Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Salah Judul dan Lead, Artikel Blog Anda Miskin Pembaca

14 April 2020   18:18 Diperbarui: 14 April 2020   18:34 408 27 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Salah Judul dan Lead, Artikel Blog Anda Miskin Pembaca
Bagaimana menulis judul artikel yang baik [Ilustrasi, tangkap layar kompasiana.com]

Di era daring, peran judul dan lead dalam menarik pembaca menjadi-jadi pentingnya. Hanya orang-orang berprinsip tulis sendiri baca sendiri yang tiada peduli dua barang ini.

Pekan lalu kita sudah sepakat---saya anggap begitu---setiap Selasa malam adalah saat berpura-pura. Saya pura-pura pandai menulis dan "mengajari" Anda. Sebaliknya, Anda berpura-pura masih berkekurangan ilmu, dan berpura-pura percaya saya bisa dijadikan sumber.

Kepuran-puraan ini baik untuk saya. Dengan begini saya punya alasan untuk belajar.

Apa yang saya sampaikan pada dasarnya merupakan ikhtisar dari bahan-bahan yang saya pelajari. Jadi bukan pengetahuan orisinal saja; bukan pula hal yang secara konsisten sudah saya terapkan. Pada dasarnya, saya seperti Anda sekalian---asumsi saya begitu---yang banyak kekurangannya dalam kemampuan menulis.

Dalam ranah daring, judul artikel adalah satu-satunya gerbang menuju badan artikel. Oh, maaf, bukan. Selain judul ada pula keluku atau thumbnail, gambar kecil yang jika diklik akan membawa pembaca ke tubuh artikel. 

Tetapi tidak semua artikel memikili gambar utama yang saat dibagikan di media sosial, atau terpajang di mesin pencari maupun homepage website ikut nongol sebagai keluku, bukan?

Jadi, untuk konteks pembahasan ini kita berpegang teguh saja pada posisi tadi: judul adalah satu-satunya gerbang menunju badan artikel.

Kalau dahulu, saat artikel disajikan dalam format cetak, artikel tanpa judul menarik masih punya peluang besar meraih perhatian pembaca. Karena judul dan isi artikel terpampang dalam bentangan halaman yang sama, calon pembaca sering sempat melirik satu-dua paragraf. Jika ada janji yang menarik hatinya di situ, ia akan mulai membaca dari kalimat awal dan seterusnya. Jadilah ia pembaca artikel kita.

Sekarang sudah tidak bisa begitu. Cek saja homepage Kompasiana, misalnya. Artikel-artikel tersusun di etalase halaman depan sebagai tumpukan judul-judul dan gambar-gambar. Jika judul tidak menggoda klik, mata pembaca lewat begitu saja; jari atau kursornya jatuh ke artikel tetangga di bawah atau di atas artikel kita.

Gara-gara inilah muncul inovasi clickbait yang menyebalkan pembaca.

Judul menarik tidak sama dengan clickbait

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN