Mohon tunggu...
Tini Sastra
Tini Sastra Mohon Tunggu...

Ingin berbagi pengalaman dan pemikiran..

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Profit Oriented Vs Human Oriented

19 Juli 2010   08:14 Diperbarui: 26 Juni 2015   14:45 0 0 0 Mohon Tunggu...

Hal sepele yang membuat saya berpikir serius adalah kemasan atau bungkus plastik produk makanan, seperti mie instan, biskuit, makanan ringan, perment, dll, bahkan sampai botol palstik dan kaleng minuman. Barang-barang tersebut – yang biasa kita sebut sebagai sampah anorganik– diproduksi setiap hari dalam jumlah jutaan untuk setiap jenis produk. Selama ini yang bertanggung jawab adalah konsumen yang harus membuangnya ditempat sampah kemudian tukang sampah akan mengumpulkan dan akhirnya berakhir di tempat pembuangan sampah (TPA). Warga membayar iuran sekedar untuk memberi uang lelah kepada tukang sampah di kampung-kampung. Dengan kata lain, konsumen adalah ’tenaga kerja yang tidak di bayar’ oleh perusahaan.

Hallain yang juga harus dipikir serius adalah polusi udara karena asap kendaraan di kota-kota besar, seperti Jakarta, Medan, Semarang, Jogja, Surabaya, dll. Di sini siapa bertanggung jawab, perusahaan mobil/sepeda motor atau perusahaan bahan bakarnya? Yang jelas masyarakat luas yangtelah ’membayar tunai’ pencemaran udara dengankesehatan mereka. Jadi siapa yang berhutang pada masyarakat dan harus ’mengganti rugi’ atas gangguan kesehatan mereka?

Para perusahaan developer perumahan yang sudah melenyapkan ratusan hektar daerah resapan tanah, apa sama sekali tidak berpikir sebelumnya tentang akan adanya banjir di Jakarta? Apa perusahaan perkebunan yang telah mengkonversi hutan menjadi perkebunan sawit, kakau, karet, dan tanaman monokultur lainnya juga merasa tidak peduli dengan terjadinya banjir bandang yang melanda pedesaan di daerah hilir karena hutan sebagai penyimpan air sudah lenyap? Ketika banjir bandang terjadi maka sebenarnya semuapengusaha yang telah meraup keuntungan dari hutan telah berhutang pada masyarakat korban. Keuntungan yang mereka kantongi dibayar dengan ratusan nyawa, penderitaan di pengungsian, kehilangan harta benda dan kehilangan mata pencaharian.

Secanggih apa pun amdal yang dimiliki, tetapi bila dasar filosofi atau cara pandang para pelaku usaha hanya profit oriented maka sistem amdal tidak akan memilik fungsi sama sekali. Dia hanya artefak, benda mati. Dia baru menjadi sesuatu yang bermanfat bila ada yang ’menghidupkannya’. Untuk menghidupkan artefak tersebut, haruslah merubah dulu cara pandang para pelaku usaha. Melakukan sebuah usaha bukanlah semata-mata mencari keuntungan, tetapi harusnya ada visi misi kemanusiaan atau human oriented di sana. Dari cara pandang inilah yang akan melahirkan niat baik, niat baik yang akan merealisasikan amdal.

Idealnyapara pelaku usaha tidak hanya profit oriented, tetapi juga harus human oriented. Tidak sekedar mencari keuntungna materi, tetapi mencari kepuasan batin sebagai manusia ’berhati nurani’. Dengan begitu perusahaan yang dijalankan mempunyai semangat memberi manfaat pada masyarakat luas, bukannya memberi kerugian pada masyarakat luas. Ketika perusahaan-perusahaan makanan dan minuman tersebut memikirkan keberadaan berkubik-kubik sampah yang setiap hari menyertai produknya, berarti mereka akan memikirkan ribuan tukang sampah yang tiap hari mengepul sampah dari bak-bak sampah. Juga pada para pemulung yang tiap hari bergulat dengan tumpukan sampah. Wajar bila perusahaan-perusahaan yang sudah menghasilkan puluhan ton sampah tersebut sedikit mengalokasikan ’dana kemanusiaan’ untuk mereka yang tiap hari mengurusi sampahnya. Teknisnya bisa apa saja, misalnya perusahaan-perusahaan tersebut membayar pajak sampah kepada pemerintah yang akan digunakan untuk pengadaan petugas kebersihan lebih banyak lagi sampai ke pemukiman. Selain dana untuk manusianya, bisa juga perusahaan menyisihkan dana untuk lingkungan, misalnya membuatkan bak-bak sampah di sepanjang jalan maupun di pemukiman. Lebih ideal lagi, perusahaan-perushaan penghasil sampah tersebut bisa patungan mendirikan tempat untuk proses daur ulang sampah unorganik untuk menyelamatkan tanah dari pencemaran. Ini artinya mereka menyelamatkan bumi untuk generasi mendatang. Perusahaan daur ulang sampah ini pada gilirannya bisa membeli sampah unorganik dari para pemulung. Ini bisa menjadi salah satu cara untuk memberdayakan ekonomi mereka.

Udara yang mengandung zat-zat berbahaya seperti timbal dan carbon sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Tidak sekedar mengganggu pernafasan, tapi zat-zat berbahaya yang tersirkulasi ke seluruh tubuh akan mengakibatkan penyakit-penyakit serius lainnya seperti kanker. Saya pikir ide bagus bila perusahaan kendaraan motor, pabrik dengan cerobong asap, perusahaan bahan bakar minyak yang mempunyai andil besar dalam terjadinya polusi udara mulai memikirkan kesehatan masyarakat yang terkena dampak polusi udara. Menyisihkan sedikit keuntungan perusahaan saya pikir tidak membuat perusahaan bangkrut. Toh masyarakat telah ikut ’membayar tunai ’ dengan kesehatannyaterhadap keuntungan yang diperoleh perusahaan. Mengembalikan dana itu kepada masyarakat mungkin sudahselayaknya . Anggap saja perusahaan ’membayar utang’ kepada masyarakat. Pengembalian dana kepada masyarakat bisa bermacam-macamcara, misalnya perusahaan-perusahaan tersebut membayar pajak polusi kepada pemerintah yang pajak itu selanjutnya bisa digunakan untuk program kesehatan masyarakat; atau memberi layanan kesehatan langsung secara gratis secara rutin kepada msyarakat di kota-kota besar yang dengan tingkat polusi tinggi.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang telah melenyapkan ratusan hektar daerah resapan tanah? Minimal ketika ada bencana banjir, merekalah yang harusnya pertama kali terjun memberikan pertolongan. Untuk ke depan, harus dipikirkan bagaimana dari keuntungan perusahaan mereka mampu mencegah banjir agar tidak menerjang orang yang sama sekali tidak menikmati keuntungan tersebut. Bisa saja perusahaan-perusahaan tersebut juga membayar pajak yang bisa ditambahkan dalam anggaran pembuatan Banjir Kanal, untuk di Jakarta. Untuk di daerah seperti Sumatara, bisa saja perusahaan perkebunan membuat banjir kanal agar air bah yang datang di musim hujan tidak menimpa pedesaan setempat.

Akhirnya, bukan bermaksud sok religius, saya ingat pada sebuah ayat yang diajarkan pada waktu saya masih sekolah, yang kurang lebih mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap dampak perbuatan dosa yang bisa menimpa siapa saja, bukan hanya menimpa si pelaku dosa (QS, 8:25). Waktu itu saya belum paham makna dari ayat tersebut, saya hanya menghapal sebagai pelajaran saja. Sebagai siswa, saya belum cukup banyak referen untuk memahami filosofi atau tafsir ayat tersebut secara mendalam. Melihat realitas akhir-akhir ini, saya mulai meraba maksud dari firman Tuhan tersebut. Bila memang demikian,maka perusahaan-perusahaan penghasil sampah, polusi dan perusak keseimbangan lingkungan tersebut harus benar-benar mengubah visi misi perusahaannya dari semata-mata profit oriented juga menjadi human oriented. Waallhualam.