Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Lonely moody nosy opposition, coz none is sane but clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kecurigaan antar-Generasi Itu Lucu

7 Maret 2020   05:00 Diperbarui: 7 Maret 2020   05:28 125 8 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kecurigaan antar-Generasi Itu Lucu
Ilustrasi [aarp.org]

Anak saya, 10 tahun usianya, punya hobi baru 3-4 bulan belakangan. Selain hobi lamanya membicarakan sejarah dunia, kini ia suka menceritakan tabiat aneh para orang tua.

"Ada nih papa, seorang ibu di Amerika, paksa seorang remaja serahkan skateboard ke anaknya. Dia bilang 'serahkan ke anak saya, kamu terlalu besar mainkan itu.'

Karena dipaksa terus, remaja itu ancam akan lapor polisi. Tetapi si ibu katakan, 'Kamu terlalu kecil untuk bisa lapor polisi.' Banyak orang tua aneh begitu, Papa."

Sehari sebelumny, ia bercerita tentang orang tua yang menolak memberi vaksin anaknya karena percaya kalau vaksin bikin anak alami keterbelakangan mental. "Mereka tidak tahu itu coincidence, Papa. Hanya kebetulan ada anak setelah dikasih vaksin, diperiksa terdeteksi alami keterbelakangan mental. Hahahah. What's wrong with these parents?"

Lebih sebelumnya lagi, ia bercerita tentang orang tua yang otoriter; tentang perdebatan boomers versus milenials; dan lain-lain. Pokoknya hampir setiap hari ada gosip keanehan para orang tua. Kadang-kadang saya merasa ia sedang menyindir saya secara halus dengan kisah-kisah itu.

Selidik punya selidik---saya mengintip lewat jendela--soal orang tua ini ternyata bahan gosip rutin di grup discort, sebuah platform ngobrol daring, anak-anak alumni code club, bocah-bocah praremaja pembelajar bahasa pemograman di kota lamanya. Selain bertukar code, rupanya mereka rutin bertukar kisah dan tautan berita atau video tentang tingkah laku kalangan orang tua.

Mereka mempelajari kita, menilai kita, menggosipkan kita, mencurigai kita. Rupanya kecurigaan antar-generasi ini dua arah. Tidak hanya kita kepada mereka, tetapi juga sebaliknya.

Desember 2019, Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) menggelar Annual Conference on Social Justice (ACSJ) di Kupang. Pada hari kedua, dalam sesi bertema "Negara, Pendidikan, dan Kewarganegaraan" dibahas pula dua hasil penelitian tentang kalangan milenials.

Yang pertama oleh peneliti dari Makasar, tentang kadar nasionalisme kalangan milenials. Sebuah penelitian yang serius sebab dilakukan di 10 kota yaitu Aceh, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Padang, Makasar, Yogyakarta, Solo, Salatiga, dan Mataram. Sayangnya ukuran untuk mengukur nasionalisme terlalu permukaan, simbolis, seperti pandangan mereka terhadap bendera, bahasa, dan lain-lain pertanyaan yang biasa muncul di soal ujian PMP anak kelas 3-4 SD.  Penelitan kedua dari akademisi di Kupang, juga diakukan di sejumlah kota, tentang pemahaman kaum milenial terhadap sejarah bangsa ini. 

Saya tidak ingin mengupas isinya, bisa Anda baca di "Negara, Pendidikan, dan Kewarganegaraan -- Salah Satu Topik Utama dalam ACSJ 2019."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN