Mohon tunggu...
Titik Nur Farikhah
Titik Nur Farikhah Mohon Tunggu... Writer

Menulis adalah bekerja untuk keabadian

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan

[Fiksi Ramadan] Menjemput Hilal...

23 Mei 2020   20:45 Diperbarui: 23 Mei 2020   20:38 24 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
[Fiksi Ramadan] Menjemput Hilal...
Ilustrasi:rencongpost.com

Hilal telah tampak! Ada banyak raut muka berseri menyaksikan penampakan hilal. Begitu pula dengan diriku. Bersyukur karena akhirnya mampu menyelesaikan puasa satu bulan penuh.Tapi tahukah di sisi hatiku yang paling dalam, aku begitu pilu melepas bulan penuh rahmat, penuh anugerah, dan penuh ampunan. 

Bagaimana tidak?Hilal yang diperdebatkan banyak orang. Hilal yang dinanti berjuta jiwa. Hilal yang membuat mall-mall diserbu tanpa mengindahkan physical distancing. Hilal yang menyebabkan membuncahnya rindu kampung halaman karena adanya larangan mudik. Hilal juga yang memisahkanku dengan Ramadan. Hilaaal... semoga ini bukan pertemuan terakhir kita.

***

"Hilal! Hendak kemana kamu? Bukankah kita harus tetap stay at home. Tidak ada tuh namanya takbir keliling meskipun besok lebaran," tegur sang ibu dari balik tirai kelabu.

"Tidak ibu, aku tidak akan pergi," jawab Hilal kalem. Aku hanya ingin mengumumkan bahwa besok kita akan merayakan hari kemenangan.

Ya benar, kita telah menang. Menang melawan hawa nafsu. Menang melawan segala godaan setan. Menang melawan hasrat hati untuk tidak keluyuran di saat pandemi. Menang memanfaatkan waktu semaksimal mungkin saat di rumah. Dan menang merebut hati agar semakin peduli dengan sesama.

Sebelumnya, Hilal pernah meramalkan bahwa besok akan bertemu lebaran. Namun bukan berarti bisa sungkem orang tua, salam-salaman dengan kerabat, saudara, handai taulan, dan peluk cium dengan sahabat-sahabat tercinta.

Kondisi masih memprihatinkan, masih butuh perhatian dan kepedulian semua penghuni semesta. Karena jika kita abai dan menganggap semua keadaan sudah membaik maka sangat mungkin kondisi yang terjadi lebih buruk dari sebelumnya.

"Bu, untuk besok aku sudah siapkan lebaran online," ujar Hilal. Biar kita bisa bertemu saudara-saudara yang lain, merasakan kebahagiaan bersama meskipun tak bisa bersua secara langsung.

Walaupun lebaran secara daring tapi aku ingin besok kita pakai kostum serba putih biar saat difoto nanti terlihat kompak.

***

Saat terdengar adzan maghrib, Hilal pun bersegera untuk berbuka demi menyempurnakan puasa Ramadan di hari terakhir. Sesaat kemudian Hilal tampak termenung dan sedikit linglung. Ia dapati di meja makan hanya segelas air teh hangat dan semangkok bakso yang menemaninya berbuka. Bukankah ada ibu? Mengapa hanya satu bukan dua porsi?

Matanya menyusup ke sudut-sudut ruang. Mencari sekelebat bayangan ibu. Berharap bertemu dengan sosok yang barusan berbincang dengannya. Namun tak jua ditemui.

"Lalu...siapa gerangan seseorang yang memanggil dan mengajakku bicara tadi? Tak ada seorang pun di sini," gumam Hilal.

Ibu! Hilal tersadar dari lamunannya, ternyata beliau telah menghadapnya sewindu lalu. Tetiba matanya mulai basah.

Hilal sungguh merindukan sosok ibu. Detik-detik berpisah dengan Ramadan mengingatkannya betapa waktu itu ia berat melepas kepergian ibu. Di saat hari terakhir Ramadan, di saat adzan maghrib berkumandang, di saat itu pula ibu pergi menghadapNya.

Semua seperti mimpi, meninggalkannya seorang diri. Hilal merasakan kenangan akan ibu begitu menusuk kalbu. Ia kini merindukan sosok ibu...

Kini...dalam sujudnya Hilal begitu pasrah. Ikhlas melepas semua yang digenggamnya. Di saat itulah malaikat datang menjemputnya untuk bertemu sang ibunda di surga.

Artikel ini dipersembahkan dalam rangka event Kompasiana Satu Ramadan Bercerita Samber 2020 Hari 27 dan Samber THR.

Yogyakarta, 23 Mei 2020

Titik Nur Farikhah

VIDEO PILIHAN