Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Aplikasi IT Iya, tetapi Jangan Lupa Pendampingan GAP

22 Mei 2019   02:52 Diperbarui: 22 Mei 2019   08:37 0 2 2 Mohon Tunggu...
Aplikasi IT Iya, tetapi Jangan Lupa Pendampingan GAP
Salah satu aplikasi teknologi informasi di bidang pertanian [harnas.co]

Masih ingat perdebatan capres Jokowi dan Prabowo tentang manfaat teknologi internet (revolusi 4.0) bagi sektor pertanian? Itu adalah perdebatan dua sisi: Jokowi yang optimis versus Prabowo yang pesimis atau lebih santun kita sebut berhati-hati. Dalam artikel ini saya akan meminjam dua pandangan mereka untuk mendiskusikan problem petani, terutama di Nusa Tenggara Timur, tanah tumpah darah saya.

Dalam debat capres tempo hari, tentang pembangunan pertanian dan pangan di era revolusi industri 4.0, Prabowo menyampaikan kekhawatirannya jika aplikasi teknologi informasi justru memberi keuntungan bagi pelaku industri pertanian namun bukan bagi petani selaku genuine producers. Sebaliknya Jokowi yang optimis memberikan beberapa contoh bagaimana aplikasi teknologi internet seperti market place membantu petani mengakses pasar dan memangkas rantai perdagangan sehingga memperoleh harga produk pertanian yang lebih baik.

Tak terbantahkan, akses informasi sangat dibutuhkan petani. Salah satu manfaatnya adalah petani mengetahui kondisi harga produk pertanian di pasar yang jauh dari desanya, misalnya harga komoditi di pasar internasional atau di kota-kota perdagangan di seberang pulau.

Sudah jamak dipahami, salah satu problem yang membuat harga komoditi pertanian (dalam pengertian luas) di tingkat petani rendah adalah asimetrisnya informasi. Para pedagang (pembeli hasil pertanian) yang lebih mengetahui kondisi pasar dibandingkan petani bisa menetapkan patokan harga tertinggi dan terendah ketika berhadapan dengan petani. Sebaliknya, petani, terutama di daerah pedalaman pasrah menerima berapapun harga yang ditawarkan pedagang sebab mereka tak tahu berapa sebenarnya harga komoditi mereka di pasar luar.

Kondisi ini yang dialami pula oleh petani Vanili di Kabuapaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Demikian yang saya pahami saat sebulan lalu berada di sana, melaksanakan survei pemetaan pasar dan rantai nilai komoditi vanili dan kemiri atas permintaan sebuah organisasi nirlaba.

Selain bertemu petani, saya berkesempatan berdiskusi dengan orang perusahaan pembeli dari Jakarta yang memiliki MoU dengan Pemkab Alor. Si orang perusahaan yang baru saja pulang membeli vanili dari desa pusat vanili di gunung bercerita. Saat ia dan timnya tiba di desa, sudah banyak pedagang yang melakukan transaksi dengan petani. Mereka mengajukan harga permintaan Rp 300.000 hingga Rp 500.000,- untuk vanili basah.

Harga itu tentu saja sangat rendah. Harga vanili kering saat ini berkisar Rp 6-7 juta.

Perlu pembaca tahu, vanili Alor terkenal sangat berkualitas. Dalam kondisi budidaya tanpa mempraktikkan norma budidaya yang baik (good agricultural practices, GAP) saja, panjang vanili di Alor ada yang mencapai 27 cm. Sebuah perusahaan asal India yang membuka anak perusahaan di Surabaya bahkan membeli vanili Alor hanya untuk mencampurkan dengan vanili dari daerah lain agar memenuhi standar penjualan ke konsumennya di Amerika Serikat.

Kata staf perusahaan asal Jakarta tadi, begitu ia tiba dan menginformasikan harga beli vanili basah dari perusahaannya Rp 800.000 per kg, para petani langsung meninggalkan para pengepul yang sudah tiba duluan. Beberapa petani yang sudah terlanjur menjual vanilinya seharga Rp 300-500 ribu merasa menyesal.

Para petani vanili di desa-desa di Alor memang buta kondisi pasar. Meski tahun kemarin harga sudah menyentuh Rp 850.000 per kg vanili basah, mereka tidak tahu apakah harga tahun ini akan sebesar itu. Sebelum orang perusahaan dari Jakarta ini tiba, informasi harga yang mereka tahu hanya bersumber dari para pedagang pengepul yang tentu saja tak akan mau membocorkan harga sebenarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3