Mohon tunggu...
Laro Jaong
Laro Jaong Mohon Tunggu... Lonely moody nosy opposition, coz none is sane but clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Bermotif Politik Sekalipun, Langkah Anies Baswedan Liburkan Sekolah Patut Didukung

14 Maret 2020   15:00 Diperbarui: 15 Maret 2020   18:10 466 9 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bermotif Politik Sekalipun, Langkah Anies Baswedan Liburkan Sekolah Patut Didukung
Anies Liburkan Seluruh Sekolah di DKI [KompasTV]

Akhirnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempelopori langkah Pemerintah Daerah meliburkan sekolah sebagai tindakan antisipatif menekan laju penyebaran Coronavirus. Sekolah-sekolah di DKI ditutup selama 2 minggu, dimulai sejak Senin, 16 Maret. Kebijakan ini akan terus dievaluasi untuk perpanjangan atau pencabutannya.(1)

Langkah Anies Baswedan patut diapresiasi, setelah sebelumnya memutuskan menutup tempat-tempat hiburan dan wisata yang dimiliki atau dikelola Pemprov Jakarta. Asumsinya, Pemprov DKI memutuskan berbasis data sudah seberapa parah penyebaran coronavirus di wilayahnya.

Sudah sejak awal bulan saya menulis soal pentingnya SOP kebijakan eksklusi siswa atau rombongan belajar atau satu sekolah atau bahkan seluruh sekolah untuk menghambat penyebaran penyakit mudah menular (Baca "Butuh Segera, SOP Eksklusi Sekolah untuk Cegah Penyebaran Virus Corona").

Menurut Gubernur Anies,  ahli kesehatan Pemprov DKI menjelaskan bahwa anak-anak tidak mudah sakit oleh Corona tetapi mereka bertindak sebagai carrier. Artinya, untuk konteks virus Corona, anak-anak tidak beda dengan Aedes aegypty; mereka tidak sakit tetapi menjadi media perantara penularan antara satu orang dewasa ke orang dewasa lainnya.

Perlu ditambahkan pula, tidak seperti orang dewasa yang mudah mengingat pantangan begini-begitu agar tidak gampang menularkan atau tertular penyakit, sulit menjamin anak-anak untuk selalu mengenakan masker, menjaga jarak dengan lawan bicara, mencuci tangan dengan sabun, atau jangan sering-sering menyentuh wajah. Apalagi kalau sudah asyik dan ramai bermain, semua larangan yang berulang kali disampaikan orang tua atau guru menguap begitu saja dari ingatan mereka.

Patut diapresiasi pula persiapan Pemprov DKI yang menurut Gubernur Anies sedang menyiapkan bahan ajar jarak jauh yang digunakan peserta didik semasa sekolah diliburkan. Tinggal bagaimana para orang tua di DKI mengambail alih peran guru, bertindak sebagai fasilitator belajar di rumah atau minimal menciptakan suasana belajar di rumah.

Sudah tentu di tengah masyarakat yang terbelah, diperparah manuver para politisi yang sudah jauh-jauh hari berpikir soal Pilpres 2024, kebijakan Anies Baswedan sangat mungkin dianggap bermotif politik elektoral menuju Pilpres 2024. Ia akan dituding sedang memanfaatkan bencana wabah coronavirus sebagai panggung politik.

Kita tidak bisa menyalahkan pandangan seperti itu. Tetapi jangan pula karena ketakutan Anies mendapat kredit positif dari kebijakan ini, kita menolak peliburan sekolah. 

Prinsip terpenting adalah apapun kebijakan yang bermanfaat bagi rakyat, datang dari siapapun patut didukung. Sebaliknya, apapun kebijakan buruk dari siapapun patut dikritik dan ditolak. Urusan siapa mendapat kredit positif, dan menjadikannya bekal untuk hajatan politik elektoral di kemudian hari, dipikirkan belakangan saja.

Baca: "Corona, 61 Negara Liburkan Sekolah, Ini 9 Pemda Indonesia yang Sudah Putuskan."

Pemprov lain tentu belum perlu meliburkan sekolah saat ini. Tetapi bukan berarti boleh lengah. Protokol yang mencakup kapan atau atas situasi seperti apa satu rombongan belajar, satu sekolah, atau seluruh sekolah diliburkan harus sudah dipersiapkan. Begitu pula bahan ajar agar siswa bisa belajar di rumah sudah seharusnya menjadi tanggungjawab dinas pendidikan sebab tidak semua sekolah memiliki kapasitas untuk melengkapi siswa dengan itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN