Mohon tunggu...
Tito Prayitno
Tito Prayitno Mohon Tunggu... Pekerja

Ayah dua orang putri

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Cegah Post Power Syndrome Sebelum Pensiun dan Menualah dengan Bahagia

16 Oktober 2020   11:47 Diperbarui: 19 Oktober 2020   23:43 732 16 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cegah Post Power Syndrome Sebelum Pensiun dan Menualah dengan Bahagia
Ilustrasi (Sumber: www.pixabay.com)

Seorang pria lanjut usia penggiat sumber daya manusia, yang dua tahun lagi akan pensiun dari dua perusahaan swasta, tempat di mana selama dua puluh delapan tahun terakhir ini dirinya mengisi hidup, sudah menyiapkan rencana berikutnya. 

Namun sayang rencana sang pria tidak direstui oleh teman sekamarnya, yang juga sudah setia menemaninya selama dua puluh tiga tahun lamanya. Akhirnya demi menjaga stabilitas pertemanan, sang pria takut istri tersebut terpaksa mengikuti kehendak si penguasa rumah beserta isi dan anak-anaknya sekaligus.

Pada suatu kesempatan di kala senggang, sang pria bertanya, mengapa sang istri demikian "tegas" dan cenderung memaksa dirinya untuk mengisi hari pensiunnya di usia lima puluh lima tahun, dengan kegiatan baru yang sejatinya diisi oleh anak-anak muda?

Dengan yakin sang istri menjawab, "Menilik dari kesibukan dan aktivitas ayah sejak dulu hingga sekarang, aku yakin dan percaya, bahwa tanpa aktivitas rutin bekerja seperti biasa, dari pagi sampai sore, ayah pasti senewen. Dan nanti ujung-ujungnya yang jadi korban pelampiasan kesenewenan ayah, pasti kita-kita juga." Sang suami kaget bukan kepalang, merasa dituduh bahwa nantinya akan jadi mahluk pensiunan perusak suasana rumah tangga sendiri. 

Akhirnya sang suami mengikuti kehendak sang istri dan menyiapkan segala sesuatunya untuk memasuki profesi baru menjadi notaris dan PPAT. Padahal sang suami juga sudah menyiapkan jalan lain berupa konsentrasi mengajar di kampusnya yang sudah dijalani selama dua puluh tahun terakhir, mengaktifkan kantor hukum yang selama ini hanya bekerja pro bono, serta aktif di kegiatan social mengajar di tempat-tempat kaum marjinal.  

Bahkan, dirinya selama hidup berkeluarga senantiasa melakukan tugas-tugas rumah tangga sendiri, dari mulai mencuci pakaian tertentu, hingga menyapu dan mengepel, demi mempersiapkan agar di hari pensiun tidak mengidap "post power syndrome". Namun justru oleh orang yang terdekatnya diduga akan mengalami sindrom pasca kekuasaan tersebut. 

Sesungguhnya, sang pria tahu belaka akibat sindrom yang kerap menimpa orang-orang yang mengalami pensiun, namun tubuh masih kuat tersebut, dan oleh sebab itulah dirinya sejak muda sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan cara mengajar sepulang kerja dan berikhtiar untuk mendapatkan izin praktek pengacara. Namun ternyata itu pun masih dianggap belum cukup efektif untuk mengisi masa pensiunnya oleh sang istri yang paham akan "vitalitas" sang suami dalam bekerja.

Di lain situasi, seorang mantan direktur di sebuah perusahaan swasta, betul-betul mengalami pukulan batin, oleh sebab dirinya belum mempersiapkan secara matang kegiatan di masa pensiun. Mungkin tadinya bermaksud ingin mengisi masa pensiun dengan bersantai-santai sepanjang hari di rumah, atau oleh sebab lain akhirnya justru mengisi masa pensiunnya dengan perilaku uring-uringan sepanjang hari. 

Awalnya begitu hari pensiun tiba, dirinya menginvestasikan sebagian uang yang dimilikinya ke dalam usaha milik temannya. Sayangnya, usaha milik sang teman gagal total, mengakibatkan uang yang dinvestasikannya musnah tanpa belas kasih. 

Hari berbilang minggu, minggu berbilang bulan, bulan berbilang tahun. Belum genap dua tahun, dirinya sudah menjadi orang yang paling menyebalkan di rumahnya. Nyaris setiap hari memancing pertengkaran dengan orang seisi rumah. 

Seturut dengan istrinya yang kebetulan berusia jauh lebih muda dan memiliki karir yang bagus di luar rumah, maka belum genap tiga tahun masa pensiun, gugatan perceraian dilayangkan oleh sang istri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN