Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ancaman Pidana Penimbun Masker Hanya Macan Ompong Jika Tanpa Perpres Baru

3 Maret 2020   08:33 Diperbarui: 3 Maret 2020   19:27 372 6 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ancaman Pidana Penimbun Masker Hanya Macan Ompong Jika Tanpa Perpres Baru
Masker Langka Harga Melonjak [Kompas.com]

Banyak orang memandang salah satu unsur pokok bisnis adalah pemanfaatan peluang. Ada Pula yang bilang, bisnis adalah upaya memaksimalkan untung dari penciptaan nilai tambah. Upaya menciptakan nilai tambah bisa berasal dari pengolahan, pengangkutan, ataupun penyimpanan.

Nilai tambah dari penyimpanan berasal dari disparitas harga antara off-season dan peak season, baik yang periodik sifatnya atau yang tanpa prediksi. Kuncinya adalah menjual di saat permintaan besar dan penawaran terbatas. Pada saat itulah harga mencapai titik tertingginya.

Tetapi bisnis juga harus punya etika. Tidak semua kondisi peak-season boleh dieksploitasi demi memaksimalkan profit. Adalah sejahat-jahatnya pebisnis yang memaksimalkan untung dari kondisi kelangkaan yang mengancam hajat hidup orang banyak.

Bahkan, bukan cuma persoalan etika bisnis, upaya memaksimalkan profit dengan memanfaatkan kelangkaan tergolong pidana untuk barang-barang tertentu. Yang paling jamak adalah pangan pokok dan bahan bakar minyak. Sudah banyak kejadian, pelaku penimbunan pangan pokok dan strategis (seperti beras dan daging sapi), pun penimbun BBM berurusan dengan pengadilan dan berakhir di penjara.

Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Depok positif terjangkit Covid 19, Coronavirus yang berevolusi, masyarakat panik. Aksi borong masker dan larutan pencuci tangan berkandungan alkohol terjadi di sejumlah kota. Dampaknya harga dua jenis barang ini melonjak tajam.

Di Jakarta,  sudah tiga minggu terakhir harga sekotak masker berisi 50 lembar yang normalnya Rp 20.000-Rp 25.000 melonjak jadi Rp 300.000. Para pedagangnya beralasan permintaan membludak sementara mereka tidak mendapat pasokan baru dan harga dari distributor naik. Pada hari Presiden umumkan dua penderita positif Covid 19, harga masker merek 3M jenis jenis N95, 8515 naik lagi menjadi Rp 1,1 juta per kotak (Kompas.com, "Kebanjiran Order, 1 Boks Masker N95 Bisa Mencapai Rp 1,1 juta ..."). Ini harga yang tidak bisa ditolerir.

Aksi ambil untung seperti ini tentu tidak etis. Bahkan ada pula potensi konsekuensi pidana di baliknya, yang menyasar perilaku penimbunan dengan tujuan mendongkrak harga.

Kita patut mengapresiasi respon cepat Polri, sekalipun baru statement, yang menyatakan akan memantau tindak penimbunan masker dan hand sanitizer dengan motif ambil untung dari lonjakan harga.  Hal itu yang dikatakan Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra (Kompas.com, "Masyarakat Diimbau Tak Timbun Masker ..." ).

Sayangnya pernyataan Kombes Asep berpotensi jadi gertak sambal belaka. Bukan karena polisi tidak serius, tetapi karena ada celah hukum yang membuat pelaku penimbunan masker dan hand sanitizer tidak bisa diseret ke penjara.

Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menuturkan oknum yang mengambil keuntungan dengan menimbun barang dapat dijerat Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (Kompas.com, "Pedagang yang Timbun Masker dan Hand Sanitizer Bisa Diancam 5 Tahun ...".)

Itu benar. Tetapi pasal ini tidak bisa serta merta diterapkan terhadap penimbun masker dan hand sanitizer. Sepertinya Bapak Pakar kita terburu-buru membaca undang-undang 7/2014 itu atau mungkin pula wartawan mengutip pernyataannya tidak tepat konteks.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN