Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Benarkah Penyusup? Mobil Ketua GARIS Pernah Prabowo Pakai Kampanye

24 Mei 2019   00:19 Diperbarui: 24 Mei 2019   01:20 0 11 2 Mohon Tunggu...
Benarkah Penyusup? Mobil Ketua GARIS Pernah Prabowo Pakai Kampanye
Prabowo di atas mobil milik Ketua GARIS saat berkampanye di Cianjur [Detik.com]

Polisi menyebut dua kelompok yang memicu kerusuhan dalam unjukrasa 22 Mei 2019. Dari narasi yang dikembangkan media, seolah-olah dua kelompok itu bukan bagian dari pendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Benarkah demikian?

Kelompok pertama yang disebutkan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Mohammad Iqbal adalah organisasi Gerakan Reformis Islam (GARIS). Menurut Iqbal, organisasi ini pernah menyatakan berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), bahkan mengirim anggotanya bergabung dengan ISIS di Timur Tengah.

Kelompok kedua adalah "penyusup" yang membawa senjata api. Polisi menduga kelompok kedua ini hendak menembak pengunjukrasa, menjadikannya sebagai martir yang akan memicu kerusuhan karena rakyat menyangka polisi pelakunya.

Jika berita-berita dari masa sebelumnya dirajut, kedua kelompok ini tidak sungguh-sungguh asing dari tim pemenangan Prabowo-Sandiaga. Dengan kata lain mereka pernah dan patut diduga sedang memiliki irisan dengan Prabowo-Sandiaga, bukan penumpang gelap momentum unjukrasa 22 Mei.

Yang pertama organisasi Gerakan Reformis Islam (GARIS). Ketika Prabowo Subianto mengunjungi Cianjur, 12 Maret lalu, Toyota Vellfire hitam  milik Ketua Garis Chep Hernawan yang ia gunakan pergi-pulang Lapang Prawatasari (tempat helikopter Prabowo mendarat) dan Gedung Assakinah (tempat berlangsungnya pertemuan Prabowo dengan para pendukungnya). Chep turut mengiringi Prabowo dengan Lexus-nya yang sama-sama memiliki sunroof.

Wajib baca, artikel terkait: “6 Hal yang Menggagalkan "2nd Jakarta Riot of May"" dan “Meski Penggeraknya Bilang Damai, Aksi 22 Mei Berpotensi Jadi "Riots""

Penggunaan kendaraan milik Chep sempat jadi polemik di bulan Maret. Warganet menyindir kedekatan Prabowo dengan Chep yang mengaku Presiden ISIS Indonesia itu. Saat itu orang-orang BPN Prabowo-Sandiaga membela diri dengan alasan jika Chep terkait ISIS mengapa ia masih bebas berkeliaran? Benarlah pembelaan diri itu. Chep bahkan tidak pernah dipanggil polisi untuk diperiksa.

Kelompok kedua adalah tiga orang yang membawa senjata api saat kerusuhan unjukrasa 22 Mei di depan gedung Bawaslu, plus 2 pria yang membawa pistol dan sangkur dalam unjukrasa serupa di Bawaslu Sumatera Utara.

Polisi perlu menjelaskan secara terbuka--tentu saja setelah pemeriksaan--apakah orang-orang yang membawa senjata api itu merupakan bagian dari kelompok Eks Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko?

Seperti diberitakan, Soenarko ditangkap TNI dan polisi atas dugaan penyelundupan senjata api. Penyelundupan senjata itu diduga berkaitan dengan unjukrasa 22 Mei. Sebelum kasus penyelundupan senjata terbongkar, Soenarko dilaporkan hendak melakukan makar oleh karena pernyataannya yang memerintahkan massa mengepung KPU dan Istana.

Soenarko adalah salah satu pensiunan perwira tinggi TNI yang mendukung capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Melihat adanya benang merah antara orang-orang yang ditangkap dengan Prabowo-Sandiaga atau setidaknya dengan tim pemenangan Prabowo-Sandiaga, polisi seharusnya tidak buru-buru menyimpulkan para pelaku kerusuhan dalam unjukrasa 22 Mei merupakan bagian terpisah dari mayoritas massa aksi 22 Mei.

Pemeriksaan terhadap Prabowo Subianto dan para tokoh di BPN Prabowo-Sandiaga (terutama Amien Rais dan Kivlan Zen) seharusnya tetap diagendakan. Jika kemudian ditemukan bahwa orang-orang yang membawa senjata api dan pelaku kerusuhan memiliki rantai komando yang bertaut dengan tokoh-tokoh di BPN pun dengan Prabowo Sandiaga, proses hukum harus tetap dilakukan tanpa pandang bulu.

Jangan pernah lagi demi alasan meredakan tensi politik, orang-orang kuat yang seharusnya bertanggungjawab sebagai auctor intellectualis aksi-aksi kriminal politis dibebaskan begitu saja. Tidak boleh lagi kasus-kasus kriminal politis berhenti pada pion-pion di lapangan. Ini saatnya negara menunjukkan kewibawaan.

Namun jika benar Prabowo tidak tahu menahu rencana dan sepak terjang orang-orang di sekelilingnya, namanya harus dibersihkan dari segala tudingan dan prasangka. Bila perlu berikan ia penghargaan sebagai penjaga demokrasi.

Prabowo punya kewajiban mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan hukum (jika terlibat). Ia juga punya hak untuk tidak tersandera prasangka-prasangka (jika tidak terlibat). Hanya proses hukum yang fair mampu mewujudkan hak sekaligus kewajiban Prabowo Subianto.

Sumber:

  1. Detik.com (14/03/2019) "BPN Prabowo: Jika Ketua Ormas GARIS Terlibat ISIS, Kenapa Tak Ditangkap?"
  2. Detik.com (21/05/2019) "Dilaporkan Makar, Eks Danjen Kopassus Soenarko Ditangkap soal Penyelundupan Senjata"
  3. Detik.com (13/03/2019) "Ketua Ormas GARIS Akui Pinjamkan Mobil untuk Prabowo, Tepis Isu Terkait ISIS"
  4. CNNIndonesia.com (23/05/2019) "Polisi Tangkap Tiga Orang Pembawa Senpi di Aksi 22 Mei"