Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik

Jika Istilah Penumpang Gelap Tepat Didudukkan, Justru PKS dan Partai Demokrat yang Cocok

13 Agustus 2019   13:09 Diperbarui: 13 Agustus 2019   13:23 812 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jika Istilah Penumpang Gelap Tepat Didudukkan, Justru PKS dan Partai Demokrat yang Cocok
Prabowo Subianto [rmol.id] dan para sekutunya [merdeka.com]

Begini. Pertama kita tinggalkan dulu kebingungan massal gara-gara latah terhadap kebiasaan para politisi borjuis menggunakan istilah seenaknya. Kita dudukkan kembali istilah penumpang gelap pada tempatnya. Setelah ini dilakukan, judul artikel akan masuk akal bagi Om-Tante, bahwa PKS dan Partai Demokrat yang cocok jadi tersangka penumpang gelap.

Pecinta Bahasa, Kompasianer Gustaaf Kusno pernah menyinggung etimologi frasa penumpang gelap dalam artikelnya tujuh tahun silam, "Warisan Idiom Khas dari Bahasa Belanda" (Kompasiana.com. 7/4/a012). Ia katakan idiom khas Belanda karena dalam Bahasa Inggris tidak dikenal. Penumpang gelap adalah salah satu di antaranya.

Pak Gustaaf tuliskan, penumpang gelap "disadur dari idiom bahasa Belanda 'zwarterijder' (zwart = hitam, gelap, rijder = penumpang)."

Perlu saya tambahkan, lebih spesifik lagi, istilah zwarterijder berasal dari dunia perkeretaapian Belanda. Saat itu ada dua istilah untuk penumpang yang tidak sesuai ketentuan. Yang pertama Zwarterijder (black rider), penumpang yang naik tidak membayar. Yang kedua grijsrijden (grey rider), yang menumpang kereta dengan tujuan lebih jauh dari karcis yang dibayar.

Setahu saya, frasa zwarterijder hanya digunakan untuk konteks penumpang kereta. Dalam Bahasa Inggris, zwarterijder sering dipadankan dengan stowaway. Bedanya stowaway adalah compound word (atau portmanteau?) dari dunia perkapalan, yang berarti orang yang naik kapal lalu bersembunyi menunggu kapal tinggalkan pelabuhan dengan maksud tidak membayar karcis.

Dalam konteks penggunaan sebagai perumpamaan, orang tidak gunakan zwarterijder atau stowaway. Yang orang pakai adalah free-rider. Ini istilah dalam ekonomi politik yang menunjuk orang atau grup sosial atau perusahaan (kelakuannya free-riding) yang menikmati manfaat dari layanan publik tanpa pengorbanan.

Ketika penumpang gelap digunakan sebagai perumpaman, ia merupakan padanan dari free-rider, yang kembali lagi artinya adalah orang-orang yang memble dalam amal tetapi ngarep pahala optimal.

Jadi kalau mau berdisiplin, jangan mengubah makna penumpang gelap menjadi orang-orang yang punya tujuan jahat tersembuyi. Sekali-sekali boleh demi bikin ramai. Tetapi terus bertahan dengan salah kaprah bisa berdampak kepala kita yang kelak gelap, segelap waketum-waketum itu.

Contoh sederhana penumpang gelap atau free-rider adalah orang-orang yang kegirangan alami kenaikan upah tetapi selalu mencibir buruh-buruh yang berunjukrasa. Orang-orang sepeti ini gelap juga hati, nalar, jiwa, dan segalanya. Gue sumpahin, lu.

Nah, konteks pilpres dan pemilu kemarin, yang berpeluang menjadi free-rider adalah Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Demokrat. Meski cuma prasangka, saya berani yakin dua partai ini dapat untung suara yang lebih besar dibanding usaha yang mereka keluarkan. Jangan salah sangka. Partai Demokrat dan PKS bisa saja tidak bermaksud menjadi free-rider. Mereka mungkin hanya diuntungkan situasi, atau mereka memang pandai membaca kesempatan. Tak salah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN