Mohon tunggu...
Tuan Martinuz
Tuan Martinuz Mohon Tunggu... None is sane but Clown

Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

OTT Romahurmuzyi Mantapkan Pilihan Dukung Jokowi

19 Maret 2019   15:03 Diperbarui: 20 Maret 2019   01:44 1015 16 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
OTT Romahurmuzyi Mantapkan Pilihan Dukung Jokowi
Ketua Umum PPP Romahurmuzyi [diolah dari Law-Justice.co]

Politisi terjaring OTT KPK itu bukan peristiwa luar biasa. Biasa saja. Termasuk OTT Romahurmuzi, politisi muda ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang melejit popularitas pribadinya semenjak ia dan parpolnya pindah haluan mendukung Jokowi. Begitu saya memandangnya.

Politisi--sekelas ketua parpol sekalipun--terjaring operasi tangkap tangan KPK itu cuma persoalan siapa yang sedang apes. Ironi memang. Tetapi begitulah yang terjadi jika politik hanya diisi para politicker, orang-orang yang mengejar kekuasaan bukan demi pewujudan gagasan-gagasannya akan kehidupan publik yang lebih baik.

Yang bikin menarik justru reaksi kawanan politisi terhadap peristiwa OTT tersebut. Kalau kita mengikuti perkembangan berita penangkapan para politisi dalam satu dua tahun terakhir, entah karena kasus asusila, penggunaan narkotik, penipuan, kekerasan, pun korupsi, tampak cukup jelas bahwa ternyata respon terhadap peristiwa itu juga ada polanya, terpolarisasi berdasarkan perkoncoan politik di seputar pilpres.

Kubu pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno lazimnya menanggapi urusan hukum yang menyeret konco-konconya sebagai kriminalisasi. Sebaliknya kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin lebih legawa dan menghormati proses hukum.

OTT Rohmy ini salah satu contohnya. Rohmy adalah tokoh sangat penting di kubu Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Boleh dikatakan ialah tokoh kunci di balik perjodohan capres Joko Widodo dengan cawapres KH Ma'ruf Amin. Silakan Om-Tante periksa lagi berita-berita menjelang penentuan cawapres di kubu Jokowi.

Di masa-masa awal koalisi Jokowi, beberapa pekan sebelum dan setelah pengumuman KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres pendamping Jokowi, Rohmy bahkan terlihat sebagai juru bicara utama Jokowi.

Di depan publik, Rohmy lebih terlihat sebagai politisi yang menghubungkan Jokowi dengan para ulama NU dibandingkan Cak Imin misalnya. Gara-gara itu, Rohmy pernah disindir Fadli Zon lewat puisi sebagai makerlar doa.


OTT Rohmy tentu sangat merugikan kubu Jokowi, terutama dalam konteks hilangnya mata rantai penting yang menghubungkan TKN dengan PPP. Boleh saja kita menduga, tanpa Rohmy, akan sulit menjaga sebesar-besarnya onderdil PPP sebagai mesin politik bergerak seirama menyokong pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Maka sudah jelas OTT Rohmy merugikan TKN. Karena merugikan, lazimnya reaksi TKN adalah jengkel, bahkan mungkin pula marah dan menduga macam-macam tentang KPK. Apalagi jumlah duit yang terlibat di balik kasus Rohmy seujung kuku saja dibandingkan kasus-kasus OTT lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN