Mohon tunggu...
Titrin Kartika sari
Titrin Kartika sari Mohon Tunggu... Mahasiswa IPMAFA

Berusahalah Pastikan berhasil

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Jejak Moderasi Beragama dalam Perspektif Islam

5 Desember 2020   15:10 Diperbarui: 5 Desember 2020   15:13 27 0 0 Mohon Tunggu...

Berita mengenai kejadian ataupun kerusuhan terkait ras, suku, sampai kerusuhan antar agama sering kita temui baik dalam media sosial maupun dunia nyata. Kejadian yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun, karena fitrah manusia pasti menginginkan kehidupan tenang, tentram, dan juga kedamaian. Akar permasalahan tersebut tidak sedikit berasal dari perbedaan yang berujung sentimen, baik sentimen suku, kasta sosial, sampai dari masalah agama.

Perbedaan tidak bisa dihindari dari kehidupan disudut dunia manapun, ditempat manapun akan sering kita temui perbedaan. Namun, akan lebih baik apabila perbedaan tersebut mampu diolah menjadi sebuah warna menarik ditengah kehidupan bermasyarakat. Perbedaan yang ada dalam kehidupan manusia pun telah dijelaskan dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13, yang menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan yang kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan juga bersuku-suku supaya dapat saling mengenal satu dengan lainnya, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.

Hal yang mampu mengolah sebuah perbedaan menjadi warna menarik dalam kehidupan salah satunya yaitu dengan menanamkan sikap toleransi. Sebagai umat Islam, sikap toleransi telah diajarkan sejak zaman Nabi Muhammad saw. Islam adalah agama yang humanis, menganut nilai sosial tinggi dan menekankan pentingnya bertingkah laku baik serta mengasihi sesama termasuk bersikap toleran.
Di Indonesia sendiri, Islam diimplementasikan melalui cara damai serta menghargai nilai budaya tanpa adanya unsur memaksa. 

Penyebaran Islam di Indonesia juga tidak terlepas dari peran Walisongo yang menerapkan ajaran Islam dengan cara unik untuk kemudian dikemas melalui bentuk kesenian seperti gamelan, wayang kulit, dan sebagainya. Hal inilah yang membuat islam mudah diterima di Nusantara serta mampu membentuk corak Islam Nusantara. Melalui Islam Nusantara nilai toleransi juga telah diajarkan. Toleransi adalah jargon populer dalam konteks keindonesiaan

Toleransi merupakan sikap tenggang rasa atau cara menerima dan menghargai perbedaan dalam bermasyarakat diantaranya perbedaan atas perilaku, budaya, suku, dan agama yang ada. Pada masa Orde Baru pemerintah menggembar-gemborkan Tri Kerukunan Umat Beragama yang didalamnya memuat kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama serta kerukunan antar umat beragama beserta pemerintah.

Prinsip toleransi ini terbalut dalam moderasi beragama. Selain prinsip toleransi, dalam moderasi beragama juga mengedepankan kompromi serta tidak memaksakan keinginan ketika menetapkan perkara yang berbeda. Moderasi atau wasathiyah merupakan keadaan yang menjaga individu dari perbuatan ekstrem yang meliputi sikap ifrath/ berlebih-lebihan dan sikap muqashshir/ mengurang-ngurangi sesuatu yang dibatasi oleh Allah.

Moderasi dalam Islam terwujud dalam empat wilayah pembahasan diantaranya dalam persoalan aqidah, ibadah, budi pekerti dan tasyri atau pembentukan syariat. Dalam islam persoalan aqidah berada ditengah mereka yang patuh pada khufarat dan yang mengingkari hal yang berwujud metafisik. Sedangkan moderasi dalam peribadatan diimplementasikan melalui sholat lima waktu,puasa, haji, dan ibadah lainnya. Moderasi dalam persoalan budi pekerti diterapkan melalui akhlak dan tingkah laku yang baik. Sedangkan moderasi dalam pembentukan syariat yaitu mengacu asas manfaat dan mudharat, suci dan najis, dan lainnya. dalam konteks ini ditegaskan bahwa untuk memperoleh kenikmatan dunia dan akhirat maka perlu untuk menjaga keseimbangan (tawazan, wasyathiyah/moderasi) serta sikap adil dan proporsional.

Islam merupakan agama yang bersifat moderat, adil, dan telah mencapai kata mufakat. Dengan kata lain sikap moderat, tidak ekstrem kanan maupun iri adalah sifat mulia serta dianjurkan oleh agama Islam.
Secara bahasa didalam beberapa hadits, Nabi Muhammad saw sering melafadzkan serta mengucapkan dan memaknai moderasi dalam kontekas As-Sunnah. Dalam beberapa hadits tersebut Nabi Muhammad saw menyebut moderasi dengan makna keberkahan, ketinggian, terbaik dan seimbang, serta keadilan.

Moderasi terdiri dari beberapa unsur pokok diantaranya keluwesan, kasih sayang, keterbukaan, dan kejujuran. Tiang moderasi dapat ditegakkan dalam kehidupan masyarakat apabila seseorang mampu mewujudkan keempat prinsip dasar tersebut dalam kehidupannya.

VIDEO PILIHAN