Mohon tunggu...
Tuan Martinuz
Tuan Martinuz Mohon Tunggu... None is sane but Clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Dua Wajah Mahfud MD, yang Menyejukkan dan yang Menggerahkan

13 Februari 2020   08:22 Diperbarui: 15 Februari 2020   02:15 5728 12 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dua Wajah Mahfud MD, yang Menyejukkan dan yang Menggerahkan
Mahfud MD, Veronika Koman, anak-anak ISIS [Kompas.com dan Detik.com]

Menkopolhukam Mahfud MD memang jawaranya kontroversi. Pernyataan-pernyataannya sering mengundang polemik. Terkadang ia tampak menjunjung tinggi demokrasi dan kemanusiaan. Tidak jarang pula ia berubah seolah-olah seorang diktator nomor wahid. Hari ini progresif, besok konservatif.

Gara-gara itu, hati orang-orang yang menghormatinya sering dibuat galau, penuh riak tak tentu, kemarin senang, hari ini benci kepadanya. Sebagai orang yang menghormati dirinya, saja juga alami itu. Misalnya saja hari-hari ini, pemberitaan tentang Mahfud MD berisi hal yang menjengkelkan dan yang bikin sejuk datang berbarengan.

Yang menyejukkan: anak-anak ISIS dipertimbangkan untuk repatriasi

Banyak orang bersikap begitu keras terhadap anggota ISIS dan keluarganya, mendesak pemerintah untuk tidak mengambil kebijakan repatriasi. Sikap itu sangat bisa dimaklumi. Memulangkan para teroris ISIS ke Indonesia adalah sama saja membuka ruang bagi penularan luas virus kebencian identitas ke negeri kita. Itu seperti mengundang penceramah penganjur kebencian indentitas bicara dalam hajatan yang kita gelar; seperti menyuap anak kita dengan sendok bekas pakai penderita TBC dan hepatitis yang belum dicuci pula.

Bisa dipahami dan diapresiasi pula, sikap pemerintah yang menuruti kehendak mayoritas publik, tidak memulangkan para kombatan ISIS.

Tetapi menjadi pertanyaan, bagaimana dengan perempuan dan anak-anak?

Semoga besarnya kebencian dan ketakutan kita pada terorisme tidak menjadi sedemikian pekat hingga menutup hati kita dari kesadaran akan kenyataan sederhana: anak-anak---juga seringkali kaum perempuan---sulit dituntut pertanggungjawaban atas pilihan yang diambil orang tua dan suami mereka.

Anak-anak hanya bisa menuruti apa yang diputuskan orang tua. Ketika orang tua memutuskan memboyong mereka berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS, mereka hanya bisa manut mengikuti. Begitu pula ketika mereka disuruh pakai seragam militer, panggul senapan, dan membakar paspor negara asal.

Para perempuan sering kali tidak jauh berbeda dengan anak-anak. Meski telah berusia dewasa dan secara hukum wajib mempertanggungjawabkan secara personal di depan hukum tindakan yang diambil, kita paham kalau secara socio-kultural tidak bisa serta-merta demikian. Dalam sejumlah kebudayaan, perempuan tidak lebih dari pernak-pernik, aksesori lelaki. Sejumlah kebudayaan menyakini, agar bahagia dalam kehidupan ini dan selamat di kehidupan setelah kematian, para perempuan harus taat pada suami mereka. Apa yang diputuskan suami adalah satu-satunya kebenaran bagi mereka. Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan para perempuan yang tidak bisa melihat kebenaran selain yang ditetapkan dalam tempurung kebudayan mereka yang tertutup.

Meskipun demikian, harus pula disadari bahwa dalam banyak kasus justru para perempuan itulah rekrutan awal yang kemudian meradikalisir suaminya. Semua kenyataan itu perlu dipertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan final bagaimana repatriasi dilaksanakan, selektif atau tidak semuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x