Power Syndrome
Pensiun dari pekerjaan bukan berarti pensiun dari kehidupan sosial/dokumentasi pribadi

Mempersiapkan Diri Sedini Mungkin  Mencegah Terjerumus Post Power Syndrome

Banyak orang berpikir bahwa urusan :Post Power Syndrome" itu urusan para pejabat tinggi. Padahal gangguan kejiwaan yang cukup berbahaya ini tidak hanya mengincar para pejabat,melainkan semua orang bisa dirasukki.Terutama bagi mereka yang pernah merasa mengalami masa masa kejayaan dalam perjalanan hidupnya. Kita tidak perlu menegok terlalu tinggi keatas,misalnya mantan presiden,mantan menteri ataupun mantan gubernur. Kita bisa melihat sekeliling kita ,mungkin tetangga kita,yang dulunya tampil elegant dan penuh percaya diri, baik sebagai pimpinan perusahaan,pimpinan bank ataupun kepala sekolah,setelah pensiun ,tampilannya berubah total.

Bahkan ada yang mengurung diri dan menjadi sosok yang pemurung. Sahabat baik saya,seorang Kakanwil, katakan saja namanya Faisal , hanya selang beberapa bulan setelah pensiun,mengalami perubahan sikap mental secara drastis .Kalau biasanya datang bertamu kerumah kami,selalu tampil ceria,banyak bercerita dan ketawa lepas. Tetapi setelah pensiun, wajahnya kelihatan murung .Seringkali ketika baru selesai bercerita tentang masa masa ketika masih dinas,tiba tiba matanya menjadi mendung dan menangis. Ia sering mengeluh ,teman teman yang dulu sering datang bertandang kerumah dinasnya,sejak belakangan tidak pernah lagi muncul.

Pokoknya Pak Faisal merasa ,kini ia menjadi orang yang tersisihkan. Sikapnya berubah total .Dari sosok yang biasanya penuh perhatian terhadap keluarga ,kini berubah menjadi bagaikan monter bagi keluarganya. Hal hal sepele dapat memicu keributan besar. Akibatnya beberapa bulan kemudian mengalami stroke .Sempat dirawat intesif dirumah sakit,tapi seminggu kemudian meninggal

Mandor Gudang Juga Bisa Terserang Post Power Syndrome

Bukan hanya pejabat yang dapat terjebak ,tapi juga orang yang hanya bekerja sebagai Mandor Gudang. Karena sudah tidak lagi mampu memimpin buruh di gudang,maka Pak Slamet yang sudah berusia 70 tahun di pensiunkan oleh perusahaan .Kebetulan masih tetangga ,jadi kami sering berpapasan dan bertegur sapa. Tapi sejak dipensiunkan ,sikapnya menjadi berubah total. Karena biasanya digudang ,ada puluhan anak buah yang berada dibawah pengawasannya ,kini setelah pensiun tidak ada siapa siapa dirumah.Selain dari istri dan anak anaknya. 

Untuk melampiaskan kerisauan hatinya karena merasa kehilangan segala galanya,maka anak dan istrinya menjadi sasaran. istrinya datang kerumah dan minta tolong saya membujuk suaminya. Saya mencoba untuk mendekati ,tapi karena selama ini hubungan kami tidak dekat dan hanya sebatas bertetangga saja,tentu saja saya tidak berani mencampuri urusan keluarga orang lain terlalu dalam. Ketika saya datang berkunjung,pak Slamet tampak agak ceria dan kamipun mengobrol hilir mudik. Tapi saya tidak mungkin setiap hari duduk menemaninya,karena mempunyai kesibukan kerja lainnya. 3 bulan kemudian, Pak Slamet meninggal akibat stress berkepanjangan

Walaupun urusan meninggal kita anggap urusan Tuhan,tetapi tentunya kita tidak ingin hidup kita berakhir dengan cara menyedihkan,yaitu menebarkan kegelisahan dan kegalauan dalam keluarga. Menjadi beban istri dan anak cucu ,serta kemudian meninggal dalam kondisi yang memilukan. Oleh karena semua orang ,kalau diberikan umur panjang oleh Tuhan ,maka alangkah bijaknya bila sejak sedini mungkin kita mempersiapkan diri . Agar bila masanya tiba, kita bisa melenggang masuk kegelanggang masa pensiun dengan penuh rasa percaya diri. Karena memiliki keyakinan diri,bahwa diri kita tetap bisa berkarya bagi sesama,kendati di usia pensiun.

Setiap orang Berpotensi Terkena Post Power Syndrome

Post Power Syndrome bisa datang pada semua lapisan masyarakat yang memiliki pekerjaan rutin,seperti karyawan,guru.dosen dan sebagainya.Memang yang paling merasakan adalah bila seseorang pernah berada ditempat yang "terhormat" dan tiba tiba harus melepaskan semuanya. Kemudian karena berbagai faktor,segala fasilitas dan kemudahan kemudahan yang selama ini selalu setia mengikutinya,kini tiba tiba berubah. 

Kalau biasanya setiap pagi ,sudah terjadwal kegiatan sehari penuh,tiba tiba ia harus tinggal dirumah sepanjang hari.Dan tidak tahu harus kemana atau melakukan apa.? Kalau selama ini ,ada kolega atau teman tempat diskusi atau curhat,kini semuanya sudah berakhir. Hal ini secara sadar atau tidak akan berimbas kehidupan pribadinya. Orang yang tidak mempersiapkan diri sejak sedini mungkin,akan merasakan suatu kegoncangan pada tatanan kehidupannya. Ia akan menjadi labil dan emosinya tidak lagi stabil,yang pada akhirnya akan menyebabkan merosotnya daya tahan tubuh dan jatuh sakit.

Rasa kekecewaan terhadap orang orang disekitar, karena merasa tidak lagi dihormati dan disanjung . Kalau selama ini tidak pernah terpikirkan bahwa suatu waktu ia akan "turun" dari kursi kebesarannya,maka memasuki ,masa masa pensiun,menjadi sesuatu yang amat menakutkan bagi dirinya.
Kegalauan dan kegelisahan hati ,serta rasa khawatir berlebihan menghadapi masa masa yang berada diluar zona keamanan dan kenyamanannya,dapat mendistorsi jiwa seseorang yang tidak mempersiapkan diri sedari awal. Sebenarnya terlepas dari siapapun adanya diri kita, adalah wajar ,ada rasa kekuatiran ,menghadapi masa masa pensiun. Karena pensiun,bukan hanya pemasukan uang tidak lagi berjalan seperti biasa,tetapi pensiun juga berarti,ia tidak lagi memiliki "kekuasaan" untuk "memerintah" orang lain..

Langkah langkah  untuk mencegah terjadinya post power syndrome:

Mempersiapkan diri sedini mungkin.dengan menanamkan di dalam hati bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup selamanya. Bahwa suatu waktu, suka ataupun tidak, kedudukan kita akan digantikan oleh orang lain. Tanamkanlah pada diri kita ,bahwa pensiun adalah sesuatu yang wajar yang merupakan proses alami. Yang tidak dapat dihindarkan oleh siapapun.

Dengan jalan menerima bahwa hal tersebut adalah suatu kenyataan hidup,maka hati kita menjadi tenang.Jauh dari kerisauan memikirkan masa pensiun. mempersiapkan tabungan sebaik-baiknya/rencana investasi jangka panjang dengan resiko yang seminim mungkin.

Sehingga kelak bila waktunya memasuki masa pensiun, maka kita dengan berbesar hati dan percaya diri,berani melenggang masuk kegelangang arena pensiunan.Hal ini akan mengatur dan mengarahkan langkah langkah kita ,sehingga kita mampu melengkapi motto : "Muda berkarya.tua berguna".
Tulisan ini memang bukan hasil kajian ilmiah,melainkan semata mata merupakan pengalaman empiris dari saya pribadi. Karena kami sudah mempersiapkan segala sesuatu secara maksimal.maka tidak merasa gamang ketika menginjakkan kaki dimasa pensiun. 

Walaupun jauh dari sebutan kaya,tapi kami sungguh bersyukur kepada Tuhan,diusia memasukki tiga perempat abad,masih tetap bisa berkarya dibidang sosial. Antara lain,hingga saat ini saya masih dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Reiki Seluruh Indonesia dan Ketua Yayasan Waskita Reiki.

Saya pensiun sebagai Pengusaha /Eksportir,tapi tetap aktif di berbagai bidang sosial.
Semoga tulisan kecil ini ada manfaatnya.Ditulis bukan untuk pamer pencapaian,melainkan menjadi bagian dari mengaplikasikan hidup berbagi lewat tulisan

Tjiptadinata Effendi.