Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Hikmah Kisah Pengalaman Wartawan Kompas Tempo Dulu

2 Juli 2020   11:36 Diperbarui: 2 Juli 2020   12:04 330 28 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hikmah Kisah Pengalaman Wartawan Kompas Tempo Dulu
Seri Tentang Menulis [Shutercock.com]

Membuat artikel berita zaman dulu dan masa kini memang beda. Bukan cuma tingkat kesulitan mendapatkan berita. Kualitas dan dampak berita masa kini dan masa lalu juga berbeda.

Pagi tadi saya membaca artikel Om  Andreas Maryoto, wartawan Kompas tempo dulu -- saya kira beliau masih aktif dalam dunia pewartaan, tetapi tetap saja atribut orang dulu pas melekat padanya -- di rubrik "Di Balik Berita" di Kompas.id. Judulnya "Menyentil Keluarga "daripada" Soeharto Lewat Sepatu".

Kenapa ya, membaca karya para penulis kawakan -- bukan cuma tinggi usia karir, tinggi pula seninya dalam menulis -- selalu terasa beda? Semacam ada haru bergolak dalam dada. Padahal itu bukan artikel yang mengharukan. Mungkin haru merupakan respon standar otak terhadap kandungan seni.

Mereka menulis dengan sederhana. Tidak tampak upaya ngotot menebalkan pesan tetapi pesan itu bisa menyusup -- menyusup pasti diam-diam dan tidak ketahuan -- masuk ke dalam kesadaran pembaca.

Mereka menulis seolah-olah sebagai menulis saja. Seperti bercerita kepada sahabat saat ngopi di beranda. Kata-kata meloncat begitu saja tanpa intensi memengaruhi. Tetapi itu tadi, selalu ada sesuatu yang bisa dipetik nalar dan dibawa pulang, kesadaran.

Saya tidak tahu apa kunci kelihaian orang-orang seperti ini; apa tips dan trik rahasianya. Mungkin ini memang urusan intensitas, urusan frekuensi, perkara jam terbang dan kesinambungan. Akumulasi kuantitas akan otomatis memancarkan kualitas. Mungkin.

Nah, karena tidak tahu-menahu tips dan trik menulis bagus seperti itu, saya bahas saja pembelajaran, pengertian, kesadaran yang menyusup masuk saat membaca artikel Om Andreas, dan yang baru saya tangkap kehadirannya beberapa saat setelah membaca.

Meski berjudul "Menyentil Keluarga "daripada" Soeharto Lewat Sepatu", artikel Om Andreas hanya 1-2 paragraf mention keluarga Soeharto. Itu pun tidak sebagai bukti atau argumentasi yang menjelaskan hubungan keluarga Soeharto dengan sepatu.

Kalau mau asal tuding, saya bisa menyebut judul artikel Om Andreas clickbait. Tetapi tidak demikian sebab artikel tersebut berada dalam rubrik Di Balik Berita. Ini rubrik tentang pengalaman kerja wartawan Kompas dalam menghasilkan berita. Umumnya merupakan pengalaman milestone, pecahan penting dalam sejarah kewartawanan mereka.

___

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x