Mohon tunggu...
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widarmanto Mohon Tunggu... Penulis dan praktisi pendidikan

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Pendidikan terakhir S2 di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis dalam genre puisi, cerpen, artikel/esai/opini. Beberapa bukunya telah terbit. Buku puisinya "Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak" menjadi salah satu buku terbaik tk. nasional versi Hari Puisi Indonesia tahun 2016. Tinggal di Ngawi dan bisa dihubungi melalui email: cahyont@yahoo.co.id, WA 085643653271. No.Rek BCA Cabang Ngawi 7790121109, a.n.Tjahjono Widarmanto

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pengelana

17 September 2020   21:26 Diperbarui: 17 September 2020   21:31 58 3 0 Mohon Tunggu...

Rosululloh ‘alaihi wasallam pernah berpetuah pada Ibnu Umar RA, “Jadilah engkau di dunia seperti seorang asing atau musafir!” Seorang pengelana, seorang pengembara, atau seorang musafir adalah penghikmat perjalanan. 

Perjalanan dalam arti luas yang tak hanya bermakna jarak dan tempat namun juga bermakna mengarungi kehidupan yang tak terbatas. Seorang pengelana selalu berjalan untuk mencapai sebuah tujuan. Tujuan yang dimaksud tak hanya berkait dengan duniawi namun juga dalam artian filosofi.

Seorang pengelana adalah orang yang tangguh dalam menghadapi setiap resiko perjalanan. Seorang pengelana dalam perjalanannya tak hanya menempuh jarak secara fisik namun juga berupaya menemu sikap berpikir sekaligus sikap spiritual. Benturan-benturan dalam perjalanan fisik dan jiwaninya akan menghasilkan sikap hidup yang tangguh serta menjadi proses belajar yang terus-menerus.

Di usia SMP, saya tersihir pada kisah-kisah perjalanan yang ditulis oleh seorang pengarang bernama Karl May. Pengarang ini berjilid-jilid menuliskan pengembaraan seorang Old Saterhand dengan sahabatnya, seorang ketua suku Indian Apache bernama Winnetou. 

Mereka berkelana di padang prairi Amerika Serikat dengan menempuh berbagai persoalan, berbagai konflik yang tak hanya menantang ketahanan fisik namun juga merangsang sikap berpikir, sikap kritis bahkan kesadaran humanitas.

Keterpesonaan serupa pun saya temui dalam petualangan Robinson Crusoe, Sinbad, Don Quisot, Ali Baba, kisah jagoan-jagoan kung fu Cina karya Kho Ping Ho hingga riwayat-riwayat para pendekar silat pada serial Api di Bukit Menoreh, Keris Naga Sasra Sabuk Intan, dan lain-lain yang ditulis oleh SH Mintardja. 

Pada awalnya ketertarikan itu muncul saat melihat sikap heroisme, kegagahan dan kesaktian para tokohnya, namun lambat laun berkembang pada kekaguman sikap kejiwaan, sikap kemanusiaan, dan sikap rohani para tokohnya.

 Selepas remaja, saya tersadar bahwa pengembaraan ternyata telah menjadi sikap spiritualitas yang berabad-abad lalu dihayati dan dilakukan oleh para manusia unggul. 

Di khazanah kebudayaan Jawa tersebutlah tokoh Panji yang selain melakukan petualangan untuk mendapatkan jalan cinta atau eros, juga untuk menempa diri mebentuk kepribadian sebelum menjadi raja di Kediri. 

Dengan kata lain, pengembaraanya adalah masa mesu diri atau penggemblengan, menyiapkan diri lahir batin. Dalam petualangannya, Sang Panji (dengan banyak nama: Panji Asmara Bangun, Panji Jayengrana, Panji Jayeng Tilam, Panji Inu Kertapati) ini tak hanya diwarnai kisah romantisme tapi juga diwarnai dengan sikap tapa ngrame, yaitu laku menolong manusia sebanyak mungkin.

Di belahan dunia lain, para nabi sebagai manusia mulia dan unggul juga melakukan pengembaraan untuk mematangkan proses religiusitas, dakwah, dan kemanusiaan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x