Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Politik

Menduga Arah Provokasi Lanjutan Amien Rais, Apa Sebaiknya Tindakan Polri?

24 Mei 2019   13:48 Diperbarui: 24 Mei 2019   14:10 0 14 2 Mohon Tunggu...
Menduga Arah Provokasi Lanjutan Amien Rais, Apa Sebaiknya Tindakan Polri?
Amien Rais menyampaikan pernyataan tentang penembakan pengunjukrasa [Instagram.com @amienraisofficial]

"Saudaraku, saya menangis, saya betul-betul sedih tapi juga marah, bahwa polisi-polisi telah menembak umat Islam secara ugal-ugalan. ... Karena itu, saudara Tito, saya atas nama umat Islam minta tanggung jawabmu. Ya, Tito jangan buat marah umat Islam."

Pernyataan Amien Rais, yang disebarluaskan melalui akun instagramnya langsung disambut orang-orang yang mengapitnya dengan seruan takbir. Seseorang beteriak, menyatakan "kami tidak terima. Kami akan melawan".

Pernyataan Amien Rais jelas-jelas merupakan fitnah sekaligus provokasi lanjutan. Pernyataan itu juga telanjang membuktikan kecemasan polisi bahwa ada desain kerusuhan melalui penciptaan martir yang ditudingkan kepada polisi sebagai pelaku penembakan.

Pertama, pernyataan Amien merupakan fitnah selama ia tidak menyampaikan klarifikasi setelah mengetahui penjelasan Kapolri yang disertai rangkaian bukti-bukti tentang skenario penciptaan martir.

Amien Rais pasti tahu tentang penangkapan Eks Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko atas dugaan penyelundupan senjata dan seruan mengepung istana. Amien pasti tahu tentang penangkapan 3 orang di Jakarta dan 2 orang di Sumatera Utara yang membawa senjata api ke tengah pengunjukrasa.

Amien tidak mungkin tidak turut menonton berita atau setidaknya mendengar brief dari orang-orangnya tentang konferensi pers Kapolri Tito Karnavian bersama Menkopolhukam Wiranto dan para pejabat terkait.

Dalam konferensi pers itu Tito katakan Polri akan melakukan pemeriksaan tentang kematian sejumlah orang.  Tito tampak belum bisa memastikan dan karenanya menunggu penyelidikan tentang penyebab kematian dan pelakunya. Tito beberapa kali menyerukan agar masyarakat tidak buru-buru apriori terhadap polisi, menuduh polisi sebagai pelaku penembakan.

Pernyataan Amien Rais boleh jadi merupakan apriori ketika mula-mula disampaikan. Namun ia jadi fitnah jika Amien tidak melakukan klarifikasi dan men-take down tayangan instagramnya setelah setelah penjelasan polri disertai sejumlah bukti tentang adanya skenario penciptaan martir agar unjukrasa berkembang jadi riot.

Kedua, pernyataan Amien Rais adalah provokasi.

"Karena itu, saudara Tito, saya atas nama umat Islam minta tanggung jawabmu. Ya, Tito jangan buat marah umat Islam" dan banyak kalimat lain patut ditafsirkan sebagai seruan kepada umat Islam untuk bertindak menuntut "pertanggungjawaban" polri dan pemerintah.

Tanpa menghiraukan penjelasan polisi dan kenyataan atau bukti-bukti yang menguatkan penjelasan itu, Amien mengeluarkan pernyataan yang berpotensi membenturkan polisi dengan umat Islam. Agar lebih berdaya menggerakkan lagi, ia tempeli label PKI kepada polisi.

Penempelan label PKI ini sejak dahulu kala berfungsi memberikan legitimasi moral kepada aksi-aksi anarkis kalangan Islam yang terprovokasi karena menyangka mereka melakukan tindakan mulia melawan komunis.

Ketiga, pernyataan Amien Rais justru kian membuktikan kecemasan polisi tentang skenario membuat rusuh melalui penciptaan martir.

Sudah ada bukti penyelundupan senjata. Sudah ada bukti orang-orang membawa senjata ke tengah pengunjukrasa. Sudah terbukti massa dibayar untuk menciptakan mental kerumunan, memancing peserta aksi bertindak anarkis. Korban-korban berjatuhan terbukti.

Bahkan terbukti pula satu hal yang mungkin lupa diwaspadai Menkopolhukam dan tim-nya, yaitu desain mendemoralisasi TNI. Ini adalah mata rantai penting dalam memuluskan skenario riot yang berujung pembentukan pemerintahan sementara atau pemerintahan darurat.

TNI harus dibuat demoralisasi agar mau mendukung pihak pelaku gerakan politik inkonstitusional atau setidaknya berdiri di posisi netral. Jika TNI masih berposisi mendukung pemerintahan yang sah, upaya pembentukan pemerintahan darurat--atau maksimalnya kudeta--sulit terwujud.

Upaya mendemoralisasi TNI tampak melalui cara massa bereaksi ketika prajurit TNI berada di tengah-tengah mereka. Dengan mengelu-elukan kehadiran TNI, pesan yang ingin disampaikan adalah "mari berbaris bersama rakyat. Kita lawan pemerintah dan polisi di seberang sana."

Reaksi massa di lapangan mengonfirmasi seruan eks Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko bahwa polisi akan bertindak keras sementara tentara tidak; dan bahwa tentara berpangkat tinggi sudah terbeli pemerintah, sementara tentara pangkat rendahan akan memihak rakyat.

Demoralisasi unsur tentara---berujung memihak kubu gerakan politik inkonstitusional atau minimal netral---adalah mata rantai penting dalam penggulingan kekuasaan. Sikap tentara adalah kunci.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3