Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Ilmu yang Ingin Jomlo Timor Timba dari Jokowi

10 April 2019   00:02 Diperbarui: 10 April 2019   00:33 0 8 5 Mohon Tunggu...
Ilmu yang Ingin Jomlo Timor Timba dari Jokowi
Kampanye Joko Widodo di Kupang, Timor [instagram @Jokowi]

Senin (8/4) kemarin sebenarnya saya ingin sekali menghadiri kampanye terbuka capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin di Kupang. Jika jadi, itu akan jadi pengalaman hadir kampanye politik terbuka yang ketiga kalinya. Sekali pada 1997 (Kampanye PDI), sekali pada 2014 (Pilpres), dan jika jadi ya kemarin itu.

Saya memang jarang menghadiri kegiatan kampanye terbuka dalam konteks politik elektoral. Aneh memang. Padahal saya  seorang politisi. Saya pernah menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu dan wakil ketua kepengurusan tingkat propinsi sebuah partai politik. Juga pernah menjadi calon anggota DPD RI pada usia 29 tahun dan meraih hampir 40 ribu suara dengan modal cekak (duit saya hanya 10 juta saat itu).

Sayangnya niat itu tak kesampaian. Saya sudah punya janji pertemuan dengan majikan yang memberi pekerjaan survei pasar tiga komoditi perkebunan di tiga kabupaten. Di luar pertemuan itu, saya harus mengawasi tukang yang bekerja memperbaiki beberapa hal kecil di rumah, plus menjemput anak dari sekolah.

Namun karena rasa penasaran yang menggebu-gebu untuk mencecap gairah massa menyambut Joko Widodo, saya mencuri sejam untuk mengamati kondisi lapangan. Maka sekitar pukul 11, saya meluncur ke Jalan Timor Raya, tempat lapangan Sitarda berada. Nanti Jokowi akan bicara di sana.

Istilah meluncur sebenarnya sama sekali tak tepat. Sekitar 5 kilometer ke Utara dan Selatan Jalan Timor Raya, ditarik dari Lapangan Sitarda sebagai poros, jalan raya sudah penuh jejalan kendaraan yang mengangkut orang berkaos aneka parpol pun kaos bergambar wajah Jokowi-Maruf Amin. Penumpang motor dan mobil truk membawa serta banyak macam bendera parpol dan tim relawan. Jalan Timor Raya tiba-tiba berubah seperti jalan-jalan di Jakarta. Kendaraan merayap. Demikian pula di bahu jalan, orang-orang berkaos dukungan kepada Jokowi terus mengalir. Kelak media memberitakan, puluhan ribu orang membanjiri Lapangan Sitarda.

Syukurlah, di Kupang tak ada politisi aneh yang tega mempolitisasi agama hanya demi menghadirkan banyak massa dalam kampanye. Jika tidak, sudah tentu satu kelurahan Lasiana, tempat lapangan Sitarda berada, tak akan sanggup menampung massa.

Ruas jalan persis di depan Lapangan Sitarda sudah nyaris macet total. Padahal Jokowi belum lagi tiba. Beberapa orang politisi muda melambaikan tangan kepada saya. Saya mencari celah menepi. Mereka mendekat.

Kami bercakap-cakap sebentar. Salah seorang melempar gurauan bahwa kawan di sampingnya, caleg DPRD yang masih menjomlo berencana ajukan pertanyaan kepada Jokowi. "Apa kiat Bapak mendapat istri hebat?" Katanya ilmu itu penting sebagai bekal jadi bupati di kemudian hari.

Meski bergurau, para politisi muda yang saya jumpai kemarin itu mengungkapkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran first lady. Pembawaan diri first lady bisa membuat suami kian dicintai atau malah sebaliknya dibenci. Ini sudah jamak. Jangankan capres, seorang calon kades pun sering publik nilai dari perangai dan pembawaan diri suami/istrinya.

Di Amerika Serikat, begitu yang digambarkan media massa, peran first lady sangat penting dalam menyokong karir politik suami. Michelle Obama, misalnya, disebut-sebut sebagai senjata rahasia Obama.

Kadang-kadang, ketika popularitas suami jatuh di saat-saat akhir masa kepresidennya, first lady justru meninggalkan gedung putih dengan tingkat popularitas dan kecintaan lebih tinggi dibandingkan suami. Ketika meninggalkan gedung putih, tingkat kecintaan publik AS terhadap Michelle Obama 9 persen di atas raihan Obama sendiri. Begitu pula istri dua presiden ayah-anak Bush. Ketika dua Bush mengakhiri masa jabatan dengan kekecewaan publik yang tinggi, istri-istri mereka justru meraih simpati besar. Barbara Bush 85 persen, Laura Bush 73 persen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4