Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Lagi-lagi, PDIP Bikin Gol Bunuh Diri

9 September 2020   15:03 Diperbarui: 3 Desember 2020   16:06 498 32 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lagi-lagi, PDIP Bikin Gol Bunuh Diri
PDIP (Kompas.com)

Masalah pernyataan Puan Maharani belum mereda.Tetapi PDIP akan kembali hadapi serangan publik, setidaknya warganet, terutama penguna twitter yang terkenal nyinyir dan kata-katanya nyelekit.

Yang bikin gara-gara kali ini adalah Rahmad Handoyo, politisi PDIP anggota komisi IX DPR. Diberitakan sejumlah media, Tuan Handoyo menyampaikan keraguannya terhadap data 100 dokter meninggal selama masa pandemi Covid-19.

"Saya menyayangkan IDI itu merilis 100 dokter kita yang meninggal. Sedangkan saya dapat data dari pemerintah, dari BPPSDM (Kemenkes) itu, hanya 32 yang meninggal (akibat) Covid-19 ini." [Alinea.id, 9/9/2020]

Sejumlah warga mengomentari pernyataan Tuan Handoyo sebagai tidak berperi kemanusian. Itu terutama karena ia mengatakan 'hanya' untuk jumlah dokter meninggal.

Warganet benar. Entah 32 atau 100, angka itu merupakan jumlah korban jiwa, anak bangsa yang berjibaku merawat pasien Covid-19. Orang mungkin bisa memaklumi politisi yang mengatakan, "Ah, Cuma 50 ribu kok, pemilih yang saya kibuli." Pemakluman itu tidak berlaku pada angka korban jiwa.

Persoalannya bukan akurasi angka. Persoalannya pada makna di balik angka-angka tersebut. Entah 32 atau 100, banyaknya tenaga kesehatan yang meninggal merupakan sinyal dari sejumlah kemungkinan problem di baliknya. Pertama, kelengkapan alat pelindung bagi tenaga kesehatan. Kedua, beban kerja berlebihan karena gelombang pasien yang terus membesar.

Saya kira problem APD adalah masalah di masa-masa awal pandemi merebak. Saat ini yang jadi problem adalah jumlah pasien Covid-19 yang terus membengkak, berhadapan dengan jumlah tenaga kesehatan yang terus berkurang, baik karena harus dirawat setelah terjangkit Covid, pun karena seperti 100 orang dokter versi data IDI, berkalang tanah sebagai kusuma bangsa. Sejenak, baiklah kita heningkan cipta mengenang jasa mereka.

Laju Pertambahan Kasus, Kapasitas Rumah Sakit, dan Cluster Kampanye Pilkada.

Pada 8 September kemarin, IDI kembali mengingatkan bahaya lonjakan kasus Covid-19 bagi keberlangsungan penanganan di hilir (rumah sakit). Dalam pengamatan IDI, 20 persen kasus Covid-19 di Indonesia tergolong berat dan karenanya harus dirawat di rumah sakit. Jika laju penambahan kasus baru konstan saja (tak perlu naik), proporsi 20 persen jadi beban signifikan bagi rumah sakit.[CNNIndonesia.com]

Senin (7/9/2020) jumlah kasus Covid terkonfirmasi versi data pemerintah sudah mencapai 196.189. Dalam sehari terjadi 2.880 kasus baru. Jika gunakan data IDI, 20% kasus tergolong berat maka pada Senin lalu ada 576 pasien baru yang harus dirawat di RS.

Jika kita asumsikan laju pertumbuhan kasus baru konstan (percepatan nol), berbasis acuan data 7 September, laju pertumbuhan kasus adalah 1,48 persen. Dengan asumsi dan data ini, pada pekan kedua Oktober nanti setiap hari akan ada 1.000 pasien baru yang butuh perawatan di rumah sakit (dari total 5.000an kasus baru harian), menjadi 1.500 pasien baru butuh perawatan RS pada pertengahan Oktober, dan terus naik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x