Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Kampanye Prabowo di GBK, Ingkar Janji dalam Seminggu atau Tak Mampu Pimpin Tim?

12 April 2019   00:03 Diperbarui: 12 April 2019   16:03 0 27 15 Mohon Tunggu...
Kampanye Prabowo di GBK, Ingkar Janji dalam Seminggu atau Tak Mampu Pimpin Tim?
Bendera Besar Rizieq Shihab dalam kampanye Prabowo [Tribunnews.com]

Dalam debat capres keempat, 30 Maret 2019, Prabowo menunjukkan kegusarannya terhadap penilaian masyarakat bahwa dirinya mendukung kelompok garis keras politik identitas, terutama yang berdagang wacana negara khilafah. Membantah itu, Prabowo sampai-sampai membawa nama almarhum ibunya, seorang Kristiani yang taat. Seolah-olah dengan itu Prabowo hendak memberi jaminan kepada rakyat Indonesia, pemerintahannya kelak jika terpilih akan inklusif mengabdi kepada kepentingan seluruh rakyat.

Hanya dalam waktu tepat sepekan, janji itu sudah lancung. Khianat! Kampanye terbuka Prabowo-Sandiaga di Gelora Bung Karno Jakarta sangat kental bau golongan tertentu, yaitu golongan politik garis keras pengusung politik identitas.

Oleh sangat kentalnya aroma eksklusivitas golongan  dalam kegiatan itu, sampai-sampai sekutu Prabowo sendiri, Susilo Bambang Yudhoyono memprotesnya. Dalam suratnya tampak jelas SBY mencemaskan kampanye Prabowo di GBK sebagai salah satu momentum yang memperparah perpecahan bangsa.

Bendera besar bergambar wajah Rizieq Shihab, bahkan setting acara yang menempatkan Rizieq Shihab berorasi pada kesempatan pamuncak yang menutup orasi Prabowo sendiri jelas menunjukkan kepada siapa Prabowo mengabdikan politiknya. Bukan kepada umat Islam sebab mayoritas umat Islam ada di NU yang representasi politiknya adalah PKB dan PPP. Bukan pula Muhammadiyah sebab ormas terbesar kedua itu menyatakan dirinya netral.

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan tak butuh lebih dari seminggu Prabowo sudah ingkar dari kata-katanya sendiri?

Ada dua kemungkinan.

Yang pertama, Prabowo memang bukan a man of his word. Prabowo bukanlah seorang yang bisa dipegang kata-katanya. Ia tidak bisa menunjukkan konsistensi antara tindakannya kemarin, hari ini, dan esok.

Sepekan lalu Prabowo bicara tentang almarhum ibunya yang seorang Krisitani, memaknakan jaminan bahwa dirinya membela insklusivitas antara indentitas agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tujuh hari kemudian, kampanye terbesarnya justru secara terang-benderang mempromosikan semangat eksklusivitas yang bikin SBY alergi dan ngeri.

Baca: "Memahami Kekecewaan SBY terhadap Prabowo"

Namun kemungkinan ini bisa saja salah. Anggaplah Prabowo masih seorang ksatria, a man of his word. Jika demikian maka berlakulah kemungkinan kedua: Prabowo ditelikung. Kegiatan kampanye terbuka di Gelora Bung Karno itu berjalan tidak seturut kehendaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x