Mohon tunggu...
Tuan Martinuz
Tuan Martinuz Mohon Tunggu... None is sane but Clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Amien Rais, Politikus Kawakan Kedua yang "Finally Fade Away" dari Rumah Sendiri

12 Februari 2020   10:29 Diperbarui: 12 Februari 2020   18:20 2523 13 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Amien Rais, Politikus Kawakan Kedua yang "Finally Fade Away" dari Rumah Sendiri
Amien Rais dan Zulkifli Hasan [Liputan6.com]

"Old soldiers never die," ucap seorang politikus kawakan dalam sebuah perayaan Natal bersama masyarakat etnis saya beberapa bulan sebelum gong perhelatan Pilgub NTT ditabuh, beberapa tahun silam. Ia katakan itu untuk memuji dirinya yang masih diminta memberikan nasihat tentang bagaimana orang-orang dari etnis saya harus memberikan dukungan politik dalam pilkada Kota Kupang dan Pilgub NTT.

Si politisi kawakan ini, seorang mantan bupati yang sangat populer di eranya, rupanya salah memahami ujar-ujaran itu. Ia menyangka, kalimat old soldiers never die itu bermakna pujian atas tokoh-tokoh tua yang tak lekang zaman. Padahal makna aslinya justru sebaliknya.

Itu kesalahan yang jamak, bisa dimaklumi, sebab sudah bermula ketika Douglas McArthur--jenderal besar dan pahlawan perang Amerika Serikat yang dipecat Presiden Truman--menggunakan kalimat itu sebagai penutup pidatonya di hadapan Kongres AS, 19 April 1951.

"... but I still remember the refrain of one of the most popular barrack ballads of that day which proclaimed most proudly that "old soldiers never die; they just fade away."

And like the old soldier of that ballad, I now close my military career and just fade away, an old soldier who tried to do his duty as God gave him the light to see that duty." (1)

Aslinya, ujar-ujaran itu berasal dari lagu para serdadu Inggris. Mereka menciptakannya dengan mengubah syair lagu rohani. Sejatinya kalimat yang berbunyi lengkap "old soldiers never die; they just  fade away" itu adalah satire tentang kehidupan para serdadu. 

Mereka yang telah memenangkan perang, di usia tua kerap terlupakan jasanya. Jadi mereka hilang bukan karena mati melainkan memudar sebab dilupakan. Periksa saja di kamus frasa dan ujar-ujaran yang proper, akan Anda temukan seperti yang saya bilang.

Penyimpangan pemaknaan ini jamak di kalangan militer Indonesia. Itu tercermin dari pernyataan-pernyataan Pak Hendro Priyono dalam wawancaranya dengan sebuah media daring.(2)

Mungkin hanya Pak Prabowo jenderal yang menyadari kekeliruan pemaknaan ujar-ujaran itu. Karena itu ketika memuji Pak Ryamizard yang ia gantikan jabatannya, Pak Prabowo mengganti bunyi kaliat itu. Ia katakan, "Kalau orang Amerika, jenderal Amerika mengatakan, Old soldiers never die, they just fade away. Tapi kalau di Asia no. Old soldiers never die, and they never fade away until they are call by the almighty Lord."(3)

Saya teringat ujar-ujaran ini gara-gara celutukan seorang kawan saat membaca berita tentang kongres PAN. "Akhirnya old soldiers never die tidak berlaku di PAN."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN