Mohon tunggu...
Tuan Martinuz
Tuan Martinuz Mohon Tunggu... None is sane but Clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jebakan Batman? Syarat Rekonsiliasi Prabowo Subianto

12 Juli 2019   00:34 Diperbarui: 12 Juli 2019   01:09 2230 13 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jebakan Batman? Syarat Rekonsiliasi Prabowo Subianto
Prabowo Subianto dan Rizieq Shihab [suaraislam.co]

Bahkan pasangan suami-istri cekcok ngambek-ngambekan pun ketika rekonsiliasi butuh syarat ini-itu. Karena itu bisa dimengerti jika Pak Prabowo Subianto juga mengajukan syarat macam-macam sebelum menyodorkan kelingkingnya kepada Pak Jokowi.

Tetapi bahkan pasangan suami-istri cekcok ngambek-ngambekan pun paham, rekonsiliasi berarti para pihak menahan sebagian ego-nya, sebagian rasa benar subjektifnya. Tanpa itu rekonsiliasi mustahil.

Maka syarat yang masuk akal adalah kunci rekonsiliasi. Syarat macam-macam dan aneh-aneh, tak bisa diterima nalar dan nurani adalah pertanda kehendak berdamai sebatas lambe. Atau mungkin saja rekonsiliasi hanya akal-akalan, langkah mengecoh lawan, jebakan batman.

Syarat yang diajukan kubu Pak Prabowo adalah contoh kehendak rekonsiliasi cuma akal-akalan. Pemerintah harus pulangkan Rizieq Shihab, permintaan mereka. Pemerintah harus bebaskan para pendukung Prabowo yang jadi narapidana, tuntut mereka (Merdeka.com, 9/7/2019, "Puan soal Prabowo Minta Rizieq Dipulangkan: Orang Pergi Sendiri.").

Syarat yang seperti itu tidak akan membuahkan rekonsiliasi. Syarat seperti itu justru menyulut kecamuk perdebatan berkepanjangan. Bagaimana bisa pemerintah harus mengeluarkan uang rakyat demi mengembalikan Pak Rizieq Shihab ke tanah air? Pak Rizieq itu sudah dewasa. Ia tahu caranya pulang sendiri. Ia bisa mencari uang sendiri untuk membeli tiket pesawat dan oleh-oleh buat para tetangganya.

Jangankan memfasilitasi Pak Rizieq Shihab pulang ke tanah air. Tidak menangkap Pak Rizieq saja, pemeritahan Jokowi sudah diprotes para pendukungnya.

Jangan pernah dilupakan, saat pergi ke Arab Saudi, Pak Rizieq meninggalkan banyak kewajiban mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Selain dugaan percakapan mesum dan penghinaan Pancasila yang sudah di-SP3 itu, Pak Rizieq masih memiliki sejumlah kasus aktif: penyebaran hinaan dan kebencian suku, agama, ras dan antargolongan (SARA); dugaan penyerobotan lahan milik Perusahaan Umum Perhutanan Indonesia (Perum Perhutani) di Megamendung, Bogor; dan dugaan penyebaran hoaks soal mata uang berlogo 'palu-arit' (CNNIndonesia.com, 5/5/2018, "Nasib Setumpuk Kasus Rizieq Shihab dan Ancaman Praperadilan").

Jika toh Pak Rizieq hendak dipulangkan, konteks yang tepat adalah penjemputan paksa untuk memperlancar proses hukum yang menumpuk berjejer itu. Jadi, bukan bagian dari hajatan politik rekonsiliasi yang mengesankan seolah-olah Pak Rizieq adalah korban pengucilan politik.

Syarat yang kedua lebih-lebih astaganaga lagi. Membebaskan para narapidana? Maksudnya para kriminal penganiaya anak kecil, penyebar kabar bohong, penyebar fitnah dan kebencian agama itu?

Orang-orang itu terpidana, diputuskan oleh pengadilan, lembaga kekuasaan judikatif yang seharusnya haram diintervensi lembaga kekuasaan eksekutif. Apakah Pak Prabowo hendak mengajak Pak  Jokowi menciptakan sejarah baru mengangkangi prinsip-prinsip negara hukum?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN