Mohon tunggu...
Timotius Apriyanto
Timotius Apriyanto Mohon Tunggu... OPINI | ANALISA | Kebijakan Publik | Energi | Ekonomi | Politik | Filsafat |Climate Justice and DRR

Penulis adalah praktisi Pengurangan Risiko Bencana dan Pengamat Sosial

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Perjalanan Taktik Paman Sam dari PD-1 Sampai Perang Melawan Teror Jilid 2

23 Mei 2020   15:01 Diperbarui: 23 Mei 2020   22:44 123 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perjalanan Taktik Paman Sam dari PD-1 Sampai Perang Melawan Teror Jilid 2
dokpri ilustrasi taktik paman sam


"It is time that we reject the destruction of people groups around the world for the sake of foreign policy that makes so-called defense contractors rich, and perpetuates violence, death, and the destruction of entire people groups. This is the central issue of our time -- because humanity is greater than politics." -- Benn Swan 

Khatibah Nusantara mengklaim bertanggung jawab atas ledakan bomb Thamrin tahun 2016. Terasa naif melihat eksistensi cell ISIS di Indonesia dan negara lain seperti Perancis tanpa melihat struktur agenda seting negara yang paling berkepentingan dengan tragedi itu. Amerika menggulirkan "War on Teror" jilid 2 yang akan bisa berlangsung sampai kurang lebih dua dekade, dengan target utama mereka berperang dan menang melawan ISIS.

Amerika jelas sangat berkepentingan dengan Indonesia baik dari posisi Geo-Strategisnya di Asia Pasifik, kekayaan alamnya seperti gunung emas dan timber di Papua, serta jumlah penduduknya yang besar. Para "Economic Hit Men" dikirim Amerika untuk masuk dan menguasai Sumber Daya Alam dan Ekonomi Indonesia sebagai negara target. Hal ini ditulis sendiri oleh John Perkin dalam bukunya "Confession of an Economic Hitman". John Perkin ditempatkan di Indonesia tahun 1971 untuk 'membantu' Indonesia dengan program-program pembangunan. Hal itu dilakukan karena Amerika sangat takut terhadap efek domino Komunisme di Asia sehingga Indonesia menjadi target untuk dikendalikan dengan berbagai program pembangunan menggunakan bantuan keuangan dan hutang luar negeri.

Konstruksi Terorisme saat ini sangat terkait dengan upaya memperkokoh Superioritas Amerika Serikat di dunia dalam lanskap kepentingan ekonomi dan politik. Sementara Amerika sendiri sebetulnya juga dikendalikan oleh struktur kelompok elit yang kuat sejak berabad lalu. Kita lihat dinamika peta politik dunia pasca berakhirnya perang dingin dan runtuhnya Uni Soviet memang telah berubah dan ditentukan berdasar identitas peradaban antara lain agama, keyakinan, ideologi dan budaya seperti ditulis Samuel Huntington.

Pada Perang Dunia I tahun 1914, negara-negara terpolarisasi menjadi kekuatan pusat (Jerman, Austria-Hungaria, dan Kekaisaran Ottoman) melawan kekuatan Inggris, Perancis, Rusia, Itali dan Jepang yang kemudian menjadi Negara sekutu Amerika tahun 1917. Jerman yang didukung aliansi kekuatan pusat dikalahkan oleh Amerika dan sekutunya pada perang Dunia I. Sejarah juga mencatat terjadinya Pandemi Flu Spanyol tahun 1918 selama kurang lebih setahun yang mengakibatkan korban meninggal dunia dengan estimasi jumlah melebihi 50 juta orang, telah ikut mempengaruhi kekalahan Jerman dan sekutunya pada PD I. 

Pada tahun 1933, Hitler akhirnya bisa berkuasa di Jerman sesudah melalui perjuangan berat di dalam negeri dengan partai Nazi. Pemimpin Jerman ini sangat bersemangat dan berambisi untuk membalas kekalahan mereka pada perang dunia I.

Sementara itu, pada tahun 1929-1939, Ekonomi Dunia dilanda Great Depression, yaitu krisis Ekonomi terburuk dan terlama yang salah satunya diakibatkan oleh perilaku ceroboh para executive perusahaan dengan menempatkan saham diluar bisnis inti mereka. Depresi ekonomi dunia ini sekaligus menunjukkan banyak kesalahan pada implementasi konsep kapitalisme serta pembangunan ekonomi dengan paradigma pertumbuhan ekonomi. Hal ini kemudian memunculkan satu konsep baru tentang tata kelola perusahaan yang baik ("good corporate governance"). Sementara itu Jepang juga keluar dari kelompok Negara sekutu di bawah Amerika pada kurun waktu itu.

Perang Dunia 2 tahun 1939 -- 1945 dimulai dengan invasi Jerman ke Polandia tahun 1939. Kebrutalan Jerman menginvasi Polandia ini memicu reaksi keras negara di Eropa yang bersekutu dengan Amerika Serikat dan hal ini menimbulkan Perang Dunia II. Pasca Perang Dunia II, Jerman terbelah menjadi Jerman Barat yang diserahkan kepada Amerika dan Jerman Timur diserahkan kepada Uni Sovyet. Tembok Berlin dibangun sebagai pembatas Jerman Barat dan Jerman Timur.

Sementara itu, Uni Soviet dan RRT menjadi poros Komunisme dengan gaya yang berbeda. Uni Soviet yang dipimpin oleh Joseph Stalin menganut ajaran Karl Marx dan Vladimir Lenin yang menghadirkan negara sebagai pengendali kelas kelas masyarakat dimana kelas pekerja menjadi basis utama rantai produksi untuk didistribusikan secara merata. Tiongkok menganut ajaran Lao Tse dan Ming Tse sebagai basis ideologi kerajaan dan Emporiumnya, sosialisme dan kaisar sebagai manusia setengah dewa yang memiliki otoritas kebenaran dan keadilan.
Peran Amerika Serikat menjadi sangat menonjol dalam Perang Dunia II itu, dimana Presiden Truman memberi otoritas untuk membom Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 dengan bom atom yang dijuluki "The Little Boy". Peta politik dunia waktu itu berkembang menjadi negara-negara blok barat dan blok timur. Sementara negara non blok atau "non alligned countries", baru terkonsolidasi pada tahun 1955 oleh prakarsa presiden Republik Indonesia, Bung Karno, melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung. 

Pasca PD II, masyarakat Internasional sepakat untuk menjaga perdamaian dunia. Negara Paman Sam kemudian sangat aktif memperkenalkan konsep "development". Paradigma pembangunan yang dikenalkan Amerika adalah paradigma pembangunan dengan konsep welfare state. Konsep "welfare state" yang awalnya pada abad pertengahan adalah konsep "social states", kemudian diselaraskan dan dipakai oleh beberapa negara seperti Inggris, Norwegia, Denmark dan Finlandia. Inggris bahkan sampai sekarang menggunakan sistem perserikatan negara persemakmuran ini untuk menguatkan posisi UK - Great Britain di percaturan dunia dengan didukung negara eks koloninya. Sementara Amerika juga menggunakan tiga arus utama model "Welfare State", yaitu Sosial Demokrat, Kristen Demokrat (konservatif), dan Liberal (yang mengenal dominasi pasar dalam sistemnya).

Runtuhnya Jerman Timur tahun 1990, kembali memposisikan Amerika Serikat menjadi Negara Super Power dengan Agenda Market Led Development. Konsep ini berpadu dengan konsep neoliberalisme yang secara gradual mampu meruntuhkan blok Timur dan Sosialisme Uni Soviet. Samuel Huntington, profesor ilmu Politik dari Harvard University pada era tahun 1980an menulis buku "The Clash of Civilization, Remarking of World Order" secara jelas menguraikan kebangkitan peradaban Islam akan menantang peradaban barat.

Pada era yang sama Anthony Gidden menulis buku "The Third Way" yang menjadi thesis jalan tengah sekaligus alternatif antara Kapitalisme dan Sosialisme. Namun demikian praktek Jalan Ketiga sebagai alternatif ini ternyata pada kenyataannya palsu atau tidak dijalankan semestinya. Pengikut The Third Way ini adalah George W Bush, Margareth Thatcher, dan Tony Blair. Mereka adalah sebagian para kepala negara yang paling kuat mendukung struktur Globalisasi, dan menjadikan Anthony Giddens sebagai inspirator sekaligus dewa bagi kebijakan ekonomi mereka.

Bush waktu itu masih dekat dengan Bin Laden family dalam bisnis maupun personal. Namun demikian faktanya Presiden Amerika pun juga menjadi boneka di negara sendiri. Mereka harus tunduk dibawah National Security Agency (NSA) yang sangat powerfull. NSA bisa memberikan "directive order" kepada Central Inteligent Agency (CIA) untuk melakukan operasi rahasia di seluruh dunia. John F Kennedy ditembak oleh sniper yang diprintah oleh faksi dalam CIA karena pecah terfragmentasi terkait policy Kennedy untuk mengakhiri perang Vietnam secara damai dan bermartabat. Artinya dalam sejarah pergolakan politik Amerika, mereka sendiri tega melakukan "asasination" bahkan  terhadap presiden mereka.

NSA bisa memberikan "clasified notes" kepada Presiden Amerika sebagai dasar untuk memerintahkan USAF, Navy, dan Army berperang.

NSA, CIA dan militer dikendalikan oleh elite group dari oknum Jenderal militer, oknum Konglomerat, dan oknum Jewish di negeri Paman Sam. Perang Irak adalah contoh konstruksi kepentingan Amerika untuk memperteguh agenda market expansion mereka dengan cara menciptakan musuh bersama yaitu "dictatorship dan Islam". 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN