Mohon tunggu...
Tito Prayitno
Tito Prayitno Mohon Tunggu... Pekerja

Ayah dua orang putri

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jodoh Bukan di Tangan Tuhan

4 November 2020   13:25 Diperbarui: 4 November 2020   13:33 114 20 4 Mohon Tunggu...

Dalam sebuah angkutan umum di kota Tangerang, beberapa tahun lalu saat kendaraan umum berupa minibus yang dimodifikasi sedemikian rupa masih merajai jalan-jalan di perkotaan, seorang pria muda tanpa sengaja menginjak kaki seorang gadis, yang kebetulan juga masih muda belia.  Sontak sang gadis menjerit tiada terkira, membuat penumpang lain kaget bukan kepalang.  Dibarengi rasa malu dan bersalah tiada terhingga, sang pemuda meminta maaf sambil berpikir, bagaimana mungkin sepatu kets lembut yang dipakainya bisa membuat orang yang terinjak merasa demikian kesakitan

 Ternyata, jempol kaki sang gadis sedang bengkak dan sakit, yang biasa dikenal dengan nama "cantengan".  Cantengan terkutuk tersebutlah yang menimbulkan kesakitan yang amat sangat manakala terinjak.

Berawal dari peristiwa "terinjak" tanpa sengaja namun sangat menyakitkan tersebut, perkenalan di antara keduanya berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.  Tak dijelaskan bagaimana kehidupan mereka selama menikah, apakah sang istri masih menyimpan dendam kesumat tiada berbatas atas peristiwa tersebut atau melupakannya, yang jelas hingga kini pasangan tersebut sudah memiliki tiga anak yang terdiri dari dua pria dan satu wanita.  Ketiganya sudah menjelang dewasa dan remaja.

Kasus pertemuan tak sengaja yang terjadi puluhan tahun lalu juga dialami sebuah pasangan lain dengan ceritanya sendiri.  Dimulai manakala sang pria secara tak sengaja menemukan sebuah dompet yang tercecer di sebuah warung.  Berbekal alamat yang tertera di kartu tanda penduduk, sang pria dengan berdebar hebat mendatangi rumah si pemilik dompet yang kebetulan juga seorang gadis belia.

Kejadian tersebut terjadi sekira awal tahun sembilan puluhan di mana telpon genggam belum banyak seperti sekarang, dan telpon rumah pun hanya dimiliki segelintir orang.  Singkat cerita, perkenalan berlanjut kepada pertemanan hingga berakhir di jenjang pernikahan.  Kedua pasangan tersebut kini sudah memiliki cucu.

Masih tentang peristiwa pertemuan sekitar dua puluh delapan tahun lalu.  Seorang pemuda pekerja pabrik yang baru mulai bekerja, setelah lulus kuliah berbelanja di sebuah super market, dengan tujuan membeli pakaian.  Seperti pramuniaga toko pada umumnya, pramuniaga yang melayani sang pemuda pun manis pula adanya serta masih muda belia, sekitar usia delapan belas tahun karena baru lulus SMA.  Begitu melihat bentuk mata si gadis, sang pria yang sehari-harinya berurusan dengan sumber daya manusia paham belaka bahwa gadis di hadapannya adalah seorang gadis pintar dan cerdas.  Hanya masalah nasib sajalah sehingga ia tak melanjutkan ke perguruan tinggi. 

Sang pria jatuh cinta dengan kecerdasan tersembunyi si gadis manis, hingga lima tahun kemudian mereka menikah.  Kini setelah menjalani pernikahan yang diisi dengan penuh kerja keras, mereka sudah dikaruniai dua orang putri dewasa yang manis dan cerdas pula adanya, pasti turunan dari sang ibu.

Sang gadis, yang pada awal pernikahan memasak nasi pun menjadi bubur, kini menjelma menjadi seorang wanita karir yang memiliki kantor dan karyawan sendiri, setelah selama menikah menjalani peran sebagai pekerja, mahasiswa dan mengurus anak.  Adapun sang suami masih tetap seperti sedia kala, menjadi penggiat sumber daya manusia, dan pengkhayal.  Kini sedang menulis artikel yang dibaca sambil lalu oleh yang terhormat sidang pembaca sekalian.

Jodoh Online

Di beberapa negara maju, seperti Jepang, Korea, Singapura para orang tua kaum milenial banyak yang mengalami kecemasan, oleh sebab minat anak-anak muda sekarang untuk bersosialisasi menurun drastic.  Mereka hanya akan melakukan relasi social sepanjang hubungan yang dibangun memiliki arti penting bagi dirinya.  Di sinilah sesungguhnya "kekejaman" ibu kota yang paling hakiki, yaitu " memisahkan orang-orang yang tidak memiliki kepentingan yang sama". 

Seorang ekspatriat asal Korea Selatan merasa resah, karena anak gadis semata wayangnya yang kini sudah berusia tiga puluh tujuh tahun, belum menunjukkan tanda-tanda akan menikah.  Di Jepang, beberapa waktu lalu pernah muncul trend kaum wanita mudanya lebih memilih memelihara reptile ketimbang menjalin hubungan yang berlanjut dengan pernikahan.  Memang kebetulan di Korea dan Jepang budaya patriarkinya masih cukup kental, sehingga para wanita yang merasa sudah terdidik dan modern enggan berada di bawah tekanan suami di kemudian hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x