Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Sensasi Sujud Risma, Pernyataan Kontradiktif Achmad Yurianto, dan Warganet Salah Fokus Melulu

1 Juli 2020   07:00 Diperbarui: 1 Juli 2020   07:05 1870 27 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sensasi Sujud Risma, Pernyataan Kontradiktif Achmad Yurianto, dan Warganet Salah Fokus Melulu
Risma Khofifah Achmad Yurianto [Coffee4Soul.club]

Kasihan warganet Indonesia, selalu terpancing perdebatkan sensasi, lupa esensi. Sujud Bu Risma itu sensasi. Yang esensi adalah problem yang justru jadi kabur oleh pernyataan Jubir Covid-19,  Pak Achmad Yurianto.

Apakah yang membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang terkenal galak itu nangis-nangis bersujud di kaki dokter RSUD dr. Soetomo?

Aksi sujud Bu Risma adalah respon terhadap keluhan dokter dalam pertemuan dengar pendapat antara  Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur. Dokter keluhkan overload pasien Covid-19 di RSUD dr. Soetomo dan  tingkah laku warga Surabaya yang tidak mematuhi protokol cegah penularan virus Corona.

Tetapi mengapa Bu Risma sampai harus bersujud segala?

Karena, seperti terdengar dalam curhat-nya, ia merasa selalu dipersalahkan.

Dipersalahkan atas apa?

Untuk itu harus ditarik lagi ke serangkaian pertentangan antara Tri Rismaharini dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Saya tidak akan membahas detil lagi soal ini. Sudah saya tulis soal rangkaian pertentangan dua perempuan hebat Jatim ini di blog Coffee4Soul.

Rangkaian beda pendapat dan kebijakan antara Bu Risma dan Bu Khofifah pun bukan hal pokok. Itu hanya bias dari problem buruknya koordinasi dan komunikasi antar-pemda dalam menghadapi pandemi Covid-19. Saya kira bukan cuma di Jatim, banyak daerah mengalaminya. Saya beberapa kali menulis tentang problem serupa di Nusa Tenggara Timur.[1]

Saat ini kita bicara Jawa Timur.

Bu Risma pantas merasa dipersalahkan. Ia pernah salah kata ketika mengeluhkan banyak pasien Covid-19 dari luar Surabaya yang berobat di rumah sakit-rumah sakit di kotanya. Terhadap keluhan ini, Gubernur Khofifah membalasnya dengan pernyataan skakmat, bahwa berdasarkan etika kedokteran, pasien tidak bisa dibeda-bedakan (mana warga Surabaya, mana warga kabupaten/kota lain).[2]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN