Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pantas Ribet, Rupanya Prabowo-Amien Rais Beda Paham Soal Rekonsiliasi

20 Juli 2019   21:35 Diperbarui: 20 Juli 2019   22:00 0 13 1 Mohon Tunggu...
Pantas Ribet, Rupanya Prabowo-Amien Rais Beda Paham Soal Rekonsiliasi
Amien Rais [harianjogja.com] dan Pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT [sindonews.com]

Pantas saja rekonsiliasi jadi pembicaraan berlarut-larut dan tampak begitu sulit bagi sebagian orang dekat Pak Prabowo.  Rupanya pemahaman mereka tentang rekonsiliasi berbeda dengan pemahaman kubu Pak Jokowi dan dengan pemahaman Pak Prabowo itu sendiri.

Hemat saya, pemahaman rekonsiliasi di kubu Jokowi tuntas jika mengacu kepada pidato Visi Indonesia. Rekonsiliasi tidak meniadakan oposisi. Rekonsiliasi menghendaki adanya oposisi yang bermartabat.

Simak kembali bagian akhir pidato 14 Juli itu ("Pidato Lengkap Visi Indonesia Jokowi." Kompas.com. 15/7/2019).

"Dalam demokrasi, mendukung mati-matian seorang kandidat itu boleh. Mendukung dengan militansi yang tinggi itu juga boleh. Menjadi oposisi itu juga sangat mulia. Silakan. Asal jangan oposisi menimbulkan dendam. Asal jangan oposisi menimbulkan kebencian. Apalagi disertai dengan hinaan, cacian, dan makian."

Maka dugaan saya, yang Presiden Joko Widodo maksudkan dengan rekonsiliasi adalah upaya berdamai, saling memaafkan, lalu berkomitmen untuk menjalankan demokrasi secara bermartabat. Yang beroposisi sila mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah tetapi tidak mendasarinya dengan kebencian, dan tidak melakukannya sebagai hinaan, cacian, dan makian.

Saya kira, serupa Jokowi, ini pula rekonsiliasi versi Pak Prabowo, seperti yang disampaikannya dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo.

Coba simak baik-baik pernyataan Pak Prabowo ("Simak Nih! Pernyataan Lengkap Prabowo Saat Bertemu Jokowi." CNBCIndonesia.com. 13/7/2019).

"... kita bersahabat ...berkawan. ... kadang-kadang bersaing, kadang-kadang saling mengritik. Itu tuntutan politik dan demokrasi. Tetapi sesudah berkompetisi dan bertarung dengan keras ... kita tetap dalam kerangka keluarga besar RI. Kita sama-sama anak bangsa. ... patriot ... ingin berbuat terbaik untuk bangsa. ... Kita mengerti banyak hal yang kita harus perbaiki. Intinya ... antara pemimpin kalau hubungannya baik kita bisa saling ingatkan. Kalau beliau mau ketemu saya, ya saya akan manfaatkan untuk menyampaikan hal-hal demi kebaikan bersama."

Jelas dalam pernyataan itu Pak Prabowo tetap akan menempatkan diri sebagai oposisi yang mengkritik kebijakan dan praktik pemerintahan Jokowi (mengingatkan) sejauh ia nilai terdapat kekeliruan. 

Tetapi kritik itu disampaikan dengan kesadaran sama-sama warga bangsa, sama-sama keluarga besar RI. Prabowo memimpin oposisi dan Jokowi memimpin pemerintahan tetap bisa berjalan dalam hubungan baik antara kedua tokoh dan antara pendukung keduanya.  Inilah rekonsiliasi itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2