Padika
Padika Petani

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Retorika Prabowo Tolak Hasil Pilpres Sulit Dimengerti

15 Mei 2019   22:58 Diperbarui: 16 Mei 2019   01:51 491 4 2
Retorika Prabowo Tolak Hasil Pilpres Sulit Dimengerti
Prabowo [Kompas.tv]

Sungguh sulit diterima nalar, retorika kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terkait penolakan hasil pilpres. Mereka menolak hasil pilpres berbasis tudingan---yang hingga kini tak bisa dibuktikan---bahwa KPU melakukan kecurangan dan sebaliknya menerima hasil pemilihan umum legislatif.

Ketika keganjilan cara berpikir ini ditanyakan ke kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, jubir BPN Andre Rosiade menjawab, itu karena kecurangan dalam pilpres lebih masif dibandingkan dalam pileg.

Jawaban ini lucu karena menurut logika dan dibuktikan pula oleh kenyataan, hasil pileg sebangun hasil pilpres. Boleh dikatakan jumlah suara yang diperoleh parpol-parpol dalam pemilu legislatif adalah triangulasi terhadap perolehan suara pilpres.

Lihat saja! Di daerah-daerah yang diungguli Prabowo-Sandiaga secara signifikan, perolehan suara caleg parpol-parpol pendukung Joko Widodo -Ma'ruf Amin kecil. Demikian pula sebaliknya.

Misalnya di Nusa Tenggara Timur. Di provinsi ini pasangan Jokowi-Ma'ruf menang telak dengan perolehan 2.368.982 suara (88.57 persen), sementara Prabowo-Sandiaga hanya 11,43 persen atau  305.587 suara.

Hasil pilpres ini sebangun dengan hasil pileg. Ambil contoh dalam pemilihan DPR RI. Parpol-parpol di kubu TKN Jokowi-Ma'ruf meraih total 1,9 juta suara (73,88 persen). Sementara di kubu BPN Prabowo-Sandiaga hanya 643 ribu (24,96 persen). Itupun perolehan suara BPN  sudah termasuk Partai Demokrat (202.100 suara).

Di NTT, caleg-caleg Partai Demokrat menjelaskan kepada pemilih bahwa mereka diberi keleluasaan  mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf. Karena itu lebih tepat jika suara Partai Demokrat dikeluarkan dari kumulatif suara parpol-parpol kubu BPN. Jadinya total perolehan suara parpol-parpol kubu BPN  17,12 persen.

Perolehan Suara Parpol dalam Pileg 2019 di NTT [data diolah dari cnnindonesia.com]
Perolehan Suara Parpol dalam Pileg 2019 di NTT [data diolah dari cnnindonesia.com]
Demikian pula halnya di Jawa Timur. Untuk pilpres, pasangan Jokowi-Ma'ruf meraih lebih dari 16 juta suara (65,79 persen dari total suara sah), sementara Prabowo-Sandiaga hanya 8 jutaan suara (30,56 persen).

Hasil ini selaras perolehan suara caleg parpol dalam pemilu legislatif. Total perolehan suara parpol-parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf adalah 15,3 juta sementara perolehan suara parpol-parpol di kubu BPN (sudah termasuk Partai Demokrat) sebesar 6,7 juta.

Coba periksa perbandingan hasil pilpres dan pileg di provinsi yang dimenangkan Prabowo-Sandiaga. Di Sumatera Barat, Prabowo-Sandi menang dengan perolehan suara 2,5 juta  (85.92 persen), sementara Jokowi-Ma'ruf hanya meraih 407.761 suara (14.08 persen).

Senada hasil pilpres, parpol-parpol di kubu BPN Prabowo-Sandiaga berhasil memboyong 10 dari 14 kursi DPR RI (71, 43 persen) yang diperebutkan. Masing-masing adalah Gerindra (3 kursi), PAN (3 kursi), PKS (2 kursi), dan Partai Demokrat (2 kursi). Parpol-parpol di kubu TKN Jokowi-Ma'ruf hanya meraih 4 kursi (28,57 persen), yaitu Golkar (2 kursi), Nasdem dan PPP masing-masing 1 kursi. PDIP dan PKB bahkan sama sekali tidak memperoleh kursi.

Berdasarkan data-data di atas, seorang remaja pelajar sekolah menengah pun bisa mengerti bahwa perolehan suara parpol-parpol dalam pilpres merupakan cerminan atau berbanding lurus dengan perolehan suara capres-cawapres yang mereka usung. Maka menolak hasil pilpres namun menerima hasil pileg adalah sikap yang tidak bisa dipertanggungjawabkan penalarannya.

Dengan bersikap demikian, kubu Prabowo-Sandiaga hanya membuka aib sendiri. Publik akan mengerti bahwa penolakan mereka terhadap hasil pilpres bukan karena sungguh-sungguh terjadi kecurangan yang signifikan merugikan mereka, melainkan hanya karena mereka tak mau menerima kekalahan.

Karena itu  saya tidak yakin ada cukup besar rakyat Indonesia yang akan mudah terhasut ajakan melakukan aksi unjukrasa menolak penetapan sidang pleno perhitungan suara pilpres pada 22 Mei nanti. Mereka yang terlibat hanyalah segelintir yang memang sudah bersikap apapun yang terjadi Prabowo-Sandiaga harus jadi Presiden-Wakil Presiden 2019-2024 sekalipun mayoritas rakyat nyata-nyata menghendaki pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Apakah Anda bagaian dari "kaum pokoknya" ini?***

__

youtube: Kedai Politik Indonesia

__

Sumber:

  1. Kompas.com (15/05/2019) "Jubir BPN Bilang Prabowo Tolak Hasil Pilpres, Bukan Pileg"
  2. CNNIndonesia.com (14/04/2019) "Raup 88 Persen Suara, Jokowi 'Gebuk' Prabowo di NTT"
  3. Detik.com (14/05/2019) "Rekapitulasi Suara KPU: Jokowi Raup 16 Juta Suara di Jatim"
  4. Detik.com (14/05/2019) "Rekapitulasi Nasional KPU: PDIP Tertinggi di Jatim, PKB Kedua"
  5. Sindonews.com (13/05/2019) "Raup 16.077.446 Suara, Prabowo-Sandi Menang Telak di Jawa Barat"
  6. Republika.co.id (14/05/2019) "Pileg Pusat, Gerindra dan PAN Berjaya di Sumbar, PDIP Jeblok"
  7. Viva.co (12/05/2019) "Rekapitulasi Pilpres di Sumbar Selesai, Prabowo-Sandi Menang Banyak"