Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Penyebab Pandemi Corona Lebih Buat Panik Dibandingkan Epidemi Penyakit Endemik

13 Maret 2020   09:40 Diperbarui: 10 Juni 2020   00:40 7722 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penyebab Pandemi Corona Lebih Buat Panik Dibandingkan Epidemi Penyakit Endemik
Panik Coronavirus atau Demam Berdarah [diolah dari medicalnewstoday.com]

Sudah 2-3 bulan lalu, ketika beredar kabar anak dokter meninggal karena demam berdarah, emak saya mengingatkan agar saya waspada, lebih memperhatikan kebersihan lingkungan, dan memastikan cucunya jangan sampai digigit nyamuk. Saya santuy saja.

Sebulan kemudian, istri saya menelepon soal serupa. Mungkin kabar demam berdarah merebak jadi epidemi di provinsi ini sudah ramai  di media massa. Saya masih santuy juga.

Ketika media massa memberitakan merebaknya corona virus jenis baru, kuping saya berdiri. Saat serangan corona virus menjadi epidemi di Wuhan, hidung saya bergerak-gerak, mencoba membaui ancaman di jauh sana.

Ketika pemerintah China mengisolasi Wuhan, hati saya berdesir. Rasa cemas mulai muncul. Bayangan film-film katastropik tentang wabah yang memusnahkan separuh isi dunia gentayangan di kepala.

Lucunya, ketika serangan Covid-19 ditetapkan PBB sebagai pandemi, rasa cemas itu justru berkurang. Aneh. Mungkin karena anak saya terus menjejalkan pendapatnya, coronavirus akan musnah oleh musim panas nanti.

Lalu, saya perhatikan reaksi orang-orang di pertetanggaan dan di lingkungan pergaulan media sosial. Mereka juga santuy saja menyikapi epidemi DBD tetapi tergesa-gesa berbelanja banyak barang kebutuhan begitu Presiden Joko Widodo mengumumkan Indonesia termasuk bagian dari pandemi Coronavirus dengan ditemukannya dua penderita positif.

Rupanya sudah perwatakan umum bahwa kita lebih lebih cemas terhadap Corona virus, baik ketika masih epidemik China pun saat sudah pandemik global, dibandingkan kekhawatiran terhadap epidemi penyakit endemik seperti Demam Berdarah yang sangat dekat dengan kita.

Kalau dipikir-pikir, boleh diduga gejala umum ini berkaitan dengan insting dasar kita: takut pada segala yang asing. Asing maksudnya yang tidak akrab dalam kehidupan kita, yang tidak kita kenal sebelumnya.

Saya kira insting seperti ini adalah salah satu mekanisme kehidupan mempertahankan eksistensinya. Rasa curiga terhadap hal asing membuat kita bisa survive.

Lihat saja reaksi kucing ketika pertama kali kita menggelindingkan bola kepadanya. Tubuhnya segera siaga, membuat gerakan badan yang mengambil jarak dari bola tetapi dengan kepala condong plus mata melebar mencari tahu. Kaki depannya menjangkau ragu ke arah bola.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x