Mohon tunggu...
George
George Mohon Tunggu... Konsultan - https://omgege.com/

https://omgege.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Saat Menteri Nadiem Kaget, Orang Tua Murid "Bisa Pingsan"

3 Mei 2020   20:28 Diperbarui: 4 Mei 2020   01:46 646
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim [Diolah dari Kompas.com]

"Lalu ada yang bilang tidak ada sinyal TV bahkan ada yang bilang tidak punya listrik. Itu bikin saya kaget luar biasa, saya pun belajar sebagai menteri bahwa Indonesia ini masih banyak area-area yang sebenarnya tidak terbayang bagi kita di Jakarta, benar-benar tidak terbayang ada yang masih tidak punya akses listrik, bayangkan listriknya cuma nyala beberapa jam sehari." -- Nadiem Makarim, 2 Mei 2020.[1]

Ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sampai kaget luar biasa begitu, sebagai rakyat yang juga orang tua murid, saya lebih terkaget-kaget lagi. Harusnya saya pingsan membaca berita itu.

Bagaimana bisa menteri tidak paham kondisi negerinya?

Tentu Menteri Nadiem bukan satu-satunya yang demikian. Yang lain mungkin lihai menyembunyikan kekagetan mereka saat mengetahui informasi-informasi minus ketimpangan pembangunan.

Sebenarnya kondisi kelistrikan Indonesia tidak buruk-buruk amat.

Menurut dokumen Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 2019-2038 milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik nasional meningkat rata-rata 4,9% per tahun sepanjang 2014-2018. Demikian pula panjang jaringan transmisi, bertambah rata-rata 8,5% per tahun. Sementara panjang jaringan distribusi naik  3,51% dalam 5 tahun (2013-2018).

Peningkatan dalam infrastruktur kelistrikan tercermin pula dalam peningkatan rasio elektrifikasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada akhir 2013, rasio elektrifikasi Indonesia sekitar 80,51%. Pada 2018, proporsi rumah tangga Indonesia yang telah menikmati sambungan listrik menjadi 98,30% dari total sekitar 68 juta rumah tangga. Itu berarti rata-rata ada penambahan sekitar 3,18 juta rumah tangga yang terinstalasi listrik per tahunnya.

Capaian rasio elektrifikasi yang sebesar 98,30% pada 2018 itu melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, 95,15%.

Berdasarkan capaian pada 2018, Kementerian ESDM berencana, sisa 1,70% atau sekitar 1,1 juta rumah tangga penduduk Indonesia akan menikmati aliran listrik pada 2020. Semoga saja Pandemi Covid-19 tidak menggeser pencapaian target tersebut.

Sayangnya, meski tinggal 1,1 juta rumah tangga yang belum mengakses listrik, proporsi golongan ini menumpuk di provinsi tertentu saja. Nusa Tenggara Timur (NTT), provinsi saya, adalah yang paling buruk rasio elektrifikasinya. Ketika di provinsi-provinsi lain rasio elektrifikasi antara 80an persen (Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kepulauan Riau) hingga 100 persen (Bali), di  NTT hanya 62,07% rumah tangga yang sudah dialiri listrik. Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional, sangat jomplang dibandingkan provinsi lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun