Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Penanganan Skandal Pinangki di Kejagung Membakar Kepala Saya

25 Agustus 2020   10:42 Diperbarui: 25 Agustus 2020   13:52 1486 49 15 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penanganan Skandal Pinangki di Kejagung Membakar Kepala Saya
Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin (kiri) dan Jaksa Pinangki (kanan) [Tribunnews.com]

Gedung Kejaksaan Agung terbakar, termasuk ruang kerja Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dan ruang kerja Jaksa Pinangki, merupakan berita panas. Kepala saya juga serasa terbakar. Bukan karena gedung Kejagung melainkan karena kesulitan memahami cara pikir hukum formil dalam penanganan kasus skandal Pinangki-Djoko Tjandra.

Yang namanya gedung, apapun itu, tidak lepas dari risiko terbakar. Kebakaran selalu ada penyebabnya. Tak ada asap tanpa api; tak ada api tanpa penyulut.

Penyulut api bisa macam-macam. Seringkali absen keterlibatan manusia. Misalnya, kabel listrik yang terkelupas selaput isolatornya oleh gigitan tikus, letterlijk

Kalau kabel positif dan negatif sama-sama telanjang oleh luka gigitan itu, persentuhan keduanya menghasilkan hubungan singkat yang sering disertai percik api. Percik bisa berubah jadi kobar jika bunga-bunga api hinggap di bahan mudah tersulut. Tumpukan kertas misalnya.

Tidak jarang pula penyebab kebakaran melibatkan aktor manusia. Karena itu beralasan jika ada yang menduga bahwa kebakaran di Kejagung  andil tikus-tikus metaforik. Sebagai lembaga yang menangani kasus-kasus mega korupsi dan yang sejumlah pejabatnya pernah bersekongkol -- juga sedang diduga bersekongkol---dengan koruptor, selalu tersedia modus bagi para terduga koruptor di luar sana dan kolaboratornya di dalam sana untuk membakar gedung Kejaksaan.

Dugaan keterlibatan tikus metaforik adalah praksangka, a priori. Tetapi a priori itu sejenis kebenaran pula. Boleh dikatakan ia kebenaran yang menggantung, bersifat sementara, contingent. Selama belum ada pembuktian sebaliknya, kebenaran a priori-lah yang berlaku. A priori hanya luntur saat a posteriori terbit, yaitu ketika penyelidikan secara ilmiah berhasil mengambil kesimpulan teruji tentang penyebabnya. Untuk itu kita harus menunggu polisi usai bekerja.

Tentu saja saya tidak akan repot-repot menyalahkan orang-orang yang menyebarluaskan a priori gedung Kejagung sengaja dibakar. Itu sudah kecenderungan alamiah manusia, konsekuensi dari organ tubuh bernama otak yang dihadiahkan Tuhan.

Otak mengolah informasi dari kejadian-kejadian lampau, baik yang si penalar alami langsung, pun yang ia peroleh sebagai orang kedua (mendengar dari pihak yang mengalami)  atau orang ketiga (mendapatkannya dari buku, Koran, tv, internet, dll).

"Jangan pulang dulu, sebentar lagi akan hujan," kata kekasihmu, menarikmu dari undakan tangga di beranda agar kembali masuk ke biliknya.

Engkau tak menyalahkannya karena sudah berprasangka akan hujan sebab kaulihat pula ke atas, gulungan awan kelabu bergerombol di langit kotamu. Engkau akan menduga serupa. Hari akan hujan. Demikianlah pengalaman diterpa hujan saat langit mendung membantumu bernalar bahwa mendung menggumpal adalah pertanda kuat sebentar lagi akan hujan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x