Mohon tunggu...
Tuan Martinuz
Tuan Martinuz Mohon Tunggu... None is sane but Clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Sudah 100 Hari

29 Januari 2020   11:15 Diperbarui: 29 Januari 2020   11:32 98 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sudah 100 Hari
Dark Nation, ilustrasi [moddb.com]

Pukul 2 siang
tetapi di jalan depan sana hari masih gelap.
Sudah seratus hari kini ia genap

Di beranda,
Abdul si pemuda milenial masih pula mondar-mandir.
di bahunya bergelayut tas warisan paman
di dalamnya tersimpan berlembar-lembar harapan
ia jilid sangat rapih dan tampan
Rencananya ke pabrik-pabrik di depan sana
jilidan harapan-harapan itu Abdul berikan
Tetapi hari masih gelap
sudah 100 hari ia genap

Abdul tidak pandir
tetapi di kepalanya banyak tanya terus hadir
tanpa sedetik pun mangkir
memaksa Abdul terus pula mondar-mandir
berpikir

Mengapa?
Ada apa?
Kok bisa?

Katanya aku lahir sebagai bonus
yang berarti  harus baik-baik saja
sebab adalah cucu bonum

Sudah 100 hari
Abdul mondar-mandir di beranda
Hari tetap saja gelap
dan dari balik kegelapan bermunculan suara-suara
keluh, geram, putus asa, bingung

"Kerja sekarang tidak ada status permanen."
"Kerja sekarang cuma kontrak tiga bulan"
"Esok hari lebih cilaka, hanya kontrak-kontrak harian"

Sudah 100 hari
lampu-lampu di kawasan pabrik di depan sana tak pernah menyala
gerbang-gerbangnya tertutup terus

Abdul masih juga mondar-mandir
tetapi demikian pula hari tetap saja gelap
sudah 100 hari ia genap

Pukul 4 sore
Abdul tiba-tiba berhenti mondar-mandir
Ia mendengar gumam dari balik kegelapan
"Kita adalah bom waktu."

Dari ruang tamu jarum jam dendangkan ritmik
tik ... tik ... tik
seiring detik-detik berlalu

Sudah 100 hari

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x