Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Petani - Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Anjay! PNS Bersuami Banyak Kini Jadi Tren?

1 September 2020   12:00 Diperbarui: 2 September 2020   10:18 762 42 20
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Poliandri, ilustrasi [independent.co.uk]

"Sekarang yang menjadi tren baru adalah ASN wanita yang punya suami lebih dari satu. Ini fenomena baru, saya banyak memutuskan perkara ini," -- MenPAN RB Tjahjo Kumulo, 28/82020

Pernyataan Menteri yang mengurusi PNS itu dikutip Antaranews, Jumat (28/8/2020) dan dikutip lagi oleh Kompas.com. Tentu saja pernyataan itu bikin kaget sebab bukan lazimnya poliandri terjadi di negeri poligini.

Meskipun kaget, saya tidak akan memperkarakan hal ini. Saya khawatir jika mempersoalkan ini, para aktivis perempuan akan marah-marah.

"Poligini ditolerir. Mengapa poliandri tidak?" Mungkin begitu teriak protes mereka.

Beralasan jika mereka memandang poliandri tidak perlu berlebihan dipersoalkan selama PNS masih diperbolehkan poligami.

Orang sering beralasan poligini diperbolehkan selama si lelaki mampu menafkahi istri-istrinya. Nah, semenjak era kapitalisme, perempuan sudah pula terseret keluar dari dapur, sumur, kasur, masuk ke dunia kerja berupah. Artinya urusan siapa menafkahi siapa sudah jadi urusan bolak-balik. Ada rumah tangga yang istri berpenghasilan lebih besar dari suami.

Bukankah itu berarti si istri boleh pula beralasan, selama penghasilannya cukup untuk menafkahi suami-suami, ia sah-sah saja melakukan poliandri?

Jadi, lebih baik saya main aman saja, memilih mempersoalkan diksi tren baru yang diucapkan Menteri Tjahjo dan yang dikutip dengan tanpa bersalah oleh Kompas.com atau media-media lainnya.

Ada dua alasan Tjahjo salah menggunakan istilah tren baru.

Yang pertama, KBBI mendefinikan tren sebagai gaya mutakhir. Mutakhir itu sendiri, menurut KBBI berarti "terakhir; terbaru; modern."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan