Mohon tunggu...
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widarmanto Mohon Tunggu... Penulis dan praktisi pendidikan

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Pendidikan terakhir S2 di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis dalam genre puisi, cerpen, artikel/esai/opini. Beberapa bukunya telah terbit. Buku puisinya "Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak" menjadi salah satu buku terbaik tk. nasional versi Hari Puisi Indonesia tahun 2016. Tinggal di Ngawi dan bisa dihubungi melalui email: cahyont@yahoo.co.id, WA 085643653271. No.Rek BCA Cabang Ngawi 7790121109, a.n.Tjahjono Widarmanto

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Puisi dan Cinta

20 September 2020   21:59 Diperbarui: 20 September 2020   22:21 31 5 0 Mohon Tunggu...

Puisi dan cinta jelas merupakan dua hal yang berbeda. Sunggguh pun demikian keduanya memiliki keterpautan yang erat dan saling berkelindan satu sama lain. Tak hanya keterpautan, namun puisi dan cinta memiliki banyak persamaan.

Persamaan yang paling mencolok bahwa keduanya melibatkan aspek emosional. Bagi penyair, saat ia menemu dan mengekploitasi estetika bahasa, saat itulah ia sesungguhnya melibatkan perasaan emosi atau emultif dalam jiwanya. Pun demikian dengan cinta.

Saat seorang manusia terlibat dalam cinta, maka sesungguhnya jiwanya sedang dipenuhi oleh sebuah perasaan emosi; sedang terlibat pada situasi emosional yang penuh emultif.

Puisi dan cinta kedua-duanya merupakan "pesona yang paling purba". Persoalan cinta merupakan persoalan kejiwaan paling emosional yang sejak awal menyertai kehadiran manusia. Saat Adam dan Hawa diciptakan maka cinta pun menjadi warisan bagi anak-anaknya, para manusia. Perpisahan, pencarian, dan perjumpaan kembali Adam dan Hawa di Jabal Rahmah merupakan kisah cinta pertama di dunia.

Bermula dari cinta Adam dan Hawa itulah, kisah-kisah cinta berlanjut dari yang tragedi seperti kisah Qabil yang membinasakan saudaranya Habil karena memperebutkan cinta Iqlimiya sang jelita; atau kisah cinta yang bahagia Yusuf dan Yulaikha. Warisan cinta pun menjadi persoalan paling abadi, paling menyentuh dan paling mempesona untuk dikisahkan.

Seperti juga cinta, puisi merupakan genre sastra yang paling purba. Puisi merupakan warisan berharga dari kebudayaan manusia sejak manusia membangun kebudayaannya. Puisilah genre susastra yang kali pertama dicipta manusia.

Puisi menjadi wahana paling tepat dalam mengekspresikan kehadiran cinta. Puisi menjadi genre yang paling tepat dalam menuliskan persoalan cinta.

Maka, kisah-kisah cinta abadi yang menjadi maha karya susastra dunia ditulis dalam bentuk puisi. Mahabaratha, Ramayana, Romeo dan Juliet, Cleoptra dan Anthony, Lancelot dan Guinevere, Odysseus dan Penelope, Layla dan Majnun, Elizabeth Bennet dan Darcy, Alim dan Anarkali, dan sebagainya merupakan sebagian contoh.

Puisi tak pernah mati. Puisi bahkan dianggap sebagai antitesis dari politik dan kekuasaan. Ungkapan bijak: "Jika politik bengkok, puisi akan meluruskannya! Jika politik kotor, puisi akan membersihkannya!" 

Ungkapan tersebut menyiratkan puisi memiliki daya suci, ada suara Tuhan, ada suara kebenaran dan malaikat penjaga di sana. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa puisi adalah parajanana, penjaga kebenaran, penjaga kemanusiaan.

Puisi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan kemanusiaan. Namun sayang sekali, kita acapkali tidak mendudukkan dan memosisikan puisi dan penyairnya pada tempat yang sepatutnya, acap kali mengabaikan perannya dalam tatanan kehidupan. Puisi hanya dipandang sebagai tempat curhat belaka, luapan emosi yang cengeng atau paling-paling sebagai teriakan-teriakan protes yang bawel dan mengganggu kemapanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x