Mohon tunggu...
Natas Labar
Natas Labar Mohon Tunggu... Nyinyir adalah koentji

Petani separuh hati dan penulis recehan

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Pebisnis Indonesia-Australia Cemaskan Perkembangan Instagram dan Ojol

21 Agustus 2019   09:20 Diperbarui: 21 Agustus 2019   11:01 163 7 0 Mohon Tunggu...
Pebisnis Indonesia-Australia Cemaskan Perkembangan Instagram dan Ojol
Instagram (sribu.com) dan Gojek (Detik.com)

Pedagang sapi Australia sedang cemas oleh perkembangan penggunaan aplikasi instagram dan maraknya ojek daring di Indonesia. Dua hal ini dianggap mengancam keberlangsungan bisnis mereka. Itu yang disampaikan pedagang sapi Indonesia yang punya hubungan kemitraan dengan Australia, Jimmy Halim.

Menurut Tuan Halim, tingkat kepercayaan di media sosial di Indonesia sangat tinggi sehingga masyarakat tidak ragu untuk membeli daging sapi setelah melihat foto di Instragram. 

Padahal menurutnya belum tentu daging yang dipasarkan adalah daging sapi. Bisa jadi itu daging kerbau yang berharga lebih murah. Apalagi transaksi lewat intragram tidak membutuhkan keterangan asal-usul daging. Demikian diberitakan media Australia, ABC News (abc.net.au. 20/8/2019).

Valeska, perwakilan kemintraan Australia-Indonesia untuk urusan daging dan ternak hidup menambahkan, peningkatan jual-beli daging secara daring diperkuat oleh maraknya layanan trasportasi daring seperti Go-Jek. 

Tarif Go-Jek yang relatif murah, plus kemacetan di jalan raya kota besar seperti Jakarta membuat konsumen memilih berbelanja daring dibandingkan susah payah keluar rumah ke pasar.

Ada dua hal dari perkembangan penggunaan aplikasi daring yang dicemaskan pebisnis sapi yang bermitra dengan Australia. Pertama, meningkatnya jumlah pedagang daring merusak rantai nilai tradisional yang mereka kuasai. 

Kedua, para pedagang daring juga bisa merusak harga sebab bisa saja yang dipasarkan sebagai daging sapi sebenarnya daging kerbau yang harganya lebih murah.

Sebenarnya saya kurang paham bagaimana pebisnis sapi bakalan impor bisa mencemaskan kehadiran pedagang daring. Rantai nilai daging sapi impor, sekalipun impor sapi bakalan (live cattle), bukan impor daging sapi (beef), tidak panjang. 

Berbeda dengan daging sapi lokal yang rantai nilainya bisa mencakup tujuh mata rantai agar sapi yang dibudidayakan rumah tangga produsen bisa sampai ke konsumen akhir.

Rantai nilai daging sapi yang berasal dari impor live cattle hanya terdiri dari 3-4 mata rantai. Sapi impor masuk penggemukan milik importir, lalu masuk karatina yang juga berasosiasi dengan importir, terus ke pedagang grosir dan pedagang eceran hingga tiba di tangan konsumen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x