Tilaria Padika aka George
Tilaria Padika aka George Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Rizieq Shihab Dikerjai BIN? Dari DPR hingga Warganet Meragukannya

9 November 2018   13:14 Diperbarui: 9 November 2018   14:34 1642 32 15
Rizieq Shihab Dikerjai BIN? Dari DPR hingga Warganet Meragukannya
Rizieq dijemput polisi Arab Saudi dan bendera mirip punya ISIS di kediaman sederhananya di Mekah [Tribunnews.com]

Penahanan dan pemeriksaan Rizieq Shihab oleh polisi dan intelijen Arab Saudi Al-(Mabahith Al-Aammah) adalah peristiwa yang merugikan baik bagi para pengikut Rizieq Shihab pun kelompok politik yang mengambil untung dari figur Rizieq.

Peristiwa memalukan ini membongkar kenyataan bahwa Rizieq bukan siapa-siapa, jauh dari gembar-gembor kedekatan dengan penguasa Arab Saudi yang digaungkan lingkaran dalam Rizieq dan para politisi pedagang figurnya.

Orang-orang itu memiliki motif untuk segera menutupi kabar memalukan ini. Cara yang lazim adalah menciptakan kabar baru yang lebih sensasional. Hebatnya orang-orang ini merancang isu yang berfungsi ganda: menaikkan lagi pamor Rizieq Shihab sekaligus menyerang pemerintahan Joko Widodo.

Maka dibuat isu bahwa bukan Rizieq yang menempelkan bendera ISIS atau HTI di dinding tempat tinggalnya, melainkan Badan Intelijen Negara (BIN).

Menyeret-nyeret nama BIN dalam persoalan ini diharapkan akan berdampak pada naiknya pamor Rizieq Shihab, seolah-olah ia musuh negara, seolah-olah hanya demi Rizieq Shihab, lembaga intelijen harus repot-repot membuang sumber daya untuk bikin operasi.

Kelemahan dari pilihan isu ini adalah ahistoris.

Para penyebarnya lupa bahwa sebelum masa Pemerintahan Joko Widodo, FPI dipandang sebagai perpanjangan tangan aparatur koersif negara (polisi dan tentara).

Ini adalah kenyataan yang sederhana. Dahulu FPI adalah bagian dari PAM Swakarsa, organisasi binaan militer yang dimobilisasi untuk membantu tentara dan polisi menjamin pelaksanaan Sidang Istimewa MPR 1998 dari ancaman kegagalan oleh masifnya protes gerakan mahasiswa pro-demokrasi. 

Di bawah payung PAM Swakarsa, FPI menjadi milisi sipil bersenjata yang merepresi gerakan mahasiswa pro-reformasi saat itu. Cukup banyak bentrokan terjadi antara FPI melawan mahasiswa dan rakyat yang menuntut penuntasan agenda reformasi pasca lengsernya Soeharto.

Pengakuan Kivlan Zen tentang pembentukan PAM Swakarsa, organisasi payung yang mewadahi FPI [Liputan6.com]
Pengakuan Kivlan Zen tentang pembentukan PAM Swakarsa, organisasi payung yang mewadahi FPI [Liputan6.com]
Dahulu, PAM Swakarsa (FPI di dalamnya) boleh saja garang menghadapi gerakan mahasiswa, namun bagi rakyat yang menghendaki perubahan, mereka bukan apa-apa.

Para aktivis dan pekerja pers tentu masih ingat dua peristiwa PAM Swakarsa (FPI di dalamnya) babak belur dihajar massa rakyat. Peristiwa pertama pada Hari Pahlawan 1998, ribuan rakyat Bendungan Hilir mengepung ribuan massa PAM Swakarsa hingga akhirnya aparat keamanan mengevakuasi pasukan sipil peliharannya itu, pontang-panting menyelamatkan diri.

Beberapa hari berselang, rakyat kembali memberi pelajaran kepada milisi-milisi peliharaan aparat orde baru ini yang ketika itu menghadang demonstrasi mahasiswa di Jembatan Cawang. Massa rakyat yang awalnya hanya menonton aksi mahasiswa menjadi marah melihat penghadangan oleh tentara, polisi, dan PAM swakarsa bersenjata. Rakyat turun tangan membantu mahasiswa, melawan dengan kayu dan batu. Tiga orang anggota PAM Swakarsa tewas.

Semasa Gus Dur, PAM Swakarsa dibubarkan. Mulailah era organisasi-organisasi eksponen PAM Swakarsa mencari makan sendiri-sendiri.

Hubungan mereka dengan aparat berubah dari hubungan formal kelembagaan menjadi sekedar relasi dengan oknum-oknum. Sejumlah nama perwira tinggi TNI dan kepolisian yang disebut-sebut terlibat dalam pembentukan PAM Swakarsa ditenggarai masih menjalin hubungan "proyek" dengan kelompok-kelompok milisi ini. Sebut saja nama-nama seperti Kivlan Zen,  Adityawarman,  Djadja Suparman, Noegroho Djajoesman. Hingga kini nama-nama ini masih satu kubu dalam politik.

Rizieq Shihab dan para politisi yang mengambil untung dari jualan figurnya [Tribunnews.com]
Rizieq Shihab dan para politisi yang mengambil untung dari jualan figurnya [Tribunnews.com]
Pada masa Joko Widodo, pemerintah dan aparat keamaan tampak berusaha membersihkan diri dari hubungan dengan kelompok-kelompok milisi ini. Para perwira tinggi yang dahulu dipandang sebagai backing kelompok-kelompok milisi telah purnawirawan dan ditendang keluar dari lingkaran kekuasaan, berkumpul sebagai oposisi.

Di bawah pemerintahan rezim sipil demokratis Joko Widodo, negara bertindak lumayan tegas. Bekas perwira tinggi seperti Kivlan Zen dan Adityawarman ditangkap polisi dengan tuduhan makar.

Nah, jika bekas orang-orang kuat militer yang dianggap pelindung FPI saja bisa ditangkap-tangkapi polisi maka jika pemerintah mau, urusan menggebuk Rizieq Shihab cs adalah perkara mudah dan dilakukan terang-terangan, tak perlu operasi intelijen segala.

Karena itu banyak orang yang tertawa mendengar isu yang ditiupkan bahwa Rizieq Shihab korban operasi intelijen.

Komisi I DPR, yang membidangi urusan luar negeri dan intelijen meyakini tak ada skenario pemerintah, apalagi operasi intelijen, dalam pemeriksaan Rizieq.

Komisi I DPR menyatakan dugaan adanya operasi BIN sebagai spekulasi yang kejauhan. Komisi I minta BIN segera mengeluarkan pernyataan resmi agar rakyat tidak ikut tertipu dengan kabar yang dihembuskan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2