Mohon tunggu...
Laro Jaong
Laro Jaong Mohon Tunggu... Lonely moody nosy opposition, coz none is sane but clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Cerita SBY Telepon Jokowi Bisa Rugikan Citra Sendiri

15 Maret 2020   17:48 Diperbarui: 15 Maret 2020   17:54 977 9 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerita SBY Telepon Jokowi Bisa Rugikan Citra Sendiri
Jokowi dan SBY [Kompas.com]

Ada cacat kecil dalam pernyataan Pak Susilo Bambang Yudhoyono yang terberitakan media tentang pembicaraan per teleponnya dengan Presiden Joko Widodo. Meski kecil, cacat itu berdampak buruk terhadap citra SBY, seolah-olah ia memanfaatkan krisis pandemi coronavirus sebagai panggung politik; bertindak menikam pemerintah dari belakang, menjegal dalam kesempitan.

Kompas.com (15/03/2020) menulis pertanyaan SBY dalam berita berjudul, "Hubungi Jokowi, SBY Minta Pemerintah Tak Boleh Lengah Hadapi Corona." Detik.com membuat judul "Telepon Jokowi, SBY Minta Pemerintah Serius-Sigap Tangani Corona."

Sebenarnya wajar saja, sebagai pimpinan politik, SBY---mewakili para pemilih Partai Demokrat---menyampaikan permintaan tersebut kepada pemerintah. Tetapi ketika diceritakan ke media massa dan terberitakan seperti judul di Kompas.com dan Detik.com, terbit kesan yang merugikan SBY sendiri.

Di hadapan khalayak, permintaan SBY agar pemerintah serius dan sigap,serta  jangan lengah tangani Corona terkesan sebagai serangan, semacam pembangunan opini publik bahwa Pemerintahan Joko Widodo kurang serius dan sigap mengatasi penyebaran pandemi ini.

Padahal SBY mungkin tidak bermaksud demikian. Dalam pidato di Konggres Partai Demokrat tersebut,  SBY justru minta segenap kader Partai Demokrat mendukung pemerintah melawan pandemi Covid-19

SBY tentu sadar diri ia seorang tokoh. Ia perlu sangat berhati-hati memilih diksi--seperti yang biasa ia lakukan--agar tidak terkesan sedang menempatkan diri sebagai lazimnya warganet atau para penulis opini politik yang comel dan banyak tuntut. Rakyat memang harus comel dan banyak tuntut. SBY tidak bisa ikut-ikutan begitu.

Sebagai tokoh, yang ingin publik dengar dari SBY adalah pernyataan menyejukkan: menyatakan berdiri di belakang pemerintah, mendukung upaya pemerintah.

Maka akan cantik jika saat disampaikan kepada publik (melalui media massa) SBY memoles sedikit cerita telepon presiden itu dengan menambahkan frasa "sampaikan dukungan." Misalnya "Saya sudah telepon Bapak Presiden, sampaikan dukungan kepada pemerintah untuk bertindak serius, sigap dan tidak lengah menghadapi pandemi virus Corona."

Tanpa frasa "sampaikan dukungan," pernyataan SBY terkesan memanfaatkan pandemi corona sebaga panggung politik.

Panggung yang berdiri di atas kesulitan orang adalah seburuk-buruknya panggung, serendah aksi swafoto di samping jenazah di rumah duka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN