Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Politik

Soal Pesantren, Om Capres Jangan "Lebay" donk!

15 Oktober 2018   15:52 Diperbarui: 15 Oktober 2018   16:21 0 7 4 Mohon Tunggu...
Soal Pesantren, Om Capres Jangan "Lebay" donk!
Politisi nyekar ke makam, ilustrasi [Diolah dari Detik.com]

Dalam momentum politik elektoral seperti Pemilu, pilpres, hingga pilkada, pesantren tiba-tiba jadi magnet yang menarik perhatian para politisi. Jika sebelumnya jarang-jarang pesantren dikunjungi, kini kyai dan pengasuh pesantren kerepotan menerima tamu politik yang mendadak akrab.

Pesantren dikerubungi politisi itu wajar saja. Sebabnya bukan sekedar karena pesantren banyak santrinya. Pada sebagian kelompok masyarakat, kyai yang membina pesantren menjadi rujukan bersikap, termasuk dalam preferensi politik. Ke mana kyai berpihak, ke sana pula para santri dan masyarakat di sekitar pesantren turut mengarah.

Karena itu kita mengerti jika kunjungan capres-cawapres ke pesantren pasti bertujuan politik. Ada udang di balik batu alias ada ngarep amin di ujung  doa, terselip kartu nama di timbunan kembang rampai.

Namun lucunya ada-ada saja politisi yang membantah jika kunjungannya ke pesantren tak terkait politik.

Misalnya baru saja diberitakan, ada capres-cawapres yang juru bicaranya mengklaim kunjungan sang capres ke pesantren untuk minta doa restu, bukan berkampanye.

Baiklah, kita bisa mengerti alasan si jubir sampaikan itu. Pesantren sebagai lembaga pendidikan bukan tempat berkampanye. Lagi pula selama capres-cawapres tidak menyampaikan visi-misi dan mengajak kyai dan santri memilihnya, secara definisi itu bukan kampanye.

Tetapi menjadi tidak masuk akal ketika si jubir tambahkan bahwa bahkan doa Sang capres pun tidak terkait politik. Katanya sudah sejak masih serdadu, si capres rajin kunjungi ulama untuk minta doa. Doa untuk tembak orang, Ncang?

Si jubir sudah pasti becanda. Mungkin juga ia menyangka rakyat terlampau bodoh sehingga percaya atau mungkinkah karena sudah terbiasa melempar hoaks? Bagaimana mungkin keliling ratusan pesantren di masa kampanye pemilihan presiden tidak terkait politik?

Di musim politik seperti ini, politisi tiba-tiba rajin tersenyum dan menyapa tetangga, sering-sering mengangguk pada asisten rumah tangga orang yang sedang menyapu di halaman rumah pun politis motifnya, berharap citra baik dan kelak dipilih.

Tak perlu membangun alasan lebay untuk menutupi pencitraan dan berharap dukungan. Tak usah munafik. Apa adanya saja. Semua orang juga tahu capres-cawapres pasti sangat berharap dipilih rakyat. Itu sebabnya mereka hilir mudik melakukan banyak hal positif di tahun politik seperti ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x