Mohon tunggu...
George
George Mohon Tunggu... Konsultan - https://omgege.com/

https://omgege.com/

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Ketika Sri Mulyani Ngotot Kartu Prakerja

4 Mei 2020   17:16 Diperbarui: 5 Mei 2020   10:21 2092
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menkeu Sri Mulyani [ANTARA FOTO / MUHAMMAD ADIMAJA via KOMPAS]

Misalnya ada program pelatihan “Microsoft Office untuk Pemula: Outlook, Word dan Excel” di Pijar Mahir. Yang diajarkan adalah “Pembuatan dan penyuntingan dokumen Word.”

Padahal ilmu ini bisa ditanyakan gratis kepada murid kelas 6 sekolah dasar. Mereka akan jelaskan dengan sukacita. Tetapi di Pijar Mahir hal ini dijual Rp 260.000.[3]

Contoh lainnya adalah kursus “Youtube Content Creator” yang ditawarkan pelatihan.kemnaker.go.id. Materi-materi yang diajarkan adalah “Pengantar YouTube Content Creator, membangun Channel dan Membuat Content, mendapat Penghasilan Sebagai YouTube Content Creator.” Hal begini betebaran gratis di internet tetapi pada platform plat merah ini dijual seharga Rp 300.000.[4]

Kursus "Kreasi Konten Digital" yang di platform Kemnaker dihargai Rp 999.000,[5] di Inggris disediakan gratis bagi penerima unemployment benefit di negara tersebut.[6]

Kenyataan ini tidak terhindarkan membangkitkan kesan bahwa program Kartu Prakerja ibarat tindakan menjarah rumah yang sedang terbakar. Dengan alasan pandemi, perusahaan makelar jasa kursus online yang kelak dibangga-banggakan dalam pidato pejabat sebagai perusahaan rintisan sukses meraih untung besar dari APBN.

#5. Pelaksanaan Program Kartu Prakerja tidak tepat skema.

Pelaksanaan Kartu Prakerja punya skema yang dikhawatirkan kontraproduktif. Sejumlah pihak menduga, banyak penerima yang asal memilih program pelatihan, sekadar sebagai syarat untuk mendapatkan bansos Rp 600.000 per bulan.

Dugaan ini kemudian terbukti oleh kesaksian para penerima. Misalnya pengakuan Ahmad Syahtriono dan Ilham yang diberitakan CNNIndonesia.com dalam artikel “Curhat Kecele Peserta Pelatihan Kartu Prakerja ala Jokowi”.[7]

Kondisi ini diperburuk oleh penunjukkan mitra pengelola platform yang tidak melalui seleksi ketat. Jadinya banyak paket kursus yang tidak sesuai kebutuhan dan kontennya tidak sepantas harga jual.

"Menurut saya tidak jauh berbeda dengan video tutorial yang biasa saya tonton di Youtube atau artikel trik-trik fotografi di Google,” kata Ahmad Syahtriono

"Materinya terlalu dasar seperti pelayanan pelanggan, bahasa Inggris, cara mengelola stres di tempat kerja, dan sebagainya,” komentar Ilham.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun