Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Penggila Pakaian Impor Menikam Bangsa Ini dari Belakang

25 Maret 2020   14:19 Diperbarui: 25 Juni 2020   22:27 395 10 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penggila Pakaian Impor Menikam Bangsa Ini dari Belakang
Buruh pabrik tekstil terancam PHK [detik.com]

Astuti, sebut saja begitu, menampilkan barang dagangan terbaru di instagramnya yang punya lebih dari 125 ribu pengikut. Tampak lebih dari selusin foto pakaian laki-laki dan perempuan asal Korea yang baru diunggah. "Foto lebih dari 3 hari biasanya barang habis," tulisnya.

Tiap-tiap foto pakaian yang Astuti unggah memanen lebih dari 500 tanda hati dan ratusan komentar. Salah satu komentar datang dari Maimunah, tentu bukan nama sebenarnya, "Ada koleksi Cina, gak min? Aku cari yang murah, bukan branded."

Bukan cuma di ranah daring, di etalase toko-toko pakaian, tumpukan di lapak-lapak pedagang di pasar garmen seperti Tanah Abang pun kian disesaki sepatu, tas, baju, dan celana impor.

Orang-orang ini, para pedagang dan pembeli outfit impor, luring pun daring, adalah para penikam bangsa ini dari belakang. Orang-orang yang keranjingan pakaian impor berkontribusi besar terhadap kemungkinan gulung tikarnya pabrik tekstil dan produk tekstil, usaha-usaha kerajinan sepatu dan tas di Indonesia. Di zaman perang kemerdekaan dahulu, mereka inilah pada cuak kompeni.

"Kalau kita tidak punya market lagi, PHK bukan hal yang mustahil. Akan ada keterpaksaan perusahaan untuk melakukan PHK karena marketnya kecil," kata Redma Gita Wirawasta, Sekjend Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI).(1)

Mengecilnya pangsa pasar industri tekstil dan produk tekstil nasional yang dimaksud Gita Wirawasta bukan semata-mata karena pandemik Corona. Sudah semenjak 1-2 tahun lalu para pengusaha tekstil nasional teriakkan keluhan menyempitnya pasar tekstil nasional. Penyebabnya adalah banjir produk impor.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, katakan tahun lalu, barang-barang yang dijual di e-commerce sebagian besar, bahkan 90%, merupakan produk impor. Bahkan Blanja.com, e-commerce milik PT Telkom yang merupakan BUMN itu bekerja sama dengan Alibaba untuk mempermudah orang-orang Indonesia membeli barang jadi dari China dan negara-negara lain.(2)

Tahun lalu dan masa-masa sebelumnya, banjir produk impor didorong pula oleh kebijakan pemerintah yang kurang protektif terhadap industri tekstil dalam negeri. Tahun lalu impor satuan produk tas, sepatu, dan garmen ugal-ugalan karena produk impor barang kiriman di bawah 75 dolar AS per orang per hari bebas import duty. Tidak ada bea masuk dan pajak yang harus dibayarkan.

Artinya kalau setiap hari Anda membeli 2-3 item sepatu, tas, garmen senilai total 1 juta dari luar negeri untuk Anda jual lagi kepada warga bangsa ini, daring atau luring, Anda tidak dikenakan pajak dan bea masuk. Dalam setahun, transaksi impor Rp 350 juta Anda bebas pajak dan bea masuk. Jika ada 500 orang seperti Anda, per tahun ada Rp 750 miliar transaksi barang impor bebas pajak. Ini belum termasuk konsumen yang membeli langsung dari marketplace luar negeri seperti Alibaba, Amazon, dan sejenisnya.

Syukurlah, di akhir 2019, Sri Mulyani dan jajarannya sudah mulai insaf. Ada upaya "hijrah" dari keberpihakan liberalisasi ugal-ugalan mereka. Kemenkeu memutuskan menurunkan batas bawah barang kiriman kena pajak dan bea masuk menjadi 3 dolar AS per orang per hari. Kebijakan ini berlaku per Januari 2020.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN