Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Lonely moody nosy opposition, coz none is sane but clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Humor Artikel Utama

Pandemi, Terjepit Takut dan Tak Tega, Lantas Panik dan Bodoh

8 Mei 2020   22:32 Diperbarui: 10 Mei 2020   19:26 697 30 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pandemi, Terjepit Takut dan Tak Tega, Lantas Panik dan Bodoh
Ilustrasi [depositphotos.com]

Sudah beberapa hari ini wajah-wajah baru lalu-lalang di depan rumah, menjajakan barang dan jasa tidak lazim. Ada yang tanya-tanya aki kosong; ada yang tawar jasa tambal panci berlubang; ada pula yang jual jasa perbaikan jam, sekaligus menjual baterai.

"Hmm, ini coping strategy." Saya membatin.

Gara-gara pandemi, orang-orang terlempar dari pekerjaan lama. Karena tangguh -Tuhan memberkati mereka untuk itu dan karena itu- mereka mencari jalan keluar, mencoba peruntungan sebagai penjaja jasa keliling. Apapapun yang disangka punya pasar, coba dijual.

Beberapa pekan lalu saya sempat bersungut-sungut kepada seorang bapak pedagang ikan keliling. Soalnya saat saya menawar Rp 50.000 untuk tiga satuan seharga masing-masing Rp 20.000, ia mengangguk tetapi ikan yang disodorkan cuma 2,5 kumpul.

"Lho, kan harusnya 3 kumpul, Pak. Makanya saya beli lima puluh ribu. Kalau tidak ada diskon, mending saya beli 20 ribu saja."

"Oh, biasa begitu ya, Pak?" Tanyanya.

"Yah, Bapak baru pernah jualan ikan keliling ya?" Saya balik bertanya dengan intonasi kesal. Tetapi kemudian saya insyaf. Bapak tadi mungkin mantan pegawai perusahaan yang kini memutuskan berjualan ikan sebab perusahaan merumahkannya, mungkin bahkan tanpa kompensasi.

Seketika empati muncul sebab bapak tadi senasip dengan saya. Demi bertahan hidup, saya juga rela turun pangkat, mengambil pekerjaan kuli serabutan yang lebih teknis, lebih terbatas tanggungjawab, dan tentu saja lebih kecil upahnya.

Jika biasanya saya mengupah enumerator untuk membantu pekerjaan serabutan saya. Kini saya harus menerima tawaran jadi enumerator, pekerjaan semasa bujang dulu.

Si bos yang kasih kerjaan bilang, "Lumayan, Om, untuk uang jajan."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x