Mohon tunggu...
Tito Prayitno
Tito Prayitno Mohon Tunggu... Notaris - Notaris dan PPAT

Ayah dua orang putri

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Berhentilah Menciptakan Generasi Merana

28 September 2022   10:21 Diperbarui: 28 September 2022   10:29 196
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

DALAM salah satu kesempatan mengajar, seorang pria uzur penggiat Sumber Daya Manusia, yang baru saja pensiun dan beralih karir menjadi Notaris dan PPAT, menasehati para mahasiswanya, agar di kehidupannya nanti jangan sekali-kali membebani hidup anak-anaknya.  Oleh sebab, anak-anak kita nanti memiliki hidup sendiri yang harus diperjuangkan demi menggapai mimpi dan cita-citanya.

Hingga detik ini, tak sedikit orang tua segenerasi dirinya yang berangan-angan, jika sudah pensiun akan memilih hidup di rumah anak-anaknya, sebulan di sini, bulan depan di sana, tergantung jumlah anaknya.  Serta merta, sang pria uzur merinding mendengar celoteh temannya, membayangkan kedua putrinya dan buru-buru ingin segera pulang dan memeluk kedua putrinya kendatipun tak dapat dipungkiri kedua putrinya kini telah dewasa.

Agak berbeda lagi cerita sebagian temannya yang lain, dan kebetulan memiliki lima anak.  Sebuah jumlah yang lumayan banyak dan membahayakan bagi orde kekinian, dimana segala sesuatu kegiatan harus menggunakan uang.  Kelompok ini menganggap mengasuh anak merupakan tanggung jawab dirinya yang bisa didelegasikan kepada anak-anaknya.  Jadi nanti, tatkala anak pertama sudah besar dan memiliki adik, maka tugas menjaga anak kedua menjadi tugas kakak sulungnya, demikian seterusnya, hingga masa kakak tertua mulai bekerja dan memiliki penghasilan, maka diwajibkan pula membantu adik-adiknya dalam hal keuangan.  Sungguh dahsyat, suatu ciri orang tua yang memandang anak sebagai investasi.

Kelompok orang tua, khususnya dari kalangan yang memiliki kehidupan lebih baik, tak sedikit yang mempersiapkan kehidupan anak-anaknya dengan bekal ilmu dan harta.  Namun acapkali mereka terlena dan lupa mendidik anak-anaknya untuk bertahan hidup.  Akibatnya dalam kehidupan selanjutnya, nasib anak hanya melanjutkan cara hidup orang tuanya, dan kadangkala tidak lebih baik dari orang tuanya.  Artinya, kesempatan orang tua dalam melahirkan generasi yang lebih baik dari dirinya tidak tercapai.

Di negara-negara barat, hampir sudah menjadi budaya anak dididik dengan kemandirian sejak dini.  Sejak lahir pun anak sudah dibiasakan tidur sendiri.  Selepas usia 18 tahun, anak dibiarkan hidup mandiri, keluar dari rumah dan menghidupi dirinya sendiri.  Sebagian orang tua yang mampu sama halnya seperti di Indonesia, masih membantu membiayai apartemen dan kuliah anaknya, namun bagi yang tak mampu mereka tanpa merasa bersalah membiarkan anaknya hidup mandiri, dan bahkan sang anak pun merasa gerah jika dalam usia tersebut masih tinggal bersama kedua orang tuanya.

Selanjutnya anak akan menjalani hidupnya sendiri, dan orang tuanya melanjutkan hidupnya sendiri, tak jarang kedua orang tuanya pun bercerai tatkala sang anak menjelang dewasa.  Sebuah kemandirian yang luar biasa, namun agak mengerikan.

Generasi Sandwich

Beberapa waktu terakhir ini, ramai dibicarakan di media-media cetak, media online, maupun media social tentang lahirnya generasi sandwich, generasi di mana mereka harus bekerja super keras karena di samping harus membiayai dirinya sendiri, mereka juga harus membantu biaya hidup orang tuanya yang sudah tidak produktif.  Bahkan tidak jarang juga harus membiayai adik atau kakaknya yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Generasi tersebut, tercipta semata-mata disebabkan oleh para orang tuanya yang kebetulan memiliki umur panjang namun tidak produktif, sehingga untuk membiayai hidupnya di usia yang panjang mau tidak mau harus ditanggung oleh anak-anaknya.  Sementara tak dapat dipungkiri, sang anak juga harus membiayai hidup dirinya beserta keluarga.  Jika sang anak menolak, maka hukum positif mengatakan anak harus membiayai orang tuanya yang miskin, dan negara seperti pura-pura amnesia, menganggap hal tersebut lumrah.  Tak sedikitpun berpikir, bahwa kaum lansia yang tidak produktif sesungguhnya menjadi tanggung jawab negara.       

Belum lagi hukum agama, yang dengan cekatan akan serta merta mencap anak yang lalai mengurus orang tua sebagai anak durhaka, dan otomatis menjadi calon penghuni neraka di kemudian hari.  Bahkan ada cerita yang melegenda tentang seorang ibu yang mengutuk anaknya jadi batu, konon hanya karena sang anak tak sudi mengakui dirinya sebagai ibu.  Sungguh sebuah legenda error yang dibuat oleh orang aneh yang menemukan sebongkah batu yang mirip anak sedang bersujud di antara batu yang menyerupai serakan pecahan kapal.  Oleh sebab logika manusia tak henti menceritakan, tak seorang ibu pun di dunia ini yang tega mengutuk anaknya, tak peduli sebrutal apapun sang anak memperlakukan dirinya.  Jika tak percaya, tanyakan saja kepada para ibu.

Setiap umat manusia di muka bumi ini jika sudah siap menikah, kemudian akibat pernikahan tersebut memilih untuk mempunyai anak, seyogyanya berusahalah semaksimal mungkin untuk mendidik dan mempersiapkan anak agar bisa menghidupi dirinya di kemudian hari.  Didik dan persiapkan mereka, tanpa sedikitpun terbersit pikiran untuk menumpang hidup di kemudian hari.  Jika suatu hari kita menua, kemudian sang anak menganjurkan kita untuk tinggal di panti jompo sekalipun, atau menyarankan kita untuk dirawat oleh seorang suster sekalipun, terima saja dengan lapang dada.  Toh pada saat mereka kecil juga tidak sedikit dari para orang tua yang menyerahkan perawatan anaknya kepada baby sitter, tanpa sang anak protes.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun